Loe Ada Nyali Gak..!
Matematika keberhasilan dalam bisnis itu sederhana. Anda tidak memerlukan aljabar atau kalkulus untuk mengurai rumusnya. Betapa banyak tokoh bisnis, konglomerat, orang kaya pemilik beragam bidang usaha yang bahkan tidak mengerti apa hitungan rumit yang bikin kepala nyut-nyutan, puyeng dan membuat mata cepat pakai kaca mata minus itu. Hitungan atau rumus keberhasilan dalam mencapai kejayaan berbisnis ditemukan oleh pelakunya sendiri-sendiri. Tidak akan sama rumus keberhasilan dalam berusaha yang ditemukan dan diaplikasikan oleh seorang Liem Sioe Liong dengan cara yang ditempuh oleh Chairul Tanjung, misalnya. Masing-masing, mereka, pastinya punya metode dan jalan sendiri yang sesuai dengan kondisi dan jaman mereka. Ya, masing-masing punya kiat tersendiri.
“Ya, jelas beda. Yang satu mulai usaha dengan dagang pikulan dari kampung ke kampung di jaman sebelum kemerdekaan. Yang lain mulai bisnis ketika alat pikulan sudah mulai dimusiumkan. Yang satu lahir dan besar di Fukien, Tiongkok, kemudian diumur yang sangat muda merantau ke Jawa ikut pamannya berdagang minyak kacang di Kudus, Jawa Tengah. Yang lain lahir dan besar di Jakarta, lalu merintis usaha bersama keluarga di kota metropolitan,” seseorang mengkhotbahi saya sedikit bersemangat seperti Bung Tomo akan memulai orasi. “Mbok, ya, cari perbandingan itu yang setara. Sama jamannya, sama kondisinya, kalau perlu sama pendidikannya,” seseorang itu masih semangat nambahin khotbah yang tanpa mimbar itu.
Baiklah, baiklah! Kita tidak perlu berdebat dengan seseorang itu yang tidak begitu jelas identitas aslinya. Seseorang itu adalah semacam OTB (organisasi tanpa bentuk) dijaman seseorang yang pernah mencalonkan diri jadi cawapres ketika masih jadi mentri. Ambil saja sisi positifnya, bahwa masih ada orang yang peduli dan mau mengingatkan kita akan kekurangan diri. Jangan under estimate. Belum apa-apa sudah curiga, mendahului peristiwa yang belum terjadi. Memprediksi hal negatif yang belum tentu adanya. Ya, seperti kecurigaan presiden negeri ini sewaktu mendengar akan ada demonstrasi besar-besaran memperingati hari anti korupsi sedunia, lalu “dikritisi” bahwa akan ada upaya politik dibalik demonstrasi itu untuk menggoyang pemerintah yang sah. Stop! Kawan. Berhentilah menyemai hal-hal negatif ke dalam kehidupan. Mari berpikiran positif. “Jangan undang pikiran negatif ke dalam kehidupan anda,” kata buku The Secret karangan Rhonda Byrne dan konco-konconya.
Oh, jadi sederhanakah resep manjur untuk berhasil dan jaya gilang-gemilang dalam bisnis dan segi lain kehidupan. Belum tentu juga. Tiap pribadi punya jalan dan cara sendiri dalam menemukan dan mengaplikasikan resep jitu itu. Tidak akan pernah sama tiap individu. Kalau resep jitu itu bisa digeneralisasikan, bisa dipakai semua orang, maka menurut ALRIS angka kemiskinan alias jumlah orang miskin bin melarat di negeri ini yang dulu pernah punya slogan gemah ripah loh jinawi, tidak akan sejumlah penduduk suatu negeri di Eropah. Bahkan mungkin jumlah penduduk miskin kita bisa untuk membuat dua atau negara kecil. Sungguh banyak, bukan angka mainan. Kalau gak paham tanyalah ke BPS.
Apakah rumus sederhana yang tanpa hitungan matematika ruwet itu. Saya sedang berusaha menemukannya. Kalau saya sudah jadi richman, rich dad, -artinya saya wis dadi wong sugih- saya akan bagi-bagikan secara gratis kiat-kiat itu. Akan saya adakan seminar, training, workshop atau apapun nama dan bentuknya tanpa bayar. Bila perlu sayalah yang membayar para peserta. Lha, wong sugih, tho! Masa orang kaya juga minta bayaran untuk bagi-bagi ilmu dan kiat supaya orang lain bisa kaya. Kalau anda masih ngemis minta bayaran untuk bagi-bagi ilmu, ya, maaf-maaf kate nih ente blon kaya.
Saya ingin seperti kostum Barcelona, tempat nampangin logo Unicef tapi ga dibayar, malah membayar sekian juta euro pertahun untuk badan PBB itu. Bagi saya itu keren, dimanfaatkan orang lain tapi kita membayar untuk itu. Amazing…..
Segala sesuatunya dimulai dari pikiran. “Satu-satunya asset yang paling kuat kita miliki adalah pikiran kita. Jika pikiran dilatih dengan baik, ia dapat menciptakan kekayaan yang luar biasa dalam waktu yang kelihatannya singkat. Kekayaan yang melampaui impian para raja dan ratu 300 tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terlatih juga dapat menciptakan kemiskinan yang ekstrem yang akan terus berlanjut dengan mengajarkannya pada keluarga mereka,” kata Robert Kyosaki dalam buku Rich Dad Poor Dad. Nah, baca baik-baik ajaran sang suhu kiat jadi kaya ini, kawan. Pikiran! Camkan itu, sekali lagi pikiran.
Apapun kondisinya, dunia selalu menawarka peluang. Ya, peluang yang selalu ada sepanjang hidup, bahkan sepanjang hari. Tetapi sangat sering kita tidak melihatnya, karena kita melihatnya dengan mata. Kita tidak melihat peluang itu dengan pikiran.
Krisis bisa datang dan pergi, pasar boleh naik atau turun, investasi bisa datang kapan saja dan hengkang sesuka hatinya, perekonomian tumbuh fantastis diluar dugaan para pakar dan nyungsep alias terjun bebas seperti orang lemah iman terjun bebas bunuh diri dari lantai tiga satu gedung bertingkat yang bernama mal. Semua kejadian itu menawarkan peluang, lihatlah peluang itu dengan pikiran.
Tukang rokok gerobak pinggir jalan telah mengambil peluang dengan baik dari situasi keramaian lalu-lintas. Para pengendara kendaraan dan pengguna jalan butuh minuman, rokok dan cemilan. Pedagang rokok gerobak sudah paham akan kebutuhan itu, mereka sediakan dengan jitu apa-apa yang diperlukan. Pedagang gorengan melihat potensi customer yang diciptakan oleh jaringan toko minimarket. Mereka mengambil peluang itu dengan membuka gerobak dorong berjualan gorengan di halaman samping toko minimarket. Setelah berbelanja kebutuhan di toko minimarket, customer toko itu disambut gorengan seger yang baru keluar dari penggorengan. Di musim hujan begini makan gorengan ditemani secangkir teh manis waktu sore tentu alangkah nikmatnya. Sekali lagi, kawan, merekalah pengambil peluang terbaik. Mereka telah melihat peluang dengan pikiran, dan menangkap peluang itu dengan penuh nyali. Adakah saya punya nyali untuk mengambil peluang?
