Bagaimana rasanya mengunjungi tempat yang dulu pernah, bahkan sering kita lalui? Tentu punya nostalgia atau kenangan. Dan kenangan itu bisa jadi sentimental tersendiri bila kita melakukan napak tilas. Apalagi bila tempat itu dulu sering jadi tempat yang sering dilewati bersama dengan orang-orang terkasih.
Tiga setengah tahun secara terus-menerus bukanlah waktu yang lama, tapi juga bukan tempo yang sedikit untuk menghabiskan sebagian umur saya di kota Bogor. Sebelumnya saya juga sudah pernah selama delapan bulan bekerja di salah satu perumahan yang sekarang ada wahana hiburannya yang bernama The Jungle, tapi waktu itu berdiam di Citeureup, salah satu kecamatan dalam kabupaten Bogor. Selama jangka waktu itu banyak hal manis yang saya nikmati, tidak sedikit hal pahit yang juga saya alami. Kejadian manis akan jadi selalu dikenang, peristiwa pahit diambil hikmahnya dan dua-duanya terpatri dalam kenangan abadi dalam memori seorang Alris.
Nah, pagi ini 16 September 2011, saya sengaja melakukan napak tilas kecil-kecilan untuk mengenang secuil sejarah hidup yang saya lalui di kota Bogor. Mumpung ada kesempatan, pas lagi berada di kota Bogor dan ada kendaraan sepeda motor Honda SupraFit buatan 2007 yang setia menemani kemanapun saya bepergian selama dalam masa pengacara (pengangguran berbuat acara) ini. Begitulah rupanya kalau tukang bangunan lagi gak punya pekerjaan, bisa aja ngelayap suka-suka.
Keluar dari area kantor pemerintahan kotamadya yang salah satu ruangannya yang cukup besar, dipakai buat ruang siar dan ruang perangkat radio pemdakot setempat, Jalan Pajajaran sudah membentang. Saya ambil arah ke terminal bus Baranangsiang. Melewati Rumah Sakit Azra saya jadi sentimental dan hati jadi berteriak. Berteriak sejadi-jadinya, memori lama memanggil-manggil, lalu keluarlah kenangan menjelang kelahiran anak kedua saya. Pertengahan tahun 2007 sampai awal tahun 2008, rumah sakit ini adalah rujukan untuk pemeriksaan kehamilan yang kedua buat istri. Juga disinilah anak kedua saya, Rizki Nur Arina, dilahirkan. Terbayang ketika saya mengantarkan istri memeriksakan kehamilannya: antri mendaftar, menunggu di poli ibu hamil, menemani konsultasi dengan dokter kandungan dan antri lagi mengambil obat di apotik di rumah sakit itu. Terbayang juga kelakuan anak pertama saya, Ilma Nur Aulia, yang suka ngelayap dan tidak betah diam di ruang tunggu rumah sakit itu. Dia suka menengoki ruang tunggu bersama untuk beberapa poli yang tidak berada jauh dari ruang pendaftaran, karena di ruang tunggu itu banyak anak-anak seusianya yang ikut orang tuanya yang lagi menunggu panggilan untuk pemeriksaan dokter. Ilma suka sekali memalak ayahnya untuk dibelikan susu dan cemilan di toko kecil yang ada disamping ruang apotik rumah sakit itu. Ah, anakku…
Lalu layar didepan mata saya memutar film ketika saya menunggui istri melahirkan anak kedua. Kami yang hanya berempat: saya, istri, mertua dan anak saya tertua, -Ilma-, sabar menunggu datangya waktu melahirkan itu. Istri saya yang masuk ruang persalinan jam sembilan pagi, baru melahirkan mendekati waktu magrib. Deg-degan menunggu apakah yang brojol anak laki atau anak perempuan akhirnya terjawab tanpa spekulasi, kepastian jenis kelaminnya bisa saya saksikan sendiri diruang persalinan itu. Saya yang ikut menunggui persalinan, ikut memegangi tangan istri ketika mengejan untuk mengeluarkan sibuah hati, membesarkan hatinya dengan penghiburan kata-kata, mengelap keringatnya, sesekali membelai rambutnya untuk sekedar memberikan rasa nyaman. Dan disitulah untuk kedua kalinya saya menyaksikan perjuangan antara hidup dan mati seorang anak manusia untuk melestarikan keturunannya yang hanya punya dua pilihan: hidup atau mati. Kalau sang ibu beruntung, jatah hidupnya di dunia belum habis, maka selamatlah dia. Sebaliknya yang terjadi maka tamatlah riwayatnya, tidaklah