Kita telah memiliki potensi yang luar biasa dan diberkati dengan anugerah dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Namun ada satu hal yang menahan kita untuk maju menuju kejayaan gilang-gemilang. Inilah hambatan terbesar yang dating bukan dari orang lain. Bukan makin berkurangnya peluang, bukan tidak adanya informasi teknis yang menahan kita. Nyali-lah yang jadi faktor penghambat. Keraguan akan kemampuan diri sering jadi penentu dan memutuskan masa depan seseorang. Saya yakin dalam diri kita masing-masing terdapat karakter berani, cerdik dan gigih. Akan sangat hebat jika ketiga karakter itu bersinergi dan bisa didayagunakan sekaligus. Namun tidak dipungkiri tidak sedikit yang punya karakter sebaliknya, mudah bertekuk lutut. *”seperti loe,” kata nurani saya*
Diri kita sebenarnya didesain punya keberanian. Kita belajar berjalan dengan jatuh. Dan jatuh itu bukan Cuma sekali atau dua kali. Berkali-kali jatuh sebelum kita bener-bener bias berjalan. Artinya dari kecil nyali itu sudah ada, karakter itu sudah ditanamkan. Jika tidak pernah jatuh, kita tidak akan pernah berjalan. Jadi kita mulai belajar dengan membuat kesalahan. Hal yang sama berlaku buat keberhasilan dalam kehidupan. Thomas Alfa Edison melakukan sembilan ribu lebih percobaan yang berujung kegagalan sebelum menemukan yang sekarang dinamakan boghlam. Para pemenang tidak takut kalah. Gagal adalah bagian dari proses keberhasilan. Menghindari kegagalan juga menghindari keberhasilan. Para pemenang selalu dapat inspirasi dari kegagalan. Bagi para pecundang kegagalan telah mengalahkan mereka. Inilah rahasia terbesar para pemenang, yang tidak diketahui oleh pecundang, bahwa kegagalan member isnpirasi dan spirit untuk menang. Begitulah sikap para pecundang, mereka takut kalah. *”contohnya, loe lagi,” nurani saya teriak makin kencang.*
Tiga hari lalu saya mengendarai sepeda motor setengah butut milik dhewe di jalan Duta Metro, Pondok Indah. Itu adalah jalan raya akses menuju daerah Kebayoran Lama dan sekitarnya kalau anda dari arah Lebakbulus. Saya pacu sepeda motor buatan Jepang itu dengan kecepatan 70 kilometer per jam, pada jam 18.00 wib. Saya yakin orang tidak akan percaya dengan omongan saya ini. Kecepatan 70 km/jam pada jam 18.00 wib di jalan yang terkenal macet parah saat jam pulang kantor itu. “Bohong besar; tidak masuk akal; gila emang loe, ya; loe bisa terbang ama motor?” mungkin itulah kata-kata yang keluar dari orang yang tidak mendayagunakan pikirannya. Padahal kejadian itu realistik. Kalau yang anda bayangkan adalah lajur jalan raya yang dimulai dari Pondok Indah Mal menuju parapatan Lebakbulus yang ada jalan layangnya, saya tidak menyalahkan logika anda. Pada jam 18.00 wib itu adalah saatnya menyaksikan mobil-mobil bergerak lamban bagai siput. Emang tidak masuk akal kalau ada sepeda motor melaju kencang di lajur yang dimaksud. Tapi coba anda berpikir sebaliknya. Lihatlah jalur jalan disebelahnya. Amboi… jalan mulus itu yang dimulai dari parapatan lampu merah jalan layang depan Carefour sampai Pondok Indah Mal, menawarkan pada anda memacu kendaraan sekencang-kencangnya. Apa sebab? Karena jalur jalan itu sepi, lengang bak jalan Sudirman ditinggal mudik penghuni ibu kota. Jadi kalau saya melaju sekencang yang disebutkan tadi di jalur jalan yang sama, jelas itu bukan suatu kemustahilan. Pesannya jelas, mulailah berpikir smart.
Saat Indonesia dihantam krisis ekonomi, -sekarang, sih, masih krisis itu juga- tahun 1998, betapa gembiranya petambak udang dan petani lada di Sulawesi Selatan dan Pulau Bangka. Ketika dolar membubung tinggi, mereka pesta pora dari hasil tambak dan kebun lada. Mereka menikmati blessing dari nilai dolar yang gila-gilaan dan nilai rupiah terhadap dolar yang melempem persis kerupuk kaleng kemasukan angin. Apa pasal? Mereka mencicipi hasil dari penjualan komoditas yang hitungannya dolar, sedangkan belanja mereka untuk ongkos produksi dan segala tetek-bengek dalam mata uang rupiah. Siklus alam telah mengganjarnya dengan kebahagiaan. Inilah buah kegigihan para petani itu selama ini. Anda perlu kegigihan untuk berhasil. Orang kuliahan menyebutnya sebagai persistent.
Diakhir posting yang bikin kepala saya sedikit paniang ini ingin saya sampaikan sesuatu buat yang baca, saya juga. “Kita hidup di abad informasi. Dalam abad informasi uang bertambah secara eksponensial. Beberapa orang menjadi kaya dari nol dengan cara yang tidak masuk akal, hanya dengan ide dan persetujuan/perjanjian,” kata Robert Kyosaki lagi. Mari kita melihat peluang dengan pikiran, punya keberanian menangkap dan memanfaatkan peluang serta gigih untuk selalu berbuat yang terbaik. Anda harus punya daya tahan untuk melakukan itu semua. Atau anda ingin nasihat kuno yang diamalkan banyak orang? Maka, “Bekerja keraslah dan menabung.”
catatan : hari ini 16 Desember 2009, lanjutan posting tgl 14 Desember 2009 sudah ditambahkan, cihuy….selesai juga
Never Put Off Till Tomorrow What You Can Do Today
Roh, jiwa, atau bakat tulis-menulis itu saya pikir dimiliki oleh semua orang. Begitu brojol ke dunia bakat tulis-menulis sudah ditanamkan satu paket oleh Yang Maha Pencipta dengan bakat lainnya. Yang membedakan antara satu orang dengan lainnya adalah seberapa sering mengasah kemampuan menulis itu dipraktekkan, sehingga bisa menghasilkan tulisan yang dapat juga dinikmati orang lain.
Saya misalnya, akan bisa menyaingi Andrea Hirata, kalau saya terus-menerus berlatih membuat tulisan. *belum segitunya kaleee…cemooh seseorang* Semangat dan jiwa seperti pejuang merebut kemerdekaan mesti saya punyai kalau pengen jadi novelis cemerlang seperti dia. Disamping itu juga diperlukan “asupan” yang memadai untuk menghasilkan tulisan yang baik dan disukai pembaca.
Asupan itu didapat dari pengalaman atau melalui bacaan. Rata-rata penulis jempolan punya pengalaman hidup yang hebat dan kutu buku yang akut. Dari pengalaman bisa dibuat tulisan yang real, punya “rasa” berbeda dengan tulisan reka-reka atau kejadian fiktif. Dengan membaca buku akan memperkaya taste dan menambah daya fikir. Membaca buku ibarat men-charge baterai otak yang lemah. Otak lemah kalau dipakai terus-menerus, sih, oke punya. Tapi lemah karena jarang didayagunakan, ini yang berabe.
Pengen menghasilkan tulisan bermutu tapi otak gak pernah diasah, jarang digunakan. Membaca buku dalam seminggu bisa dihitung dengan jari tangan. Apalagi bisa menamatkan sekian buku dalam satu bulan adalah hal yang tidak pernah dijalani, maka jangan diharap akan bisa membuat tulisan yang tingkatannya sekelas penulis produktif apalagi penulis top. Seperti kata Tuan Ersis, -begitulah sebutan Siti Fatimah Ahmad untuk beliau- mau menghasilkan berak yang banyak tapi gak makan. Pengen menghasilkan tulisan bejibun tapi tak pernah menulis dan membaca. Ya, ora iso, mas. Resepnya ternyata tidak sulit : tulis dan membaca. Maka anda akan menghasilkan tulisan.
Tulis, ya, dengan menulis. Bukan berangan-angan menulis, nanti tulisannya gak bakalan jadi. Membaca akan memperkaya wawasan, menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala berpikir. Intinya banyak menulis dan membaca, maka semakin lancar anda menghasilkan tulisan. Coba aja kerjakan kalo gak percaya.
Kembali ke awal tulisan ini, bahwa bakat tulis-menulis itu dimiliki oleh semua orang, saya menemukan pembenaran dan kenyataan beberapa hari yang lalu. Setelah lelah bekerja dari pagi, waktu istirahat siang secara tidak sengaja saya menemukan tulisan berbentuk puisi seperti yang saya posting dibawah ini. Tulisan itu dibuat oleh seorang buruh bangunan, pekerja suatu proyek minimarket yang sedang dikerjakan di Lebakbulus, Jakarta Selatan. Buruh disini dalam arti sebenarnya yang kerjanya ngangkat semen, mindahin batu bata, bikin adukan dan mindahin material bangunan yang berat-berat. Pokoknya semua jenis pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian, itulah jobdes yang di handle-nya. Puisi, yang ditulis pada selembar kertas buku tulis yang biasa dipakai anak sekolah dasar belajar menulis bermerek Sinar Dunia yang bagian bawahnya terdapat quote Never Put Off Till Tomorrow What You Can Do Today, sungguh istimewa. Keindahannya, menurut saya, melebihi profesi pekerjaan dan tingkat pendidikan sang penulis. Profesi pekerjaannya buruh bangunan, pendidikannya tidak tamat sekolah menengah pertama. Saya jadi malu sendiri kalau membandingkan pendidikan saya dengan dia.
Keberadaan saya sendiri di proyek itu membantu teman untuk pengawasan secara teknis dan koordinasi dengan pihak terkait. Jadi ALRIS sudah kerja? Antara iya dan tidak, jawabannya. Karena saya ikut teman itu tidak melalui lamaran pekerjaan, tidak ngikutin tes, tidak ada wawancara, tidak ada surat perjanjian kontrak kerja, apalagi nyetorin uang pelicin. *beeeh…uang pelicin darimana, pengangguran, bro!* Ringkasnya begini, diminta bantu dan ada uang lelahnya. Bukankah saling membantu itu suatu kebaikan, maka perbanyaklah berbuat baik. Pada akhirnya perbuatan baik itu akan kembali ke anda. Nah, inilah puisi hasil karya sang pekerja bangunan itu.
Raih bahagia dalam tidurmu
Saat letih menderamu
Kukirim doa ketepian malam
Hingga pagi menyapa
Moga dibalik sunyinya malam
Kamu terbuai dalam mimpi indah
“Met bo2k”
Seandainyaku bisa menemanimu tuk selamanya
Rasa suka/bahagia di wajah yang ceria…
Kan ku bawa cerita ni dihari tua…
Atin, dimanakah kau berada…
Ku dah lama tak jumpa
Rasa kangen yang slalu buat aku derita…
Cintaku slalu buat kuat
Jalani hidup ini tanpa hasrat
Entah kapan kitakan jumpa
Aku slalu menunggu itu
Atin, pernah kau merasa seperti itu
Yang aku alami selama ini
Pa…kamu dah lupakan aku
Ku berharap smoga kau slalu
Menungguku…Atin
catatan : saya tidak merubah ejaan, titik, koma, bahasa ataupun kalimat dari puisi itu. Jadi saya copy paste apa adanya.
Blue Ocean
Mungkin kedengaran agak sarkas jika menyimak ucapan yang dilontarkan seorang teman sewaktu kami ngobrol ngalor-ngidul disuatu kesempatan pada waktu halal-bihalal keluarga IKASUPA (Ikatan Keluarga Sungai Pagu) yang berdomisili di Jabodetabek pada minggu keempat bulan oktober yang lalu. Kata dia begini, “Kalau ente tidak melakukan cara yang berbeda dengan yang orang lain kerjakan, maka andapun harus siap dapat hasil yang sama dengan yang dilakukan banyak orang.” (kalimatnya sudah saya terjemahkan secara bebas, diutak-atik, dan bahasanya saya bikin sopan dari bahasa Mualab kampung saya tercinta)
Benar apa yang dia ucapkan. Relevansi nasehat yang diberikan teman itu, sebenarnya sangat mengena dan sesuai kenyataan hidup yang saya jalani sejak masih jadi tangan dibawah alias karyawan sampai saat ini jadi (calon) entrepreneur sukses di dunia dan berbahagia di akhirat. Saya mendapatkan Blessing in disguise dari pertemuan dan omongan teman itu. Suatu berkah yang tidak saya dapat bahkan dari bangku kuliah sekalipun. Inilah madu, kawan. Enak, nikmat menyehatkan. Dan tidak terbantahkan silaturahmi bawa rejeki, setidaknya saya dapat salah satu kiat sukses dari pertemuan yang disengaja itu. Perjumpaan yang diharapkan jadi turning point dalam hidup saya. Saya yakin TUHAN memberikan kesempatan untuk sukses, lewat nasehat teman itu, untuk saya dan siapa saja yang selalu berusaha, -ikhtiar- mencari, mencari dan terus mencari jalan kehidupan terbaik yang direstui-NYA.
“Iya, loe sukses ngomong doang,” kata seorang sobat yang celetukannya sering bikin hati sakit beneran kalau gak kuat nahan kata-kata pedasnya.
Kalau direnungi apa yang diucapkan teman saya melalui kata-kata “bijak” itu yang nyelusup ke hati, mungkin dia tujukan bukan hanya buat saya. Tapi juga untuk kawan lain yang bareng ngobrol waktu itu yang secara ekonomi berada dibawah dia. Dari perspektif profesi apapun nasehat teman itu sangat berguna, tidak peduli anda pegawai, wiraswasta atau pengusaha.
Anda mengharapkan hasil yang berlimpah padahal proses dan cara yang dijalani untuk mendapatkan tujuan itu tidak berbeda dengan orang awam lakukan. Itu hal yang mustahil, menggantang angan-angan di awan.
Kalau anda pengusaha, bisnis saat ini seperti banyak digambarkan peramal, pengamat, analis bahkan pelaku dunia usaha itu sendiri menyerupai perang berdarah-darah. Mungkin seperti sewaktu amerika menginvansi Irak atau bak israel memborbardir jalur Gaza : penuh perlawanan, alot dan tidak terduga karena sengitnya persaingan. Pengusaha yang kreatif, cerdik, biasanya menciptakan pasar yang tergantung pada dia. Sang pengusaha akan melakukan inovasi, sehingga bisa mendapatkan laba tanpa harus perang harga. Dari kondisi ini muncullah monopoli alami, dimana pengusaha menciptakan bisnis yang belum ada pesaingnya. Selagi bisnis itu langka dan memonopoli secara alami, -tanpa kongkalikong dan aturan yang dibuat untuk menguntung diri sendiri atau kelompoknya- menurut salah satu majalah yang saya baca itu termasuk apa yang dinamakan Blue Ocean.
“Tapi bisnis langka dan memonopoli dijaman internet canggih begini mana ada, bos,” bantah teman saya seorang pengangguran terdidik lulusan S1 sebuah universitas.
“Ada lagi,” jawab saya.
“Kalo ada coba sebutkan,” tantangnya seolah tidak mempercayai omongan saya.
Saya berpikir keras untuk menemukan jawaban yang cemerlang. Saya memerlukan tempo beberapa saat untuk berpikir. Inilah akibatnya kalau otak kurang terasah, saya mengutuki diri sendiri. Ternyata efek gizi buruk masa balita berkontribusi disitu. Tiba-tiba ide kreatif berpijar, bersileweran keluar dari otak saya yang rada lambat panas kayak mesin diesel temuan orang Jerman itu. Satu yang saya tangkap.
“Gini deh, ini inovasi yang barusan saya temukan untuk menjawab pertanyaan loe yang barusan,” kata saya berbicara pelan seolah takut ide kreatif saya itu dicuri orang.
“Loe tahukan binatang merayap yang namanya keong.”
“Ya, taulah.”
“Coba loe buat bisnis dari bahan baku utamanya keong.”
“Contohnya apa, bos,” kata dia penasaran.
“Dari dagingnya loe buat keripik keong yang enak, yang bikin orang addict kalau sudah mencicipinya. Lalu dari kulit cangkangnya loe bikin handicraft bernilai seni tinggi.”
“Ah, si bos… sulit itu.”