ada kesempatan sang anak untuk merasakan kasih sayang sang ibu, bahkan air susu pertamapun tidak dia rasakan. Disitu jugalah saya menyaksikan kebenaran insting seorang anak kecil. Sebelum kelahiran, saya bertanya kepada anak pertama saya, Ilma, apakah adiknya yang lahir nanti laki-laki atau perempuan. Tanpa ragu dia menjawab, bahwa adiknya adalah perempuan. Setelah perjuangan melelahkan dan menyakitkan akhirnya istri saya melahirkan anak kedua dan nyatalah dia seorang perempuan. Saya bersyukur anak saya lahir selamat ibunyapun dalam keadaan selamat. Setelah bayi saya dibersihkan perawat, saya memanggil anak tertua saya, Ilma, untuk masuk ke dalam kamar persalinan. Perawat memberikan bayi nan sehat yang cantik itu kepada saya untuk digendong. Saya gendong, lalu memperlihatkan kepada kakaknya. Oh… alangkah gembiranya Ilma demi melihat bayi berkulit putih bersih itu, lalu dia meraba-raba tubuh sikecil dengan hati-hati. Kemudian bayi yang menggemaskan itu saya taruh di tempat tidur bayi dan saya kumandangkan azan untuk pertama kali diawal kehidupannya di dunia ini.
Sepeda motor saya melaju melewati Rumah Sakit Azra yang banyak kenangan itu. Secuil fragmen kehidupan saya tertinggal di rumah sakit itu dan akan terus abadi. Sampai di lampu merah pertigaan Jalan Pajajaran dengan Jalan Ahmad Sobana, -sebelum berganti nama Jalan Ahmad Sobana ini bernama Jalan Bangbarung Raya- saya berbelok ke kiri memasuki kawasan perumahan. Memasuki jalan membelah perumahan Tamara Duta kembali satu kejadian masa lalu melintas. Di pertigaan lampu merah saya pernah disemprit dan diberhentikan pak polisi karena membawa penumpang tanpa helm. Kalau saya, sih, memakai helm. Nah, sipenumpang ini lagi hamil delapan bulan dan diantara penumpang dan saya ada anak kecil berumur tiga tahun yang juga tidak pakai helm. Demi menghormati pak polisi saya meminggirkan sepeda motor yang saya piloti. Bertanyalah pak polisi kenapa penumpangnya tidak pakai helm. Saya jawab kalau kami terburu-buru, kejepit waktu pemeriksaan kandungan. Dokter yang akan memeriksa hanya punya waktu sampai jam sekian sementara kami yang datang dari arah perumahan Tamara Duta benar-benar sudah kasip sehingga tidak sempat mengambil helm. Pak polisi tidak menerima alasan saya. Maka bernegosiasilah saya dengan salah satu pak polisi yang menangkap saya, memohon pengertiannya, demi kemanusian mengantar ibu hamil dan bla..bla..bla.. lainnya. Akhirnya pak polisi melepaskan saya tidak kena tilang. Dengan mengucap terima kasih dan salam tempel saya menaiki sepeda motor kembali mengantarkan penumpang menuju Rumah Sakit Azra. Penumpang itu adalah anak dan istri saya. Sepeda motor itu masih setia mengantar saya sampai saat ini, lampu merah itu masih tetap ditempatnya masih menyala, pak polisinya bisa jadi sudah dipindahkan tugas, dan saya juga sudah melanglang buana ke beberapa tempat di bumi Indonesia. Saya dilanda kesepian dan kesedihan menatap lampu merah itu, ada yang hilang dalam hidup saya. Tapi lampu merah itu tak peduli…
Sepanjang jalan semi boulevard yang merupakan jalan utama yang membelah perumahan Tamara Duta itu saya lihat banyak bangunan komersial yang sudah didirikan. Dahulu di sepanjang jalan itu masih banyak rumah hunian, hanya sedikit bangunan yang berfungsi sebagai tempat usaha. Sekarang kebalikannya sedikit rumah tinggal, banyak rumah yang sudah dirubuhkan, lalu sebagai gantinya berdirilah ruko. Atau rumah yang dialih fungsikan menjadi tempat usaha, misal sebagai tempat makan, toko, tempat kongkow alias kafe, distro, klinik perawatan dan salon. Walau banyak bangunan yang mengorbankan pohon-pohon dipinggir jalan itu tetapi udara jam setengah tujuh pagi itu tetap menghembuskan udara yang menyejukkan. Paru-paru saya dipasok udara bersih yang menyehatkan raga. Dalam hati saya berharap semoga Bogor tetap mempertahankan banyak pohon.