“Kalau memang ingin jadi kelompok Blue Ocean loe harus menaklukkan kesulitan itu. Bagi entrepreneur sejati kesulitan adalah gala dinner megah yang ditunggu. Kesulitan adalah makan malam nikmat tiada tara setelah berhasil menaklukkannya,” khotbah saya sambil membayangkan yang mengadakan gala dinner itu adalah saya. Mimpi indah nikmat bukan main apalagi kalau beneran, kawan!
Emang enak jadi pemain bisnis yang memonopoli untuk produk tertentu. Tapi “nikmat” itu tentu diperoleh dengan ongkos yang harus dibayar mahal. Misalnya ongkos untuk menemukan ceruk pasar yang potensial, ongkos membuka pasar yang masih laten dan yang besar tentu saja biaya edukasi kepada konsumen -bahasa lain promosi jor-joran- atas produk yang ditawarkan. Jika berhasil menjalankan bisnis secara berbeda dengan orang lain, maka bersiaplah untuk panen hasil yang berbeda pula. Hasilnya akan sepadan dengan upaya yang dilakukan. Mari buktikan kita buktikan, kawan.
“Ngomong-ngomong, loe udah laksanakan apa yang barusan kita bicarakan?” tanya teman tadi.
“Saya sudah survey kecil-kecilan bisnis apa yang cocok buat saya jalankan secara berbeda dengan orang lain,” jawab saya yakin. Tepatnya meyakinkan diri.
“Saya doa-kan bisnis loe sukses besar, bos,” katanya memberi semangat sambil menepuk-nepuk bahu saya.
Lobang hidung saya membesar, sorot mata bersinar optimis dan semangat jiwa entrepreneurship yang selama ini timbul tenggelam seperti sekoci di lautan langsung berlompatan bagai speedboat terbaru yang berkekuatan 100 PK, mengubah energi potensial yang selama ini terpendam menjadi energi kinetik yang tak tertahankan. Saya jadi tak sabar menunggu hari esok.
“Hi, world. I am coming….soon!!!”
Ini juga buat di jual
Ini jualan kerjasama ama teman. Yang jelas saya bukan produsen, tapi sebagai tenaga penjual aja. “Jadi loe jadi salesman, dong,” kata friend saya yang lain. Bukan, ya bukan salesman. Saya jual kodian kalo ada yang pesan. Sebenarnya modelnya banyak. Kalo sampeyan pengen dikirim foto2 model sepatu, silahkan kirim email ke saya. Maaf kali ini baru bisa melayani sepatu cewek.
“Minta alamat email mas Alris, ya,” kata seorang kawan. Kawan yang bertanya ini pasti gak liat tampilan blog saya secara teliti. Kalo dia perhatikan dan dibaca di About, sudah dituliskan alamat email saya. Kata orang yang sudah berpengalaman, jadi pedagang itu harus sabar dan wajib menyenangkan konsumen. Konsumen adalah raja, kata pepatah lama. Tapi bukan raja yang sewenang-wenang tentunya. Jadi untuk tidak mengecewakan kawan yang bertanya itu dengan senang hati saya tuliskan alamat email dan nomor telpon saya di posting ini: email alris587@gmail.com telpon +622192194404

Kampungku Luluh-lantak
Gempa yang melanda Sumatera Barat hari rabu 30 September lalu, telah meluluh-lantakkan kota Padang, Padang Pariaman dan beberapa daerah lainnya. Berita selengkapnya anda baca koran harian, atau pelototi tv yang menyiarkan secara langsung menit demi menit perkembangan terakhir dari bencana alam yang dahsyat itu. Kesedihan saya sungguh berganda : masih jadi phk-wan, jualan belum sukses, sekarang sanak saudara dihajar gempa yang gak diundang. Hiks…
Ada Apa, bro…
Sungguh saya tidak menyadari kalau hari ini, -maksudnya waktu saya memulai membuat tulisan ini untuk posting- telah memasuki tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan. Semua angka yang berakhiran dengan sembilan.
Bagi sebagian orang mungkin ini saat yang tepat untuk membuat sesuatu atau moment dalam hidup yang tidak terlupakan. Misalnya, bagi yang belum punya pacar pas tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan “nembak” cewek idamannya selama ini. Dan yang di “dor” nerima tembakan sang arjuna dengan hati berbunga, senang tanpa terpaksa. Pikir mereka dunia serasa milik berdua *yang lain ngontrak tanpa bayar* Atau yang sudah tunangan hampir karatan, jauh-jauh hari sudah merencanakan tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan menghadap petugas KUA untuk meresmikan hubungan, legal secara hukum agama dan hukum negara. Dan bukankah mumpung di bulan penuh barokah ini hal yang baik itu punya nilai lebih. Barangkali juga ada yang menunggu di tanggal, bulan, dan tahun itu untuk membuat “make a wish” untuk kehidupan yang lebih baik. Why not?
Bagaimana dengan saya sendiri? Yang jelas saya tidak butuh “nembak” pacar atau menghadap penghulu untuk nikah lagi. Lha, wong anak sudah dua orang dari satu orang istri. Kalo membuat “make a wish” mungkin bisa jadi untuk dipikirkan, bro. “Hari geneee masih bikin make a wish? Terlambat, coy,” celetuk seorang teman yang suka mengkritik tidak pada tempatnya. “Emangnya kalo mau mengkritik harus ada tempatnya, ya,” protes suara dari dalam diri saya.
Oke, ok kita tinggalkan soal make a wish dan kritik-mengkritik. Bagi saya tanggal sembilan bulan sembilan di tahun dua ribu sembilan ini, saya telah menjalani ibadah puasa bulan romadhon hari yang ke sembilan belas. Karena hitungan puasa saya mengikuti cara pemerintah c.q. departemen agama, maka sudah lebih separoh bulan latihan dan training iman ini saya jalani.
Seharus kalo sudah selesai training keimanan selama sebulan, keluarnya harusnya dengan performance diri yang maknyus. Harapan saya, sih, emang begitu. Cuma waktulah nanti yang akan membuktikannya.
Nah, bagaimana tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan ente?
catatan : Diperlukan waktu seminggu lebih untuk bisa tulisan ini dapat dibaca oleh saudara-saudara sekalian diseluruh penjuru bumi. Sungguh rupanya internet sudah jadi barang mewah bagi saya saat ini. Ibaratnya kata lagu bang Rhoma : kalau sudah tiada baru terasa…
Ditolak Janda, malu gak…?
Ditolak janda, pernahkah anda alami. Bisa jadi bagi yang sudah berpengalaman dalam per-asmara-an itu hal yang sudah pernah dilalui. Tapi bagi pemula ini mungkin hal baru. Kabarnya untuk mendekati janda saja bahkan dibutuhkan semangat lebih bila dibandingkan dengan untuk menggaet abg misalnya. Mungkin ini berhubungan dengan pengalaman masing-masing individu yang bersangkutan. Saya sendiri gak punya pengalaman tentang hal itu, dan postingan ini tidak berhubungan dengan janda dalam arti mantan istri orang lain. Ini hanya menyangkut dengan beberapa hal yang berhubungan dengan upaya dalam usaha mendapatkan kembali status sebagai karyawan.
Beberapa minggu lalu saya mendapat beberapa panggilan untuk wawancara kerja. Sebagai penganguran yang lagi gak banyak acara dengan senang hati saya mengikuti satu per satu test dan wawancara kerja yang diadakan oleh beberapa, -artinya lebih dari satu- perusahaan sebagai pengundang saya. Test-nya biasa, standarlah. Datang ke kantor pengundang, isi daftar hadir, menunggu giliran beberapa menit (biasanya yang saya alami menunggu diatas 20 menit), dipanggil mba resepsionis disuruh ngisi data-data diri & pengalaman kerja yang dimiliki. Kemudian test tertulis materinya sesuai dengan bidang yang akan digeluti dan posisi yang ditawarkan. Setelah test teknik praktis, materi test biasanya berupa ilmu terapan yang biasa digunakan dilapangan, masih dilanjutkan dengan test psikologi, yang bagi saya kadang materinya sedikit membosankan. Habis itu masih dilanjutkan wawancara dengan pihak hrd, kalau nasib masih berpihak akan dilanjutkan dengan wawancara lagi dengan manajer operasional atau project manager sebagai user. Kalau masih oke, alias user suka dan merokemendasikan untuk dicoba, wawancara masih ada lagi, Selanjutnya negosiasi soal besaran gaji dengan manajer hrd. Jika semua proses itu dilalui dengan dengan mulus dan kedua pihak sepakat maka resmilah diangkat sebagai karyawan kontrak.