Sampai diujung Jalan Ahmad Sobana terdapat pertigaan, belok kiri jalan ke Warung Jambu, belok kanan jalan memasuki perumahan Indraprasta dan jalan tembus ke perumahan Vila Duta. Saya berbelok ke kanan memasuki Jalan Achmad Adnawijaya, dahulu jalan ini bernama Jalan Pandu Raya. Di Jalan Achmad Adnawijaya ini dulu ada sebuah rumah milik salah seorang personil band Ungu yang sering digunakan sebagai tempat kongkow anggota perkumpulan penggemar motor gede, sehingga sering saya dapati motor gede parkir di pinggir jalan depan rumah itu. Di rumah itu dulu juga kalau sore sampai malam berjualan makanan yang khas. Rumahnya dulu diberi nama Imah Hejo. Sekarang rumahnya masih bercat hijau tapi tidak berjualan lagi dan sewaktu saya lewat tidak ada motor gede yang parkir. Mungkin rumahnya sudah dijual personil band Ungu itu, sehingga anggota perkumpulan motor gede itu pindah markas. Begitulah pikiran saya tentang rumah itu.
Ada yang menggembirakan saya tentang Jalan Achmad Adnawijaya ini, banyak pohon tumbuh semakin besar di median jalan yang berbentuk bahu jalan ini. Walau didominasi pohon bintaro tak apalah, nampaknya pengembang perumahan ini ikut sadar akan pentingnya memelihara pepohonan sebagai pengurai udara beracun menjadi udara bersih, penyerap panas sinar matahari dan penahan air tanah. Seiring perkembangan penduduk dan kebutuhannya, orang juga jeli melihat kesempatan bisnis yang ada, maka berdirilah bangunan komersial untuk usaha atau rumah yang disulap jadi tempat usaha. Jalan Achmad Adnawijaya ini dulu sering saya lewati kalau mau menuju terminal Baranangsiang, Pasar Anyar, Pasar Ramayana, Pasar Bogor, Pasar Warung Jambu dan Botani Square kalau mau ke Jakarta memakai bus, ada keperluan logistik rumah tangga atau mengantar anak saya yang tertua berwisata ke mal terbesar di kota Bogor itu. Menyusuri jalan ini saya menyusuri masa lalu, kenangan tak bisa dienyahkan. Saya bergelut dengan emosi dan terpuruk dalam nostalgia masa lalu. Anak-anakku, sehat sejahteralah engkau hendaknya. Aamiin…
Saya meneruskan perjalanan berkendara sepeda motor sampai di jembatan yang melintasi jalan tol exit kota Bogor. Saya berhenti sebentar di atas jembatan itu memandang terminal bus Baranangsiang yang ada di ujung jalan tol itu. Sebentar kemudian saya melanjutkan perjalanan memasuki Jalan Kol Achmad Sham. Nah, jalan di kampung Sawah ini dulu bernama jalan baru Vila Duta. Tidak banyak perubahan yang terjadi di lahan sebelah kiri jalan ini, masih banyak lahan kosong. Sebelah kanan jalan perumahan Vila Duta masih berdiri megah. Saya memasuki perumahan Vila Duta dengan angan kapan saya memiliki rumah megah seperti yang banyak terdapat di perumahan ini. Saya suka perumahan ini karena masih banyak pohon, bersih, dan jalannya masih bagus, -walau berlobang dibeberapa tempat. Angan memiliki rumah di komplek perumahan ini telah membawa saya memasuki exit komplek. Saya mengambil jalan arah ke jalan utama yang membelah kota Bogor yang menuju Tajur. Di persimpangan bundaran Sukasari saya lihat kemacetan sudah mulai menyesakkan kota Bogor. Dan dipersimpangan itu cerita nostalgia ini saya khatamkan.