Dari beberapa test itu, ada yang saya alami langsung wawancara dengan pihak user dalam hal ini dengan manajer operasional. Tidak pake daftar di mba resepsionis, tidak test tertulis, tidak test psikologi, tidak wawancara dengan hrd. Pokoknya maknyusss langsung wawancara dengan yang akan menjadi atasan saya. Maka terjadilah percakapan seperti dibawah ini. (percakapannya sudah diringkas dan disesuaikan sedikit dengan bahasa yang bener, selama bincang-bincang dengan calon user banyak kata-kata gak penting gak ditulis disini yang keluar. nama yang ditulis bukan nama sebenarnya, kecuali nama penulis)
Alris : (ketok pintu) Selamat sore Pak X, saya Alris yang telpon Bapak tiga hari lalu. (saya perlu memperkenalkan diri karena Pak X adalah manajer operasional yang baru di perusahaan PT. Y)
Pak X : Oh, ya. Silahkan masuk, boss.
Alris : (bingung dipanggil BOSS) melangkah masuk ruangan pak X.
Pak X : Silahkan duduk, Pak Alris. Gimana, kabar? Apa kegiatan sekarang?
Alris : Kabar baik, pak. Alhamdulillah saya sehat. Kegiatan saya sekarang masih nganggur, pak. Ada, sih, sedikit gawe jualan selimut, sprei, bedcover dan bantal selimut. Tapi itu kalau ada pesanan dari teman yang ada di luar Jakarta.
Pak X : Ooh, bagus itu. Jadi barang jualannya dikirim ke luar Jakarta? Kemana tuh Ris?
Alris : Yang sudah berjalan saya kirim ke Palangkaraya dan Padang. Pesanannya gak rutin,pak. Kadang dalam sebulan sekali pesan, kadang dua atau tiga kali. Gak menentu.
Pak X : Jadi, begini Ris. Kita, -maksudnya PT. Y tempat pak X bekerja- ada proyek di Sulawesi dan Indonesia Timur. Proyeknya ada sekitar 800 site.
Alris : Wah, banyak banget ya, pak. Apa semuanya site baru, expansi atau renovasi?
Pak X : Ada beberapa site yang baru, tapi mayoritas adalah penambahan utilitas dan sarana pendukung seperti penambahan AC, pondasi dudukan outdoor bts, penambahan outdoor tray & indoor tray, kabel instalasi penangkal petir dan pekerjaan pendukung perangkat radio. Dan semua item pekerjaan itu kita kerjakan sendiri tidak pake subcont. Waktu penyelesaikan pekerjaan itu juga mepet, tidak sampai tiga bulan.
Alris : Perlu kerja keras, ya, pak. Sudah waktunya mepet, jumlah site-nya juga banyak banget.
Pak X : Kita perlu beberapa orang lagi untuk jadi supervisor. Alris lebih sreg kemana kalau seandainya kita jadi rekrut.
Alris : Selama bekerja di grup A pengalaman saya lebih banyak dilapangan sebagai supervisor CME. Waktu di PT. X saya supervisor CME untuk proyek backbone tsel area Kalimantan. Terakhir saya di PT. K menangani renovasi pekerjaan CME untuk site di daerah Banten, proyek roll out 2007 isat. Emang butuh supervisor untuk lapangan atau buat di kantor juga, pak.
Pak X : Ada buat lapangan, dan butuh juga buat di kantor.
Alris : Kalau boleh memilih, untuk saat ini karena anak-anak saya sedang sakit saya lebih cendrung untuk supervisor yang banyak berada di kantor, pak. Tapi kalau yang dibutuhkan untuk lapangan saya juga siap sedia untuk ke lapangan. Yang namanya bekerja dengan orang kan kita gak bisa memilih sesuai dengan kehendak kita, ya, pak. Resiko bekerja jadi karyawan harus taati aturan yang dibuat perusahaan.
Pak X : Iya, kita butuh beberapa tenaga terutama untuk lapangan. Tapi, Alris siap, ya, kalau dikirim ke lapangan.
Alris : Siap, pak. Sebagai karyawan tentu harus mengikuti maunya perusahaan. Ya, gak bisa seenaknya atau maunya sendiri. Saya siap kok, pak.
Pak X : Ok, tunggu Pak Z kembali dari luar kota, saya juga perlu konsultasi dulu sama dia sebagai orang yang nanti akan jadi atasan langsung Alris. Nanti hari senen datang lagi, ya.
Alris : Sebaiknya saya tunggu kabar dari Pak X aja. Nanti saya kesini hari senen ternyata Pak Z belum datang dari luar kota, kan sia-sia aja, pak. Begitu Pak Z ada di kantor saya segera akan menghadap Bapak dan Pak Z. Saya juga akan telpon Pak Z kapan beliau pulang dari luar kota dan berada di kantor.
Pak X : Siiip, sampai minggu depan, ya.
Alris : Terima kasih, pak. Saya sudah dikasih kesempatan, minimal untuk menghadap dan ngomong-ngomong dengan Pak X hari ini. Walaupun baru ini kita bicara secara lebih dekat dan secara langsung, tapi saya sudah beberapa kali ketemu Bapak di kantor pusat grup dan kantor ini. Makasih sekali lagi, ya, pak. (saya menyalami Pak X, pamit, keluar ruangannya dan cabut ke lantai dua kantor yang sama untuk sholat magrib di mushalla)
Selesai sholat saya bertemu beberapa kawan yang saya kenal, yaitu teman-teman bagian marketing dan supervisor yang dulu sama-sama dilapangan. Mereka menanyakan apakah saya sudah menghadap pak X, karena butuh karyawan untuk ditempatkan dilapangan. Saya jawab sudah, kelanjutannya menunggu project manager-nya kembali dari luar kota. Saya sempat ketemu dan berbincang sebentar dengan direktur HRD & GA perusahaan tsb. Beliau juga menanyakan apakah saya sudah menemui pak X saya jawab sudah, dan kelanjutannya menunggu pak Z datang dari luar kota. Dengan pak direktur HRD & GA ini malah pembicaraan sekilas saya dengan beliau sudah mengarah ke soal teknis pekerjaan lapangan : Alris nanti kalo dilapangan harus begini, begitu; tunjukkan kamu sebagai orang yang berpengalaman kerja lebih baik dari yang lain; harus menguasai secara garis besar semua pekerjaan karena akan lebih banyak item pekerjaan yang akan dilaksanakan sendiri pakai tenaga lokal; berpikir komprehensiv dan jauh kedepan; sinergi dengan teman-teman tenaga teknisi radio; dan blab la bla… Saya semakin yakin akan diterima kembali bekerja di PT. Y setelah mendengar ceramah singkat dari pak direktur tersebut
Seminggu kemudian saya datang lagi ke kantor perusahaan itu menemui sang manajer operasional, karena pak Z sudah datang dari luar kota dan sudah masuk kantor. Ini sebagian pembicaran kami bertiga yaitu antara saya, pak X dan pak Z (Dialog dibawah ini sudah saya pangkas, permak dan edit disana-sini seperlunya)
Alris : Gimana, pak kelanjutan bincang-bincang kita minggu lalu (saya bertanya ke pak X)
Pak X : Begini, Ris, saya ragu untuk menerima kamu. Ragu, bukan meragukan kemampuan kamu untuk bekerja di lapangan. Kalo soal teknik dan kemampuan kamu untuk bekerja tidak perlu diragukan lagi. Kamu kan sudah berpengalaman dibidang yang sama dan pekerjaan yang akan dilaksanakan tidak ada hal yang baru buat kamu. Yang kami ragukan keseriusan dan fokus kamu dalam melaksanakan pekerjaan nantinya. Karena sifat pekerjaan ini yang sangat mendesak dan jumlah site yang banyak dibutuhkan orang yang bener-bener fokus tidak diganggu hal lain. Sementara kamu kan sudah punya keluarga, punya anak dan istri, kami khawatir nantinya kamu gak betah lama-lama di site.
Alris : Kalau Bapak meragukan keseriusan saya untuk ditempatkan dilapangan saya bersedia bikin surat pernyataan, bahwa saya siap ditempatkan sebagai supervisor di lapangan.
Pak Z : Iya, Ris. Kami sih gak meragukan kompetensi kamu, kan kamu bekas karyawan sini juga. Yang kami kirim saat ini ke lapangan adalah bujangan semua, pada belum berkeluarga. *belakangan saya tau beberapa supervisor yang dikirim ke lapangan untuk proyek tsb sudah beranak istri*
Pak X : Jadi, gini aja Ris, mari kita sama-sama berpikir. Saya berfikir, Pak Z berfikir. Nanti kalo ada perkembangan akan saya kasih tau.
Alris : Ok, pak. Kalau emang begitu keputusannya. Saya tunggu aja perkembangan selanjutnya. Tolong di sms, telpon atau email ke saya apapun keputusan bapak-bapak. Terima kasih, ya, Pak X, Pak Z. (saya pun pamit dan keluar ruangan dengan perasaan datar saja. Dan sampai di luar kantor itu saya mengatakan kepada diri saya sendiri, “Percaya, deh, Ris loe gak bakalan direkrut kembali oleh PT. Y Kata-kata mereka tadi hanya basa-basi dan itu untuk menolak loe secara halus,”)
Dan sebulan lebih sudah sejak saya ketemu mereka, sampai saat ini tidak ada kabar melalui sms, via telpon dan lewat email yang mereka sampaikan ke saya mengenai keputusan final apakah saya ditolak total atau diterima kembali untuk bekerja. Rupanya kesibukan beliau-beliau yang super padat telah membuat lupa. “Kamu harus memaklumi Ris mengurus pekerjaan untuk sekian ratus site dengan personil lapangan yang banyak dan terpencar di beberapa pulau memerlukan energi yang prima dan segenap pengabdian. Dibutuhkan konsentrasi yang tinggi dan fokus untuk menyelesaikan pekerjaan itu. Jadi kalau mereka lupa kepada kamu wajar toh,” kata nurani saya)
Apa moral dari cerita di atas, kang? Nah, ini dia : (ini cuma karangan saya aja, jangan terlalu serius, bro…)
-
Jangan terlalu berharap kamu akan diterima bekerja disuatu tempat tanpa melalui test, hanya melalui wawancara informal. Walaupun direktur HRD, user-nya kenal baik dengan kamu dan kamu mantan karyawan perusahaan ybs, itu tidak jadi jaminan untuk bisa langsung diterima kembali sebagai karyawan. Tetaplah berpijak di bumi, “saya orang luar yang bukan pemilik perusahaan yang bisa keluar masuk perusahaan seenak dhewek, saya harus ikut aturan main.”
-
Kalau mengikuti test dan wawancara kerja ikuti aturan yang dibikin oleh perusahaan. Ikuti sesuai urutan, pastikan anda sudah memberikan kemampuan terbaik untuk test dan wawancara itu. Kalau gagal dalam test dan wawancara anggap aja nambah pengalaman, ya, coy.
-
Seandainya anda sebagai pejabat yang berwenang dalam menentukan karir seseorang jangan pernah memberikan angin sorga atau harapan sembarangan yang bisa bikin angan seorang job seekers terbang ke langit ke tujuh.
-
Kalau anda membuat janji usahakan untuk ditepati, mungkin waktu untuk menepati janji itu molor sebulan atau lebih. Buatlah alasan yang logis atau bohong yang dilogiskan supaya orang yang dijanjikan tidak dongkol, marah, kecewa atau sakit hati.
-
Jika jadi pejabat jadikanlah jabatan itu sebagai ladang amal dengan cara yang dibenarkan menurut aturan dan halal tentunya untuk kehidupan anda setelah kehidupan di dunia.
-
Jangan pernah berpikir sedikitpun untuk jadi mujahidin keblinger kalau anda mengalami kegagalan dan kekecewaan dalam hidup. Nanti anda akan terperosok ajaran, jalan dan pemahaman yang tidak bener, dan stigma teroris akan disematkan ke anda kalau anda ikut bergabung dengan jaringan alqaedah dan sejenisnya, misalnya. Apalagi kalo mau-maunya jadi “pengantin,” iiiihhhhh serem. Gak kebayang deh. “Lindungi hamba, ya, Allah dari pemahaman yang salah atas ajaran-MU,” kata Alris dalam doa-nya.
-
Supaya tidak kecewa dan sakit hati apabila gagal dalam test & wawaancara kerja, maka mulai dari sekarang buatlah perusahaan yang dikendalikan sendiri. Jangan pernah jadi karyawan untuk orang lain kalau anda tidak mau kecewa. Jadilah bos untuk diri sendiri, anda ikut membantu pemerintah membangun wirausahawan.
-
Alris masih berjuang mengharungi kehidupan ini untuk kehidupan yang lebih baik. *”lautan kaleee yang diharungi,” kata teman saya yang suka melemahkan semangat orang lain untuk maju.
Ini adalah bedcover dengan logo klub bola MU, gak ada hubungannya sama posting. Klub bola yang lain yang ada logonya di bedcover adalah : Inter Milan, Juventus, Liverpool, Chelsea. Kalo minat beli melalui saya ok aja lagi. Call aja esia saya : 021-92194404
BBM Naik Lagi, uuueeedan…
BBM naik lagi? Jelas, iya, dong. Setelah sempat nyungsep ke kisaran 43 US$ per barel sekitar bulan Desember 2008, harga minyak mentah berangsur-angsur naik pelan secara pasti. Berbagai faktor dan variabel menyebabkan terjadinya kenaikan harga minyak mentah. Apa saja faktor dan variabelnya yang berkontribusi terhadap kenaikan harga emas hitam itu? Untuk mengetahuinya anda tanyalah para ahli ekonomi yang berhubungan dengan itu. Jangan tanya ke saya, nanti jawabannya bisa sesat dan menyesatkan. Lha, saya ini bukan ahli ekonomi apalagi analis harga minyak. Kalo saya ahli ekonomi atau analis harga minyak kayak DR. Kurtubi, so pasti saya tidak akan nganggur selama ini, bro.
Nah, menurut DR. Kurtubi harga minyak dunia akan pulih kembali kalau ekonomi dunia kembali pulih. Kalo menilik akan pernyataan beliau yang dikeluarkan bulan Desember 2008 itu dalam wawancara dengan Radio Nederland Wereldomroep kayaknya harga minyak akan kembali membubung tinggi. Fakta dan indikasinya adalah kenaikan harga minyak mentah di pasaran dunia yang terus-menerus dalam kurun waktu tujuh bulan ini. “Kemudian pernyataan dari beberapa kepala pemerintahan di dunia yang menyatakan bahwa perekonomian di negara mereka sudah mulai menunjukkan sinyal kebangkitan dari keterpurukan akan ikut mendongkrak harga emas hitam itu,” kata Alris yang bukan analis perminyakan.
Saat ini, maksudnya sewaktu saya membuat tulisan ini, harga minyak mentah jenis Brent di pasar London sana sudah mencapai US$ 72,89 per barel. Dalam jangka waktu tujuh bulan telah terjadi kenaikan sebesar harga sebesar US$ 29,89. Artinya secara rata-rata setiap bulan kenaikan harga adalah sebesar US$ 4,27. Wah, gawat juga kalo kenaikannya uuueeedan mencapai US$ 150 perbarel. Pemerintah bisa pusing mikirin subsidi, sementara rakyat kecil kayak saya ini keblinger mikirin harga-harga barang konsumsi yang pasti membubung tinggi. Gimana gak pusing, dalam RAPBN tahun 2010 pemerintah berasumsi harga minyak diambil sekitar US$ 45-60 perbarel. Kalo harga mencapai kisaran US$ 100 per barel, coba hitung berapa harga beras jenis IR46 per kilogram.
“Tenang aja, coy, negara kita sudah bisa swasembada beras. Bahkan tahun 2009 ini sudah bisa ekspor beras ke luar negeri,” celoteh seorang teman saya sesama pengangguran. “Loe bisa tenang karena gak ada tanggungan, lha saya kan udah punya anak dan istri. Emang negara menggratiskan untuk membiayai anak dan istri,” jawab saya sengit. Daripada pusing mikirin harga minyak mentah dunia mending optimis dengan angka-angka yang diajukan presiden dalam sidang paripurna DPR 3 Agustus 2009 untuk RAPBN 2010. Contoh, pertumbuhan ekonomi diasumsikan 5% dianggap realistis, tapi kurang ekspansif kata kalangan pengusaha.
Btw, sebenarnya kenaikan harga bbm ikut mengurangi rakyat miskin. Gak percaya? Baca tulisan berikut yang saya dapat dari blog kang Yogi.
Harga bbm naek – tadinya rakyat miskin yang naek bis, sekarang jadi jalan kaki.. trus dijalan ketabrak metromini yg ngebut karena nguber setoran (soalnye bbmnya naek) trus mati.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Tadinya rakyat miskin makan sehari sekali.. trus jadi makan sekali buat 3 hari (karena daya belinya turun).. lama2 mati.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Tadinya rakyat miskin yang pada sakit masih bisa beli obat generik.. trus gak bisa beli lagi .. ato tadinya ke puskesmas bisa naik angkot sekarang jalan kaki jadi malah mati di jalan.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Ada rakyat miskin yang jadi stress… mikirin bbm yang naek, saking mikirnya…. ampe lupa makan dan minum….akhirnya mati juga.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Ada rakyat miskin yang kreatif dan berinisiatif. … buat menuhin kebutuhan dia nyolong ayam tetangga…. ketangkep, digebukin massa…..ampe mati juga. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Rakyat miskin di RT 004 berebut Kartu BLT yang masih lagi di print, antem-anteman sampe mati.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Rakyat miskin di RT 004, gak puas dengan kepemimpinan Pak RT yang gak adil, lalu Pak RT diantemi sampe mati.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
Rakyat miskin dari RT 004, antri mencairkan dana BLT di kantor pos. Nunggu berdesak-desakan berjam-jam, berhari-hari, berminggu-mingu akhirnya mati di kantor pos.. RAKYAT MISKIN BERKURANG
catatan gak penting : kalo anda pesan selimut jepang berlogo Real Madrid saya masih ada stok, memiliki selimut itu gak bakalan bikin anda mati, tapi keenakan. Yups enak tidur tentunya. Nomor tlp saya ada di tulisan sebelumnya. Jangan ragu untuk calling saya kalo mau pesan selimut yang elegan ini.

Bom Meledak Lagi, Sebel…
Endra : Kama se salamo ko, da?
Alris : Indak kama-kama do, Endra. Ambo kadang lai di Jakarta, tapi sajak dua bulan balakang di tampek bini di kampuangnyo.
Endra : Ooh, baitu. Patuiklah indak pernah mancigok di online.
Alris : Ambo sasakali lai online cuma untuak mancaliak email lamaran karajo.
Endra : Jadi uda masih nganggur?
Alris : Yo, baitulah…
Begitulah kutipan percakapan saya dengan seorang teman sewaktu online di Yahoo! Messenger beberapa hari yang lalu. Pembaca blog ini pastinya bertanya juga, kemanakah gerangan si empunya, kok blognya gak pernah di update. Kenapa tanggapan dari komentator gak pernah ditanggapi dan postingannya gak nambah-nambah. Dan mungkin ada yang berpikir nyeleneh, jangan-jangan yang punya blog kena firus H1N1? Sehingga perlu diisolasi untuk sementara waktu, gerak langkahnya dipantau aparat yang berwenang dan dalam pengawasan pihak depkes.
Eeeeits…jangan berpikiran macam-macam dulu para pembaca yang budiman. –benarkah pembaca blog saya ini banyak yang budiman?- Saya sebenarnya gak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Tidak memungkinkan saat ini buat saya untuk pergi kemana-mana. Lha, wong pengangguran mau dapat biaya perjalanan dari mana? Kalo masih kerja biasa ada abidin yang tanggungjawab. Itu, lho, atas biaya dinas dari perusahaan. Jadinya, ya, saya paling banter ada dimana-mana dalam daerah DKI Jakarta dengan sepeda motor kreditan -yang sudah dipaksakan lunas seminggu setelah “surat cinta” dari mantan perusahaan diterima, kebayangkan dikejar tukang tagih kalo masih belum lunas kredit motor- dan sekitar kampungnya istri saya. Kalo saya di ada dimana-mana di ibu kota Negara tercinta ini bukan dalam menikmati liburan atau sejenisnya, tapi dalam istilah komunitas TDA adalah dalam rangka menjemput rejeki dari-NYA. “Lha, kalau di kampung istri loe ngapaian Ris? “ tanya seorang teman yang pengen tau aja urusan orang lain. Ya, jelas bukan dalam rangka plesiran, dong. Punya anak istri kan loe harus tanggungjawab, ya nggak. Ah, lebih baik saya tidak membahas plesiran, urusan anak & istri atau pergi kemana-mana. Sebaiknya ditanya aja kenapa postingannya gak nambah. Ya, lebih afdhol, tho!
Begitulah, ibu/bapak, saudara/i dan adik/kakak pembaca blog saya ini, membuat tulisan untuk posting dengan segala keterbatasan yang saya rasakan saat ini, -ditengah masa pengangguran panjang- ternyata amat susah. Mesin tik saya gak punya, apalagi PC atau notebook yang memudahkan saya untuk membuat tulisan. Semangat, sih, tetap menyala –api emang menyala- tapi tangan susah untuk bergerak menari diatas buku menorehkan buah pikiran. Kebayang gak jaman waktu SMP atau SMA begitu semangat membuat tulisan di buku diary. Itu sebenarnya sangat membantu untuk terampil dan membuang sifat malas menulis. Sejak jaman computer kebiasaan baik itu malah menguap seiring perkembangan prosesor yang amat cepat melejit kemampuannya dalam memproses data. Tapi perkembangan kemampuan menulis tangan saya malah semakin menurun drastis. Dan saya terus terang tidak terbiasa bikin diary, otomatis tangannya kurang terlatih dalam menulis. Makanya posting saya gak nambah hampir tiga bulan. Tiga bulan bukan waktu yang sedikit, banyak yang bisa dikerjakan dalam kurun waktu itu. Dan saya cuma wira-wiri mengerjakan yang lain. “Tiga bulan kamu cuma wira-wiri doang, enak dong,” celetuk seorang kawan yang tidak memahami perasaan seorang pengangguran kayak saya. *awas loe yang suka nyeletuk ntar kalo gua kaya loe bakalan gua traktir makan-makan di boloo2 atau ayam bakar mas mono =))* Alhasil tidak ada satupun tulisan yang berhasil diselesaikan dan di posting dalam kurun waktu yang sangat lama itu.
Nah, tulisan ini saya kerjakan sambil mengedit foto-foto SPREI, BED COVER dan BANTAL SELIMUT yang mulai saya jajakan ke beberapa teman di daerah. Beruntung punya teman yang baik hati dan bersedia meminjamkan notebook kepada saya malam hari waktu dia tidur. Kalo siang jelas gak bisa, laptopnya dipakai dibawa ke tempat kerja maneh na. Gitu, bos. Sekian dulu, ya. Silahkan menikmati foto jualan saya, jika anda berminat jangan malu kontak saya aja lewat hp : nol delapan satu lima tiga dua empat dua tujuh lima empat lima atau via japri saya : alris587 [at] gmail dot kom. Koleksi yang kami ada stok adalah Sprei merek My Love, My Mode, Internal, Belladona; Bed Cover merek Kintakun, My Mode, Majesty, My Love, Belladona; Bantal Selimut merek Kintakun, Chelsea, My Love; Bantal Cinta merek CIN; Matras merek Romfe. Salam.
Sprei dan Bed Cover My Mode & My Love

Bantal Selimut Chelsea
Sehari sebelum posting ini saya publish meledak lagi bom di hotel JW Marriott dan hotel Ritz Carlton. Dan sewaktu saya baca berita online di detik.com sudah banyak jatuh korban jiwa. Sungguh perbuatan biadab yang membunuh dan menyengsarakan banyak orang. Dengan pemilu yang relatif aman dan keamanan selama ini rada kondusif dengan adanya bom itu maka kembali orang asing menyangsikan keselamatan dirinya untuk datang berbisnis dan berusahan di bumi tercinta. Untuk meyakinkan orang luar akan keamanan di Indonesia dibutuhkan waktu yang lama, bro. Sektor infrastruktur yang mulai bangkit dan bergerak lagi setelah tengkurep waktu menjelang dan selama pemilu bakalan stand by lagi kayaknya, nih. Kalo begitu bakalan lama dong gua nganggur. Coba, siapa yang mau membangun kalo main bom begituan. Ah…!!! sebel saya sama kaum tukang meracik, bikin dan meledakkan bom yang meledakkan sesuatu gak tau juntrungannya. Semoga loe pade masuk neraka (doa pengangguran yang lagi sebel, jangan diikuti)
Mengapa Mereka Sukses
“Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”
Itulah kalimat yang diucapkan oleh Thomas Alfa Edison, ketika ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal. Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini telah membuktikan ucapan, ketabahan, semangat dan tekadnya yang tidak pernah mengenal kata menyerah dan kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah gagal. Kegigihan Thomas Alfa Edison telah dibuktikan dengan kegemilangannya memberi kita penerangan diwaktu gelap dengan cahaya listrik. Terbayangkan malam tanpa penerangan dari yang namanya boghlam dan sejenisnya itu, setan gentayangan dimana-mana dan pake acara penampakan segala, hihihi…
So, berapa kali saya gagal tidak jadi soal. Kata Valentino Dinsi dalam bukunya “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian,” yang penting kemampuan untuk bangkit kembali setiap kali jatuh. Katanya seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan jika ada orang yang baru dua kali gagal memilih untuk menetap ditempat kegagalannya. Dan ketahuilah alris, bahwa begitu banyak orang yang berhasil membuat temuan mengagumkan adalah karena kegigihan dan bangkit kembali setelah terjatuh. Charles Goodyear yang tekun membuahkan ban yang memungkinkan kendaraan melaju kencang dan kecepatan mobil balap F1 setara pesawat jet. Ketabahan Wright bersaudara berhasil menciptakan pesawat terbang yang bisa membuat penyanyi Elton John sarapan pagi di Paris dan makan siang di New York. Bethoven mengisi dunia dengan musik yang inspiratif dan bahkan musik ciptaan dia bisa dijadikan salah satu terapi untuk kesehatan. Ketegaran Helen Keller memberikan harapan kepada semua orang cacat.Ternyata kesuksesan itu butuh passion dan persistence. Itu sudah dibuktikan oleh Bp. Alfi Hendri pemilik http://tandike.com yang selama empat tahun merugi. Pak Alfi bisa bertahan dan akhirnya berjaya dengan menjadi distributor resmi 14 merk outdoor equipment dan safety equipment dari berbagai negara karena punya passion dan persistence. Dan dalam masa krisis ini Beliau sudah mendapatkan sebuah mobil Hummer dari bonus yang diberikan oleh perusahaan prinsipal di mana dia menjadi agen tunggal produk tersebut di Indonesia. Really, really smart. Bonus mobil itu menurut saya hanyalah salah satu buah gairah dan kegigihan dia berbisnis. Jangan lihat puncak gunung es keberhasilannya, tapi perlu saya pelajari dan ambil hikmahnya : sukses itu butuh proses.
Tanpa kegigihan, ketabahan dan semangat pantang menyerah penemu mobil tidak akan mungkin saya bisa pergi-pulang ke Karawang dalam waktu hitungan jam. Kalo tidak ada temuan jenius dari Gottlieb Wilhelm Daimler dan Carl Friedrich Benz sampai beberapa ratus tahun bahkan bisa jadi sampai hari ini mungkin kita masih menggunakan angkutan pedati, -seperti foto yang saya ambil tiga tahun lalu di daerah Binuang, Kalimantan Selatan- untuk mobiliasasi barang dan orang. Tentu makan waktu berjam-jam, bahkan bisa dalam hitungan hari menempuh perjalanan pergi pulang untuk jarak puluhan kilometer.

Dengan penemuan yang hebat jarak Jakarta – Karawang dengan menggunakan bus bisa saya tempuh kurang dari satu jam. Berkat kegigihan seorang penemu mesin ATM, telepon selular dan teknologi telekomunikasi saya bahkan bisa mencheck saldo tabungan disalah bank plat merah sambil beol di wc umum di depan UKI Cawang beberapa hari yang lalu. Berkat semangat tidak kenal kata menyerah, bangkit lagi, bangkit lagi dan bangkit lagi akhirnya para penemu menuai kesuksesan. Banyak orang juga sukses bukan sebagai penemu, tapi memberikan hal yang berbeda atas temuan orang lain. Bangsa Jepang begitu sangat pandai memberikan nilai tambah pada sebuah mobil. Jadilah mereka menguasai pasaran mobil dunia, padahal mereka bukan bangsa penemu mobil. Kata Pak Tridjoko di blognya ada adagium “ilmu ditemukan di Eropa, dikembangkan di Amerika, dibuat produknya di Jepang, dan dipakai oleh orang Indonesia.” Jadi kalau adagium itu benar, konsekuensi logisnya Eropa hanya menemukan teori saja, tapi yang membuatnya menjadi “competitive advantage” orang Amerika, tapi orang Eropa dan Amerika kalah karena in the end of the day yang membuat dan menjual produknya ke pasaran adalah orang Jepang. Maka sebagaimana yang kita lihat hari ini bangsa Jepang menuai keberhasilan secara ekonomi dengan ketekunan dan kegigihan mereka.
Posting kali ini sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali semangat untuk bangkit lagi. Sebagai seorang unemployment saya sering dilanda idleness. Untuk melawan kemalasan mungkin tiap orang punya tips dan cara sendiri untuk melakukannya. Kalo cara saya salah satunya dengan membaca buku, sharing menimba ilmu dengan orang yang sudah berhasil, juga kalo sempat ke warnet browsing internet liat situs-situs yang asyik. Asyik bukan pornografi, lho. Karena sekarang semakin canggih warnet untuk melindungi konsumennya dari pengaruh negatif porno dengan memblok situs-situs porno, salut. Blusukan kemana aja yang bisa menimbulkan passion juga sangat bermanfaat, bisa ke pasar, ,mengunjungi sentra produksi, ke mall -kalo yang ini sudah jarang banget dilakukan- dan tempat lainnya yang bermanfaat. Asal jangan ke lapangan sepakbola yang lagi ada caleg kampanye, kalo itu mah cuma dapat hiburan nyanyi dangdut dan janji-janji caleg yang belum tentu dia ingat apalagi ditepati kalo dia terpilih jadi anggota dewan legislatif.
Kalo baru sekali dua kali gagal dan gak berani bangkit lagi, saya merasa begitu cemen setelah membuat posting ini. So, what gitu lho. Ayo bangkit Alris, semangat. Ingat anak dan istri-mu juga tidak akan nolak kalo diberi bonus mobil Mercy seri C 230 Avantgarde AMG. *sambil membayangkan nyetir mobil Mercy di jalan tol jagorawi menuju Puncak, wekekeke…*
-
Arsip
- Desember 2009 (2)
- November 2009 (1)
- Oktober 2009 (2)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (8)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS