Februari 1, 2010 oleh alrisblog
“Warga asing segera bisa miliki properti. PP kepemilikan rampung tahun ini.” Demikian judul berita yang saya baca di harian Tribun terbitan 11 Januari 2010. Masih menurut koran itu saat ini pemerintah sedang menyiapkan peraturan pemerintah terkait kepemilikan properti komersial oleh warga negara asing. Jika PP ini bisa diwujudkan akan membuka banyak lapangan kerja. Tidak hanya di industri properti itu sendiri, tetapi juga di industri bahan bangunan dan industri pendukungnya. Bahkan menurut para praktisi properti kalau PP kepemilikan properti oleh orang asing ini jadi terlaksana, maka akan memberikan multiplier effect bagi perekonomian nasional. Benarkah begitu?
Sebenarnya ini sudah berjalan lama, bahwa pihak asing baik perorangan maupun berbentuk badan hukum memiliki properti secara private melalui pihak ketiga di bumi tercinta ini. Cuma kayaknya pemerintah, ya, begitu deh, kura-kura dalam perahu. Jadi secara de facto propert itu dimiliki pihak asing, tapi secara de jure dimiliki oleh warga Negara Indonesia. Properti seperti ini biasanya banyak ditemui di daerah tujuan wisata yang ramai dikunjungi secara reguler. Misalnya ramai dikunjungi ketika musim dingin atau musim panas. Di pulau Dewata banyak dijumpai vila, rumah mewah, atau tempat usaha yang sudah dimiliki warga negara asing, tapi surat-menyurat atau urusan legalnya atas nama warga negara Indonesia. Kalau ente sempat dolan-dolan ke Batam dan sekitarnya, coba tanyain ke penjaga rumah-rumah mewah atau vila yang banyak bertebaran disana, siapa pemilik properti itu. Banyak sekali yang sudah dimiliki oleh warga negara Singapura. Di kota-kota besar seperti Jakarta, misalnya, mungkin juga tidak sedikit properti yang dimiliki oleh warga negara asing. Kecolongankah pihak pemerintah? Ya, nggaklah. Kaki tangan alias pegawai pemerintah kan banyak yang mengawasi dan memantau perpindahan kepemilikan properti, bahkan sampai tingkat kelurahan. Setiap ada perpindahan kepemilikan properti harusnya ada hak negara yang harus dibayar dalam bentuk pajak dan retribusi. Lha, wong balik nama motor butut aja ada pajaknya, kok. Masa properti yang mahal begitu gak kena pajak?
Dan bukankah setiap tahun tanah dan bangunan harus bayar pajak ke negara. Dari data yang disampaikan harusnya sudah tahu properti itu dimiliki wni atau oleh asing. Bukankah tidak logis vila yang berharga miliaran rupiah dalam dokumen legal ditemukan atas nama wni yang setelah ditelusuri ternyata sang pemilik hanyalah seorang penunggu vila yang punya pekerjaan sebagai petani penggarap. Kalau aparat terkait jeli, punya perhatian dan merasa punya kewajiban untuk berbuat terbaik untuk profesinya, apalagi ingin berbuat sesuatu buat negeri ini, maka dengan sangat mudah melacak kepemilikan properti itu. Atau kasusnya begini. Ujug-ujug ALRIS memiliki rumah mewah di Pantai Indah Kapuk. Harga rumah beserta tanahnya sekitar 10 miliar rupiah. Sewaktu tiba saatnya untuk membayar pajak bumi dan bangunan sepantasnya aparat pajak perhatikan, bahkan bisa curiga. Ini OKB dari mana, apa dia seorang pengusaha sukses; komisaris berbagai perusahaan; birokrat eselon satu di departemen; jenderal di tentara atau kepolisian; profesional terkenal yang memimpin perusahaan raksasa; orang kebagian warisan triliunan rupiah atau menang lotere yang diadakan di kulon? Dari kesemua itu ternyata ALRIS tidak bisa dimasukkan kedalam salah satu kategori yang disebutkan. Diselidiki, faktanya, ALRIS hanyalah seorang pekerja gado-gado, artinya bekerja apa saja, dan seorang blogger narsis. Ya, begitu deh, ngeblog hanya untuk menunjukkan egonya : orang lain bisa bikin buku bagus, gue juga bisa bikin posting. Intinya sama-sama menulis, begitulah nalarnya yang jongkok. Lalu aparat negara melakukan penyelidikan lagi, diketahuilah bahwa ALRIS juga tidak melakukan money laundering maupun dapat komisi dari insider trading atau dapat dana talangan bank century. Ternyata setelah diadakan penyelidikan lebih mendalam terbongkar juga kalau properti mewah itu sebenarnya milik seorang bule turunan Qatar yang tinggal di Swedia. Si bule arab ini menjadikan ALRIS sebagai kuda troya untuk menguasai dan memiliki properti mewah itu secara de facto. Sementara urusan legal dan perpajakan dipakailah ALRIS sebagai kuda tunggangan yang memang dibayar untuk itu.
Nah, sidang pembaca yang budiman dan budiwati, dari dua kasus sederhana diatas gampang sekali ternyata menelusuri kepemilikan properti. Tapi memang tidak semua kasus sesederhana dan semudah itu untuk ditelusuri. Kadang sang pemilik warga negara asing sengaja membikin ribet soal urusan legal dan surat-menyurat kepemilikan supaya sulit ditelusuri. Dan kaki tangan pemerintah biasanya juga gak mau pusing soal kepemilikan, selama rajin bayar pajak dan retribusi resmi maupun retribusi siluman. Ya, gak, coy!
Kembali ke soal kepemilikan properti oleh asing ini, menurut bapak menteri yang mengurusi perumahan, akan ada tambahan pendapatan tiga miliar dolar AS atau setara 30 triliun rupiah per tahun (kurs 1 dolar sebesar 10,000 rupiah). Potensinya bahkan sampai enam miliar dolar AS per tahun. Tentunya kran kepemilikan ini kalau dibuka akan ada kekhawatiran, bahwa pihak asing akan mendominasi kepemilikan properti di kota-kota besar dan kota satelitnya yang banyak terdapat industri. Juga di daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis asing ditenggarai berpotensi, terutama properti premium, untuk dikuasai pihak asing.
Kalau aturan kepemilikan ini dibuat tanpa syarat ketat dan tanpa rule yang clear alias multi tafsir, jelas kecemasan banyak kalangan ini akan jadi kenyataan dikemudian hari setelah PP itu berlaku. Untuk menghindari hal itu, kita berharap seandainya PP kepemilikan asing atas properti itu jadi dibuat, pemerintah membuat batasan kepemilikan. Misalnya yang boleh dimiliki warga negara asing hanyalah properti minimal senilai 250,000 dolar AS, juga jumlah unit-nya dibatasi atas nama kepemilikan satu orang. Pembatasan nilai properti yang boleh dimiliki diperlukan supaya ada saringan yang bermanfaat, bahwa yang membeli properti itu bener-bener yang punya duit dan properti yang dijual memang punya “nilai.” Ya, yang mahal, dong, kalo mau jual ke orang asing. Aturan pembatas jumlah unit juga diperlukan supaya tidak terjadi penumpukan asset disatu tangan dan menghindari monopoli.
Jika potensi yang sangat besar ini kita gali dan dimanfaatkan tentu multiplier effect yang terjadi sangat signifikan bagi perekonomian nasional. Andaikan PP itu keluar dan di tahun pertama ada tambahan pendapatan negara tiga miliar dolar AS. Dari transaksi kepemilikan properti oleh asing ini kita ambil nilai multiplier effect 80% dari nilai transaksi, maka terjadi kegiatan ekonomi sebagai nilai tambah sebesar 2.4 miliar dolar AS. *wow…coba lima persen dari uang itu masuk rekening ALRIS, dipastikan anak-anak jalanan yang diasuh babeh baikuni akan berpindah tangan pengasuhannya ke panti asuhan yang dimiliki oleh ALRIS. Tidak akan terjadi sodomi dan kasus mutilasi, yang banyak mungkin soto mie,
*
Ngomong-ngomong, nih, masalah properti di kawasan Asean harga properti di Negara tercinta ini termasuk yang murah. Kita bandingkan. Kata Jopy Rusli, salah satu petinggi PT. Lippo Karawaci Tbk, harga properti di Malaysia 1,424 dolar AS per meter persegi, di Singapura 11,324 dollar AS per meter persegi. Sementara di Indonesia hanya 1,287 dolar AS per meter persegi, alias hanya 11.37% dari harga properti di negeri ber-icon singa itu untuk satuan yang sama. Kok, mahal harga properti di Singapura? Ya, jelas mahal tho, mas. Lha, wong untuk nguruk laut bikin daratan dia datangin pasir laut dari Bangka/Belitong, kayunya ditebang dari Sumatera atau Kalimantan, semennya import dari Padang. Ya, make semen Padang, bro. Tenaga kerjanya untuk membangun pakai TKI, jadi wajar mahal, tho. *analisa asal mikir cara Alris* Di Singapura orang asing hanya boleh membeli apartemen, sedangkan pembelian rumah tinggal dilarang. Dan ini lucunya, *sebenarnya gak lucu, tapi menyedihkan* pembeli properti komersial di Singapura adalah orang kaya dari Indonesia dan China. Begitulah anomalinya. Sementara pemerintah negara masing-masing berupaya sekuat tenaga menarik modal dari luar, warga negaranya pamer kekayaan di luar. Orang macam begini sungguh t e r l a l u kata bang Rhoma Irama. Kurang rasa nasionalisme. Bakureh di negeri dhewe, menghamburkan duit dan foya-foya di negeri orang. “Duit tidak mengenal nasionalisme, coy,” kata nurani saya. “Dimana tempat dia bisa berkembang dan menguntungkan duit akan nemplok disana,” nurani saya masih ngoceh. Dengan terpaksa saya mengiyakan kata nurani saya.
keterangan: foto diatas adalah stadion terapung yang ada di negeri tetangga, tepatnya di Singapura. Bayangin kalo stadion itu ada di teluk Jakarta, habis pertandingan sepakbola kira-kira berapa korban yang mati kecebur ke laut setelah tawuran antar suporter.
Ditulis dalam Uncategorized | 55 Komentar »
Januari 22, 2010 oleh alrisblog
Dalam perjalanan ke tempat seperti foto diatas tanggal 18 Januari 2010 *karena kamera rusak, maka hasil jepretannya emang jelek* saya mendengarkan RRI Pro 2. Kebetulan ada wawancara pembawa acara, yaitu penyiar RRI, Yanti Yusfid dengan mantan Menko Perekonomian di jaman presiden Gus Dur, Bapak Rizal Ramli. Saya sempat mendengar wawancara itu lebih kurang 10 menit diselingi tanya-jawab dengan pendengar RRI melalui telepon dan SMS. Topik yang sedang dibahas saat itu adalah kasus Bank Century. Inilah kasus yang sedang hangat dibicarakan dan menyedot perhatian banyak kalangan mulai anggota DPR, pengamat ekonomi, profesional banyak bidang, sampai rakyat jelata seperti saya.
Kalau saya menanggapi kasus Bank Century ini, yaaa… begitu deh. Sebab makin banyak saya tahu melalui sumber berita : koran harian; majalah; situs berita online; tulisan ekonom; komentar politikus; pendapat ahli & praktisi hukum; komentar orang yang dicurigai terlibat sampai obrolan di angkot, makin mangkel saya dibuatnya. Ya, kok tega-teganya nilep uang rakyat segitu banyak, dan tidak ada yang mau bertanggungjawab, saling menyalahkan. Argumennya para petinggi yang terkait dengan kasus itu seragam. Coba, Robert Tantular bagi-bagi duit itu ke saya satu atau dua miliar, kan saya gak jungkir balik berusaha cari sesuap nasi dan segenggam berlian seperti saat ini. Dan bisa jadi anak-anak jalanan yang diasuh babeh baekuni pindah ke panti asuhan milik ALRIS. Tidak ada sodomi dan mutilasi, tapi yang ada sotomie.
Tapi sudahlah, uang talangan itu bukan hak saya, dan memang saya gak berhak memiliki. Bukan warisan nenek moyang saya.
Saya ingin berbagi informasi yang saya dapatkan dari wawancara RRI Pro 2 di pagi yang mendung itu. Ada beberapa hal yang sempat saya rekam dalam memori saya apa yang diucapkan oleh Bapak Rizal Ramli. Mohon maaf kalau saya salah kutip, jika Bapak Rizal Ramli sempat membaca blog saya ini sudilah membetulkan kesalahan yang terjadi.
- Dijaman Bapak Rizal Ramli jadi menteri, KSSK dibentuk berdasarkan PP dan anggotanya tidak hanya dua orang. KSSK yang dibentuk tanpa payung hukum dan hanya beranggotakan dua orang, yaitu menkeu dan gubernur BI, menurut istilah beliau itu bukan komite, tapi bisik-bisik. Lucu dan sangat menggelikan komite beranggotakan hanya dua orang, mengangkat dan memberhentikan diri sendiri. Kalo ini bener, ya, sesungguhnya teramat lucu.
- Dalam rapat tanggal 12 Januari 2010, Robert Tantular didepan anggota pansus Bank Century mengungkapkan bahwa pihak Bank Century mengajukan dana talangan 1,7 triliun rupiah. Tapi, ini aneh yang nyata, pemerintah menggelontorkan dana talangan sebesar 2,7 triliun rupiah, yang minta dana talangan aja sampe bingung, kok, bisa kelebihan satu triliun.
- Menurut Bapak Rizal Ramli tidak ada terjadi dibelahan dunia manapun bantuan dana talangan diberikan dalam bentuk tunai, tidak berbentuk transfer antar bank. Aneh tapi nyata.
- Sejak 2004 Bank Century ternyata sudah bermasalah, tidak beres dan para pengelolanya sudah sering ditegur dan diperingati. Ini aneh tapi nyata lagi, penyakit, kok, dipelihara. Kayaknya doyan memelihara penyakit yang menggerogoti uang rakyat yang dipungut melalui pajak dan retribusi.
Masih menurut Bapak Rizal Ramli, kasus pemberian dana talangan melebihi dana yang diminta, besar dan cara pemberiannya melalui tunai ini sedang diusahakan oleh Jaya Suprana untuk masuk Guiness Book of Record. Kalau “prestasi” ini jadi masuk catatan yang kesohor itu, maka inilah “prestasi” yang haram untuk diikuti. Sangat tidak dianjurkan untuk ditiru.
Ngomong-ngomong, menurut anda apa hukuman yang pas untuk para pengemplang duit rakyat ini? Silahkan berkomentar dan beri usulan disini. Gratis…
Keterangan Susno Duaji mantan kabareskrim polri didepan pansus bank century dpr bikin kerutan di jidat nambah. Dana bank century sudah diblokir tapi di Makassar nasabahnya yang seorang pebengkel motor masih bisa cairin itu duit 35 miliar, kemudian ada seorang sopir taksi di Ciputat-Tangerang nasabah bank century juga punya duit 200 miliar di bank itu. Pak sopir taksi, semoga itu bener duit sampeyan. Jadi kalo bener, sampeyan gak usah jadi sopir lagi, tapi bikin perusahaan taksi.
Ditulis dalam Uncategorized | 161 Komentar »
Januari 9, 2010 oleh alrisblog
Andaikan dalam perjalanan ke tempat kerja , atau ada urusan yang harus diselesaikan. Untuk mencapai tujuan anda menggunakan sepeda motor, -seperti saya- atau sepeda onthel seperti komunitas ini, tiba-tiba gak ada aba-aba atau peringatan dini layaknya alat canggih yang dipasang dibeberapa kota yang dicurigai rawan tsunami, hujan turun bagai ditumpahkan dari langit. Apa yang anda lakukan?
Sebagai orang normal, ya gak nekad hujan-hujanan dengan niat main basah-basahan, saya akan mencari tempat yang bisa untuk berlindung. Tempatnya tentu bisa macam-macam. Bisa emperan toko, kolong jembatan layang, rumah, warung, atau apapun yang bisa untuk berteduh dari guyuran air hujan. Rupanya, kawan, pemerintah kota ada perhatian perihal ini, maka dibuatlah halte untuk berlindung dari sengatan matahari dan guyuran air hujan itu.
“Banyak halte digunakan untuk tidur waktu malam,” kata pejabat dinas perhubungan DKI. Tentulah halte yang dimaksudkan untuk bobok itu nyaman, melindungi dari guyuran air hujan dan dinginnya angin malam. Ternyata halte yang dimaksud pejabat tadi adalah halte busway.
Bagaimana dengan halte yang banyak terdapat di jalan protokol dan jalan yang ramai kendaraannya. Selayaknya kata M. Helmy Hisyam seperti ditulisnya disini, halte yang dibuat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :
-
Memenuhi syarat keamanan struktur terhadap beban gempa, angin dan air hujan.
-
Terbuat dari bahan yang memenuhi persyaratan bahan konstruksi.
-
Mampu melindungi dari sengatan sinar matahari dan limpasan air hujan.
-
Bangunan tersebut tidak mengganggu kelancaran arus lalu-lintas.
Saya rasa pemda juga sangat mengerti akan syarat-syarat itu. Dalam perencanaannya pastilah sudah diperhitungkan segala macam aspek. Ya aspek kekuatan, aspek keindahan dan tentunya aspek kenyamanan pengguna halte. Tetapi dalam pelaksanaannya bagaimana, bang? Ya, begitulah. Namanya juga manusia, suka melabrak aturan yang dibuat.
Bangunan halte yang saya gunakan untuk berteduh ketika kehujanan tiga minggu yang lalu, ketika dilihat dari jauh, ya, cukuplah untuk buat berlindung. Ketika sampai di halte itu saya perhatikan bangunannya cukup kokoh. Tiangnya terbuat dari besi bulat cukup besar, mungkin besi diameter 20 cm. Rangka kuda-kudanya dibuat dari besi plat tebal 15 mm dibentuk sedemikian rupa menyerupai honeycomb. Gordingnya terbuat dari besi bulat diameter 2 inchi. Bahan penutup atapnya terbuat dari bahan polycarbonate tembus pandang. Bahkan dudukan bangku yaitu alasnya terbuat dari baja stainless steel, bahan baja tahan karat yang biasanya banyak digunakan di rumah gedongan untuk menimbulkan kesan mewah dan elegan. Bagaimana kondisi bangunan halte itu? Sungguh memprihatinkan , kawan. Ya, seperti janda yang tidak mau mengurus dirinya, karena meyakini bakalan tidak ada lagi laki-laki yang tertarik. Ngeneslah pokoknya.
Atapnya yang berlumut itu ada yang bocor, dan sialnya bocornya pas di tengah halte. Rangkanya kayaknya sudah tidak pernah dicat dalam jangka waktu lama. Melihat kondisinya mungkin halte itu sudah gak dicat sekitar setahun, kasian. Lantainya kotor disana-sini dan lantai itu tidak terbuat dari keramik seperti banyak halte lainnya. Halte itu mengesankan bangunan yang tidak dirawat. Sewaktu saya berteduh waktu itu, rupanya bangunan itu tidak dirancang untuk menahan limpasan air hujan. Tempias air hujan bebas merdeka menghantam para biker yang berlindung. Ditambah lagi pembuangan air hujan dari atap yang tidak dialirkan melalui talang, maka semakin merajalela tempias air. Air dari atap jatuh bebas dan menggenangi sebagian besar permukaan lantai. Sedangkan bangku untuk duduk hanya ada panjang sekitar 1,5 M. Pada waktu itu yang berteduh ada sejumlah 30 orang dan dari yang sebanyak itu hanya seorang yang non biker. Maka berdesakanlah kami menghindari hujan yang turun di pagi itu secara tiba-tiba.
Sebagai pengguna, saya menginginkan halte yang nyaman, disesuaikan dengan kondisi setempat. Ya, kita di daerah tropis yang sering hujan turun tentunya halte yang dibangun juga disesuaikan kondisi daerahnya. Kalau malam saya yakin orang akan was-was, mungkin malah takut untuk berlindung di halte yang saya sebutkan tadi. Soalnya halte itu tidak dilengkapi dengan lampu penerangan, bro.
Btw, orang Belanda kreatif, nih, membangun halte ini. Bangkunya berfungsi sebagai timbangan berat badan. Begitu seseorang duduk, maka akan ketahuan berat badannya seperti tertera di layar sebelahnya. Anda kelebihan atau kekurangan berat badan tinggal menghubungi dan datang ke tempat fitness yang mensponsori pembangunan halte itu untuk menjalani treatment. Perusahaan yang mensponsori pembangunan halte ini pasti paham banget slogan salah satu cabang olahraga, yaitu : No Pain No Gain.

Adakah yang berminat membangun halte yang nyaman dan aman di ibu kota ini? Ada baiknya perusahaan raksasa macam perusahaan telekomunikasi, baja, semen, pertambangan, perkebunan, makanan, farmasi atau perusahaan apapun untuk ikut berpartisipasi menyediakan fasilitas umum ini. Hitung-hitung sebagai hibah perusahaan kepada customer yang sudah ikut membesarkan perusahaan itu.
Tiba-tiba seseorang nyeletuk, “Hibah dari perusahaan bukan untuk bangun halte. Gak ada untungnya buat perusahaan. Hibah yang ampuh itu nyumbang ke partai politik yang menang pemilu.”
Bahan posting ini didapat sewaktu berteduh di halte yang terdapat sebelum kantor pusat perusahaan ini. Aneh juga halte ini bernama Halte Fatmawati, lokasi ada di Jl. Kartini, Cilandak – Jakarta Selatan. Jadi sampai gempor anda mencari halte ini di Jl. Fatmawati gak bakalan ketemu. Asal diberi nama? Silahkan tanya Dinas Perhubungan DKI
Ditulis dalam Uncategorized | 105 Komentar »
Desember 23, 2009 oleh alrisblog
Pada hari Minggu di Italia, para suporter mempunyai jadwal rutin sebagai berikut: pergi ke gereja, menyaksikan pertandingan, pulang ke rumah. Sedangkan di Inggris: pergi ke bar, menyaksikan pertandingan, kembali ke bar.
Di Italia, pasta dan segelas red wine adalah hidangan tepat sebelum pertandingan. Di Inggris, kebab dan kentang goreng ditambah bir setengah liter sebelum ke stadion sudah cukup.
Di Italia, polisi akan membiarkan Anda melempar jeruk ke arah bus yang mengangkut tim lawan. Di Inggris, Anda akan dijebloskan ke penjara bila melakukan perbuatan seperti itu.
Tifosi Italia berkelakuan baik di laga tandang, tapi bisa mengamuk di kandang sendiri. Fans Inggris berkelakuan baik di negeri sendiri, tapi menggila di Eropa.
Di Inggris, penonton duduk di bangku stadion. Di Italia, bangku stadion bisa dijadikan senjata.
Di Inggris, petugas keamanan memperhatikan ulah penonton. Di Italia, petugas keamanan menyaksikan pertandingan tapi merangkap sebagai Ultras.
Di Inggris, Anda harus pergi ke warung stadion untuk membeli makanan. Di Italia, Anda cukup meneriakkan ‘A Bibitaro’ kepada penjual makanan yang tak jauh dari bangku Anda, kemudian. Anda memberikan uang yang disampaikan melalui satu penonton ke penonton lainnya, sementara sang penjual mengirimkan sebuah cornetto dengan cara yang sama.
Di Inggris, jika Anda cepat, kuat dan bisa berlari non-stop selama 90 menit, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun skill permainan Anda menyamai skill seekor keledai. Di Italia, jika Anda memperagakan taktik dan teknik yang memadai, Anda akan dianggap pemain hebat, meskipun kecepatan dan mobilitas Anda menyamai kura-kura.
Di Inggris, jika Sky Sports mengatakan bahwa Peter Crouch adalah pemain terbaik dunia, satu negara akan percaya. Di Italia, jika Sky Italia mengklaim bahwa Simone Loria adalah bek terbaik di planet ini, satu negara akan berhenti berlangganan stasiun televisi tersebut.
Di Italia, ‘hasil akhir membenarkan tujuan awal’, dan menarik kostum tim lawan, diving, pelanggaran keras dan menipu wasit adalah aspek-aspek penting dalam pertandingan. Di Inggris, semua tindakan tersebut adalah bentuk kecurangan, dan filosofi ‘tujuan awal membenarkan hasil akhir’ diikuti, karena fair play lebih penting ketimbang menang dengan cara apapun.
Di Italia, pertahanan adalah kesenian. Di Inggris, pertahanan adalah anti-sepakbola.
Di Italia, jika sebuah tim tertinggal 3-0, semua pemain menyerah, dan semua pendukung mencemooh tim yang kalah, menghancurkan mobil pemain terburuk, dan menyerbu latihan tim pada hari berikutnya. Di Inggris, jika sebuah tim tertinggal 8-0 pun, para pemain masih berjuang dan mengejar bola hingga akhir menit meskipun sadar pasti kalah, sementara para pendukungnya bersorak menyanyikan tentang ‘pahlawan’ mereka.
Di Inggris, wasit yang buruk memang buruk. Di Italia, wasit yang buruk adalah korup.
Di Inggris, acara televisi sesudah laga berakhir adalah 99% cuplikan pertandingan dan 1% analisis. Di Italia, acaranya 1% cuplikan pertandingan dan 99% analisis (atau tayangan ulang dalam slow-motion).Di Inggris, Anda jarang mendengar berita tentang ketua klub, yang cenderung untuk menjauhi pers. Di Italia, presiden klub sudah terbiasa melontarkan komentar kontroversial.
Menghindari kebosanan pembaca yang budiman pengunjung blog saya yang acak-kadut ini, maka saya posting tulisan yang sedikit seger buat menghilangkan paniang. Buat penggemar sepakbola semoga rileks, buat pembaca sekedar info aja. Tulisan ini saya dapat dari sini.
Ditulis dalam Uncategorized | 139 Komentar »
Desember 14, 2009 oleh alrisblog
Matematika keberhasilan dalam bisnis itu sederhana. Anda tidak memerlukan aljabar atau kalkulus untuk mengurai rumusnya. Betapa banyak tokoh bisnis, konglomerat, orang kaya pemilik beragam bidang usaha yang bahkan tidak mengerti apa hitungan rumit yang bikin kepala nyut-nyutan, puyeng dan membuat mata cepat pakai kaca mata minus itu. Hitungan atau rumus keberhasilan dalam mencapai kejayaan berbisnis ditemukan oleh pelakunya sendiri-sendiri. Tidak akan sama rumus keberhasilan dalam berusaha yang ditemukan dan diaplikasikan oleh seorang Liem Sioe Liong dengan cara yang ditempuh oleh Chairul Tanjung, misalnya. Masing-masing, mereka, pastinya punya metode dan jalan sendiri yang sesuai dengan kondisi dan jaman mereka. Ya, masing-masing punya kiat tersendiri.
“Ya, jelas beda. Yang satu mulai usaha dengan dagang pikulan dari kampung ke kampung di jaman sebelum kemerdekaan. Yang lain mulai bisnis ketika alat pikulan sudah mulai dimusiumkan. Yang satu lahir dan besar di Fukien, Tiongkok, kemudian diumur yang sangat muda merantau ke Jawa ikut pamannya berdagang minyak kacang di Kudus, Jawa Tengah. Yang lain lahir dan besar di Jakarta, lalu merintis usaha bersama keluarga di kota metropolitan,” seseorang mengkhotbahi saya sedikit bersemangat seperti Bung Tomo akan memulai orasi. “Mbok, ya, cari perbandingan itu yang setara. Sama jamannya, sama kondisinya, kalau perlu sama pendidikannya,” seseorang itu masih semangat nambahin khotbah yang tanpa mimbar itu.
Baiklah, baiklah! Kita tidak perlu berdebat dengan seseorang itu yang tidak begitu jelas identitas aslinya. Seseorang itu adalah semacam OTB (organisasi tanpa bentuk) dijaman seseorang yang pernah mencalonkan diri jadi cawapres ketika masih jadi mentri. Ambil saja sisi positifnya, bahwa masih ada orang yang peduli dan mau mengingatkan kita akan kekurangan diri. Jangan under estimate. Belum apa-apa sudah curiga, mendahului peristiwa yang belum terjadi. Memprediksi hal negatif yang belum tentu adanya. Ya, seperti kecurigaan presiden negeri ini sewaktu mendengar akan ada demonstrasi besar-besaran memperingati hari anti korupsi sedunia, lalu “dikritisi” bahwa akan ada upaya politik dibalik demonstrasi itu untuk menggoyang pemerintah yang sah. Stop! Kawan. Berhentilah menyemai hal-hal negatif ke dalam kehidupan. Mari berpikiran positif. “Jangan undang pikiran negatif ke dalam kehidupan anda,” kata buku The Secret karangan Rhonda Byrne dan konco-konconya.
Oh, jadi sederhanakah resep manjur untuk berhasil dan jaya gilang-gemilang dalam bisnis dan segi lain kehidupan. Belum tentu juga. Tiap pribadi punya jalan dan cara sendiri dalam menemukan dan mengaplikasikan resep jitu itu. Tidak akan pernah sama tiap individu. Kalau resep jitu itu bisa digeneralisasikan, bisa dipakai semua orang, maka menurut ALRIS angka kemiskinan alias jumlah orang miskin bin melarat di negeri ini yang dulu pernah punya slogan gemah ripah loh jinawi, tidak akan sejumlah penduduk suatu negeri di Eropah. Bahkan mungkin jumlah penduduk miskin kita bisa untuk membuat dua atau negara kecil. Sungguh banyak, bukan angka mainan. Kalau gak paham tanyalah ke BPS.
Apakah rumus sederhana yang tanpa hitungan matematika ruwet itu. Saya sedang berusaha menemukannya. Kalau saya sudah jadi richman, rich dad, -artinya saya wis dadi wong sugih- saya akan bagi-bagikan secara gratis kiat-kiat itu. Akan saya adakan seminar, training, workshop atau apapun nama dan bentuknya tanpa bayar. Bila perlu sayalah yang membayar para peserta. Lha, wong sugih, tho! Masa orang kaya juga minta bayaran untuk bagi-bagi ilmu dan kiat supaya orang lain bisa kaya. Kalau anda masih ngemis minta bayaran untuk bagi-bagi ilmu, ya, maaf-maaf kate nih ente blon kaya.
Saya ingin seperti kostum Barcelona, tempat nampangin logo Unicef tapi ga dibayar, malah membayar sekian juta euro pertahun untuk badan PBB itu. Bagi saya itu keren, dimanfaatkan orang lain tapi kita membayar untuk itu. Amazing…..
Segala sesuatunya dimulai dari pikiran. “Satu-satunya asset yang paling kuat kita miliki adalah pikiran kita. Jika pikiran dilatih dengan baik, ia dapat menciptakan kekayaan yang luar biasa dalam waktu yang kelihatannya singkat. Kekayaan yang melampaui impian para raja dan ratu 300 tahun yang lalu. Pikiran yang tidak terlatih juga dapat menciptakan kemiskinan yang ekstrem yang akan terus berlanjut dengan mengajarkannya pada keluarga mereka,” kata Robert Kyosaki dalam buku Rich Dad Poor Dad. Nah, baca baik-baik ajaran sang suhu kiat jadi kaya ini, kawan. Pikiran! Camkan itu, sekali lagi pikiran.
Apapun kondisinya, dunia selalu menawarka peluang. Ya, peluang yang selalu ada sepanjang hidup, bahkan sepanjang hari. Tetapi sangat sering kita tidak melihatnya, karena kita melihatnya dengan mata. Kita tidak melihat peluang itu dengan pikiran.
Krisis bisa datang dan pergi, pasar boleh naik atau turun, investasi bisa datang kapan saja dan hengkang sesuka hatinya, perekonomian tumbuh fantastis diluar dugaan para pakar dan nyungsep alias terjun bebas seperti orang lemah iman terjun bebas bunuh diri dari lantai tiga satu gedung bertingkat yang bernama mal. Semua kejadian itu menawarkan peluang, lihatlah peluang itu dengan pikiran.
Tukang rokok gerobak pinggir jalan telah mengambil peluang dengan baik dari situasi keramaian lalu-lintas. Para pengendara kendaraan dan pengguna jalan butuh minuman, rokok dan cemilan. Pedagang rokok gerobak sudah paham akan kebutuhan itu, mereka sediakan dengan jitu apa-apa yang diperlukan. Pedagang gorengan melihat potensi customer yang diciptakan oleh jaringan toko minimarket. Mereka mengambil peluang itu dengan membuka gerobak dorong berjualan gorengan di halaman samping toko minimarket. Setelah berbelanja kebutuhan di toko minimarket, customer toko itu disambut gorengan seger yang baru keluar dari penggorengan. Di musim hujan begini makan gorengan ditemani secangkir teh manis waktu sore tentu alangkah nikmatnya. Sekali lagi, kawan, merekalah pengambil peluang terbaik. Mereka telah melihat peluang dengan pikiran, dan menangkap peluang itu dengan penuh nyali. Adakah saya punya nyali untuk mengambil peluang?
Kita telah memiliki potensi yang luar biasa dan diberkati dengan anugerah dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Namun ada satu hal yang menahan kita untuk maju menuju kejayaan gilang-gemilang. Inilah hambatan terbesar yang dating bukan dari orang lain. Bukan makin berkurangnya peluang, bukan tidak adanya informasi teknis yang menahan kita. Nyali-lah yang jadi faktor penghambat. Keraguan akan kemampuan diri sering jadi penentu dan memutuskan masa depan seseorang. Saya yakin dalam diri kita masing-masing terdapat karakter berani, cerdik dan gigih. Akan sangat hebat jika ketiga karakter itu bersinergi dan bisa didayagunakan sekaligus. Namun tidak dipungkiri tidak sedikit yang punya karakter sebaliknya, mudah bertekuk lutut. *”seperti loe,” kata nurani saya*
Diri kita sebenarnya didesain punya keberanian. Kita belajar berjalan dengan jatuh. Dan jatuh itu bukan Cuma sekali atau dua kali. Berkali-kali jatuh sebelum kita bener-bener bias berjalan. Artinya dari kecil nyali itu sudah ada, karakter itu sudah ditanamkan. Jika tidak pernah jatuh, kita tidak akan pernah berjalan. Jadi kita mulai belajar dengan membuat kesalahan. Hal yang sama berlaku buat keberhasilan dalam kehidupan. Thomas Alfa Edison melakukan sembilan ribu lebih percobaan yang berujung kegagalan sebelum menemukan yang sekarang dinamakan boghlam. Para pemenang tidak takut kalah. Gagal adalah bagian dari proses keberhasilan. Menghindari kegagalan juga menghindari keberhasilan. Para pemenang selalu dapat inspirasi dari kegagalan. Bagi para pecundang kegagalan telah mengalahkan mereka. Inilah rahasia terbesar para pemenang, yang tidak diketahui oleh pecundang, bahwa kegagalan member isnpirasi dan spirit untuk menang. Begitulah sikap para pecundang, mereka takut kalah. *”contohnya, loe lagi,” nurani saya teriak makin kencang.*
Tiga hari lalu saya mengendarai sepeda motor setengah butut milik dhewe di jalan Duta Metro, Pondok Indah. Itu adalah jalan raya akses menuju daerah Kebayoran Lama dan sekitarnya kalau anda dari arah Lebakbulus. Saya pacu sepeda motor buatan Jepang itu dengan kecepatan 70 kilometer per jam, pada jam 18.00 wib. Saya yakin orang tidak akan percaya dengan omongan saya ini. Kecepatan 70 km/jam pada jam 18.00 wib di jalan yang terkenal macet parah saat jam pulang kantor itu. “Bohong besar; tidak masuk akal; gila emang loe, ya; loe bisa terbang ama motor?” mungkin itulah kata-kata yang keluar dari orang yang tidak mendayagunakan pikirannya. Padahal kejadian itu realistik. Kalau yang anda bayangkan adalah lajur jalan raya yang dimulai dari Pondok Indah Mal menuju parapatan Lebakbulus yang ada jalan layangnya, saya tidak menyalahkan logika anda. Pada jam 18.00 wib itu adalah saatnya menyaksikan mobil-mobil bergerak lamban bagai siput. Emang tidak masuk akal kalau ada sepeda motor melaju kencang di lajur yang dimaksud. Tapi coba anda berpikir sebaliknya. Lihatlah jalur jalan disebelahnya. Amboi… jalan mulus itu yang dimulai dari parapatan lampu merah jalan layang depan Carefour sampai Pondok Indah Mal, menawarkan pada anda memacu kendaraan sekencang-kencangnya. Apa sebab? Karena jalur jalan itu sepi, lengang bak jalan Sudirman ditinggal mudik penghuni ibu kota. Jadi kalau saya melaju sekencang yang disebutkan tadi di jalur jalan yang sama, jelas itu bukan suatu kemustahilan. Pesannya jelas, mulailah berpikir smart.
Saat Indonesia dihantam krisis ekonomi, -sekarang, sih, masih krisis itu juga- tahun 1998, betapa gembiranya petambak udang dan petani lada di Sulawesi Selatan dan Pulau Bangka. Ketika dolar membubung tinggi, mereka pesta pora dari hasil tambak dan kebun lada. Mereka menikmati blessing dari nilai dolar yang gila-gilaan dan nilai rupiah terhadap dolar yang melempem persis kerupuk kaleng kemasukan angin. Apa pasal? Mereka mencicipi hasil dari penjualan komoditas yang hitungannya dolar, sedangkan belanja mereka untuk ongkos produksi dan segala tetek-bengek dalam mata uang rupiah. Siklus alam telah mengganjarnya dengan kebahagiaan. Inilah buah kegigihan para petani itu selama ini. Anda perlu kegigihan untuk berhasil. Orang kuliahan menyebutnya sebagai persistent.
Diakhir posting yang bikin kepala saya sedikit paniang ini ingin saya sampaikan sesuatu buat yang baca, saya juga. “Kita hidup di abad informasi. Dalam abad informasi uang bertambah secara eksponensial. Beberapa orang menjadi kaya dari nol dengan cara yang tidak masuk akal, hanya dengan ide dan persetujuan/perjanjian,” kata Robert Kyosaki lagi. Mari kita melihat peluang dengan pikiran, punya keberanian menangkap dan memanfaatkan peluang serta gigih untuk selalu berbuat yang terbaik. Anda harus punya daya tahan untuk melakukan itu semua. Atau anda ingin nasihat kuno yang diamalkan banyak orang? Maka, “Bekerja keraslah dan menabung.”
catatan : hari ini 16 Desember 2009, lanjutan posting tgl 14 Desember 2009 sudah ditambahkan, cihuy….selesai juga
Ditulis dalam Uncategorized | 122 Komentar »
Desember 4, 2009 oleh alrisblog
Roh, jiwa, atau bakat tulis-menulis itu saya pikir dimiliki oleh semua orang. Begitu brojol ke dunia bakat tulis-menulis sudah ditanamkan satu paket oleh Yang Maha Pencipta dengan bakat lainnya. Yang membedakan antara satu orang dengan lainnya adalah seberapa sering mengasah kemampuan menulis itu dipraktekkan, sehingga bisa menghasilkan tulisan yang dapat juga dinikmati orang lain.
Saya misalnya, akan bisa menyaingi Andrea Hirata, kalau saya terus-menerus berlatih membuat tulisan. *belum segitunya kaleee…cemooh seseorang* Semangat dan jiwa seperti pejuang merebut kemerdekaan mesti saya punyai kalau pengen jadi novelis cemerlang seperti dia. Disamping itu juga diperlukan “asupan” yang memadai untuk menghasilkan tulisan yang baik dan disukai pembaca.
Asupan itu didapat dari pengalaman atau melalui bacaan. Rata-rata penulis jempolan punya pengalaman hidup yang hebat dan kutu buku yang akut. Dari pengalaman bisa dibuat tulisan yang real, punya “rasa” berbeda dengan tulisan reka-reka atau kejadian fiktif. Dengan membaca buku akan memperkaya taste dan menambah daya fikir. Membaca buku ibarat men-charge baterai otak yang lemah. Otak lemah kalau dipakai terus-menerus, sih, oke punya. Tapi lemah karena jarang didayagunakan, ini yang berabe.
Pengen menghasilkan tulisan bermutu tapi otak gak pernah diasah, jarang digunakan. Membaca buku dalam seminggu bisa dihitung dengan jari tangan. Apalagi bisa menamatkan sekian buku dalam satu bulan adalah hal yang tidak pernah dijalani, maka jangan diharap akan bisa membuat tulisan yang tingkatannya sekelas penulis produktif apalagi penulis top. Seperti kata Tuan Ersis, -begitulah sebutan Siti Fatimah Ahmad untuk beliau- mau menghasilkan berak yang banyak tapi gak makan. Pengen menghasilkan tulisan bejibun tapi tak pernah menulis dan membaca. Ya, ora iso, mas. Resepnya ternyata tidak sulit : tulis dan membaca. Maka anda akan menghasilkan tulisan.
Tulis, ya, dengan menulis. Bukan berangan-angan menulis, nanti tulisannya gak bakalan jadi. Membaca akan memperkaya wawasan, menambah pengetahuan dan memperluas cakrawala berpikir. Intinya banyak menulis dan membaca, maka semakin lancar anda menghasilkan tulisan. Coba aja kerjakan kalo gak percaya.
Kembali ke awal tulisan ini, bahwa bakat tulis-menulis itu dimiliki oleh semua orang, saya menemukan pembenaran dan kenyataan beberapa hari yang lalu. Setelah lelah bekerja dari pagi, waktu istirahat siang secara tidak sengaja saya menemukan tulisan berbentuk puisi seperti yang saya posting dibawah ini. Tulisan itu dibuat oleh seorang buruh bangunan, pekerja suatu proyek minimarket yang sedang dikerjakan di Lebakbulus, Jakarta Selatan. Buruh disini dalam arti sebenarnya yang kerjanya ngangkat semen, mindahin batu bata, bikin adukan dan mindahin material bangunan yang berat-berat. Pokoknya semua jenis pekerjaan yang tidak memerlukan keahlian, itulah jobdes yang di handle-nya. Puisi, yang ditulis pada selembar kertas buku tulis yang biasa dipakai anak sekolah dasar belajar menulis bermerek Sinar Dunia yang bagian bawahnya terdapat quote Never Put Off Till Tomorrow What You Can Do Today, sungguh istimewa. Keindahannya, menurut saya, melebihi profesi pekerjaan dan tingkat pendidikan sang penulis. Profesi pekerjaannya buruh bangunan, pendidikannya tidak tamat sekolah menengah pertama. Saya jadi malu sendiri kalau membandingkan pendidikan saya dengan dia.
Keberadaan saya sendiri di proyek itu membantu teman untuk pengawasan secara teknis dan koordinasi dengan pihak terkait. Jadi ALRIS sudah kerja? Antara iya dan tidak, jawabannya. Karena saya ikut teman itu tidak melalui lamaran pekerjaan, tidak ngikutin tes, tidak ada wawancara, tidak ada surat perjanjian kontrak kerja, apalagi nyetorin uang pelicin. *beeeh…uang pelicin darimana, pengangguran, bro!* Ringkasnya begini, diminta bantu dan ada uang lelahnya. Bukankah saling membantu itu suatu kebaikan, maka perbanyaklah berbuat baik. Pada akhirnya perbuatan baik itu akan kembali ke anda. Nah, inilah puisi hasil karya sang pekerja bangunan itu.
Raih bahagia dalam tidurmu
Saat letih menderamu
Kukirim doa ketepian malam
Hingga pagi menyapa
Moga dibalik sunyinya malam
Kamu terbuai dalam mimpi indah
“Met bo2k”
Seandainyaku bisa menemanimu tuk selamanya
Rasa suka/bahagia di wajah yang ceria…
Kan ku bawa cerita ni dihari tua…
Atin, dimanakah kau berada…
Ku dah lama tak jumpa
Rasa kangen yang slalu buat aku derita…
Cintaku slalu buat kuat
Jalani hidup ini tanpa hasrat
Entah kapan kitakan jumpa
Aku slalu menunggu itu
Atin, pernah kau merasa seperti itu
Yang aku alami selama ini
Pa…kamu dah lupakan aku
Ku berharap smoga kau slalu
Menungguku…Atin
catatan : saya tidak merubah ejaan, titik, koma, bahasa ataupun kalimat dari puisi itu. Jadi saya copy paste apa adanya.
Ditulis dalam Uncategorized | 107 Komentar »
November 20, 2009 oleh alrisblog
Mungkin kedengaran agak sarkas jika menyimak ucapan yang dilontarkan seorang teman sewaktu kami ngobrol ngalor-ngidul disuatu kesempatan pada waktu halal-bihalal keluarga IKASUPA (Ikatan Keluarga Sungai Pagu) yang berdomisili di Jabodetabek pada minggu keempat bulan oktober yang lalu. Kata dia begini, “Kalau ente tidak melakukan cara yang berbeda dengan yang orang lain kerjakan, maka andapun harus siap dapat hasil yang sama dengan yang dilakukan banyak orang.” (kalimatnya sudah saya terjemahkan secara bebas, diutak-atik, dan bahasanya saya bikin sopan dari bahasa Mualab kampung saya tercinta)
Benar apa yang dia ucapkan. Relevansi nasehat yang diberikan teman itu, sebenarnya sangat mengena dan sesuai kenyataan hidup yang saya jalani sejak masih jadi tangan dibawah alias karyawan sampai saat ini jadi (calon) entrepreneur sukses di dunia dan berbahagia di akhirat. Saya mendapatkan Blessing in disguise dari pertemuan dan omongan teman itu. Suatu berkah yang tidak saya dapat bahkan dari bangku kuliah sekalipun. Inilah madu, kawan. Enak, nikmat menyehatkan. Dan tidak terbantahkan silaturahmi bawa rejeki, setidaknya saya dapat salah satu kiat sukses dari pertemuan yang disengaja itu. Perjumpaan yang diharapkan jadi turning point dalam hidup saya. Saya yakin TUHAN memberikan kesempatan untuk sukses, lewat nasehat teman itu, untuk saya dan siapa saja yang selalu berusaha, -ikhtiar- mencari, mencari dan terus mencari jalan kehidupan terbaik yang direstui-NYA.
“Iya, loe sukses ngomong doang,” kata seorang sobat yang celetukannya sering bikin hati sakit beneran kalau gak kuat nahan kata-kata pedasnya.
Kalau direnungi apa yang diucapkan teman saya melalui kata-kata “bijak” itu yang nyelusup ke hati, mungkin dia tujukan bukan hanya buat saya. Tapi juga untuk kawan lain yang bareng ngobrol waktu itu yang secara ekonomi berada dibawah dia. Dari perspektif profesi apapun nasehat teman itu sangat berguna, tidak peduli anda pegawai, wiraswasta atau pengusaha.
Anda mengharapkan hasil yang berlimpah padahal proses dan cara yang dijalani untuk mendapatkan tujuan itu tidak berbeda dengan orang awam lakukan. Itu hal yang mustahil, menggantang angan-angan di awan.
Kalau anda pengusaha, bisnis saat ini seperti banyak digambarkan peramal, pengamat, analis bahkan pelaku dunia usaha itu sendiri menyerupai perang berdarah-darah. Mungkin seperti sewaktu amerika menginvansi Irak atau bak israel memborbardir jalur Gaza : penuh perlawanan, alot dan tidak terduga karena sengitnya persaingan. Pengusaha yang kreatif, cerdik, biasanya menciptakan pasar yang tergantung pada dia. Sang pengusaha akan melakukan inovasi, sehingga bisa mendapatkan laba tanpa harus perang harga. Dari kondisi ini muncullah monopoli alami, dimana pengusaha menciptakan bisnis yang belum ada pesaingnya. Selagi bisnis itu langka dan memonopoli secara alami, -tanpa kongkalikong dan aturan yang dibuat untuk menguntung diri sendiri atau kelompoknya- menurut salah satu majalah yang saya baca itu termasuk apa yang dinamakan Blue Ocean.
“Tapi bisnis langka dan memonopoli dijaman internet canggih begini mana ada, bos,” bantah teman saya seorang pengangguran terdidik lulusan S1 sebuah universitas.
“Ada lagi,” jawab saya.
“Kalo ada coba sebutkan,” tantangnya seolah tidak mempercayai omongan saya.
Saya berpikir keras untuk menemukan jawaban yang cemerlang. Saya memerlukan tempo beberapa saat untuk berpikir. Inilah akibatnya kalau otak kurang terasah, saya mengutuki diri sendiri. Ternyata efek gizi buruk masa balita berkontribusi disitu. Tiba-tiba ide kreatif berpijar, bersileweran keluar dari otak saya yang rada lambat panas kayak mesin diesel temuan orang Jerman itu. Satu yang saya tangkap.
“Gini deh, ini inovasi yang barusan saya temukan untuk menjawab pertanyaan loe yang barusan,” kata saya berbicara pelan seolah takut ide kreatif saya itu dicuri orang.
“Loe tahukan binatang merayap yang namanya keong.”
“Ya, taulah.”
“Coba loe buat bisnis dari bahan baku utamanya keong.”
“Contohnya apa, bos,” kata dia penasaran.
“Dari dagingnya loe buat keripik keong yang enak, yang bikin orang addict kalau sudah mencicipinya. Lalu dari kulit cangkangnya loe bikin handicraft bernilai seni tinggi.”
“Ah, si bos… sulit itu.”
“Kalau memang ingin jadi kelompok Blue Ocean loe harus menaklukkan kesulitan itu. Bagi entrepreneur sejati kesulitan adalah gala dinner megah yang ditunggu. Kesulitan adalah makan malam nikmat tiada tara setelah berhasil menaklukkannya,” khotbah saya sambil membayangkan yang mengadakan gala dinner itu adalah saya. Mimpi indah nikmat bukan main apalagi kalau beneran, kawan!
Emang enak jadi pemain bisnis yang memonopoli untuk produk tertentu. Tapi “nikmat” itu tentu diperoleh dengan ongkos yang harus dibayar mahal. Misalnya ongkos untuk menemukan ceruk pasar yang potensial, ongkos membuka pasar yang masih laten dan yang besar tentu saja biaya edukasi kepada konsumen -bahasa lain promosi jor-joran- atas produk yang ditawarkan. Jika berhasil menjalankan bisnis secara berbeda dengan orang lain, maka bersiaplah untuk panen hasil yang berbeda pula. Hasilnya akan sepadan dengan upaya yang dilakukan. Mari buktikan kita buktikan, kawan.
“Ngomong-ngomong, loe udah laksanakan apa yang barusan kita bicarakan?” tanya teman tadi.
“Saya sudah survey kecil-kecilan bisnis apa yang cocok buat saya jalankan secara berbeda dengan orang lain,” jawab saya yakin. Tepatnya meyakinkan diri.
“Saya doa-kan bisnis loe sukses besar, bos,” katanya memberi semangat sambil menepuk-nepuk bahu saya.
Lobang hidung saya membesar, sorot mata bersinar optimis dan semangat jiwa entrepreneurship yang selama ini timbul tenggelam seperti sekoci di lautan langsung berlompatan bagai speedboat terbaru yang berkekuatan 100 PK, mengubah energi potensial yang selama ini terpendam menjadi energi kinetik yang tak tertahankan. Saya jadi tak sabar menunggu hari esok.
“Hi, world. I am coming….soon!!!”
Ditulis dalam Uncategorized | 60 Komentar »
Oktober 21, 2009 oleh alrisblog
Ini jualan kerjasama ama teman. Yang jelas saya bukan produsen, tapi sebagai tenaga penjual aja. “Jadi loe jadi salesman, dong,” kata friend saya yang lain. Bukan, ya bukan salesman. Saya jual kodian kalo ada yang pesan. Sebenarnya modelnya banyak. Kalo sampeyan pengen dikirim foto2 model sepatu, silahkan kirim email ke saya. Maaf kali ini baru bisa melayani sepatu cewek.
“Minta alamat email mas Alris, ya,” kata seorang kawan. Kawan yang bertanya ini pasti gak liat tampilan blog saya secara teliti. Kalo dia perhatikan dan dibaca di About, sudah dituliskan alamat email saya. Kata orang yang sudah berpengalaman, jadi pedagang itu harus sabar dan wajib menyenangkan konsumen. Konsumen adalah raja, kata pepatah lama. Tapi bukan raja yang sewenang-wenang tentunya. Jadi untuk tidak mengecewakan kawan yang bertanya itu dengan senang hati saya tuliskan alamat email dan nomor telpon saya di posting ini: email alris587@gmail.com telpon +622192194404

Ditulis dalam Uncategorized | 5 Komentar »
Oktober 2, 2009 oleh alrisblog
Gempa yang melanda Sumatera Barat hari rabu 30 September lalu, telah meluluh-lantakkan kota Padang, Padang Pariaman dan beberapa daerah lainnya. Berita selengkapnya anda baca koran harian, atau pelototi tv yang menyiarkan secara langsung menit demi menit perkembangan terakhir dari bencana alam yang dahsyat itu. Kesedihan saya sungguh berganda : masih jadi phk-wan, jualan belum sukses, sekarang sanak saudara dihajar gempa yang gak diundang. Hiks…
Ditulis dalam Uncategorized | 9 Komentar »
September 17, 2009 oleh alrisblog
Sungguh saya tidak menyadari kalau hari ini, -maksudnya waktu saya memulai membuat tulisan ini untuk posting- telah memasuki tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan. Semua angka yang berakhiran dengan sembilan.
Bagi sebagian orang mungkin ini saat yang tepat untuk membuat sesuatu atau moment dalam hidup yang tidak terlupakan. Misalnya, bagi yang belum punya pacar pas tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan “nembak” cewek idamannya selama ini. Dan yang di “dor” nerima tembakan sang arjuna dengan hati berbunga, senang tanpa terpaksa. Pikir mereka dunia serasa milik berdua *yang lain ngontrak tanpa bayar* Atau yang sudah tunangan hampir karatan, jauh-jauh hari sudah merencanakan tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan menghadap petugas KUA untuk meresmikan hubungan, legal secara hukum agama dan hukum negara. Dan bukankah mumpung di bulan penuh barokah ini hal yang baik itu punya nilai lebih. Barangkali juga ada yang menunggu di tanggal, bulan, dan tahun itu untuk membuat “make a wish” untuk kehidupan yang lebih baik. Why not?
Bagaimana dengan saya sendiri? Yang jelas saya tidak butuh “nembak” pacar atau menghadap penghulu untuk nikah lagi. Lha, wong anak sudah dua orang dari satu orang istri. Kalo membuat “make a wish” mungkin bisa jadi untuk dipikirkan, bro. “Hari geneee masih bikin make a wish? Terlambat, coy,” celetuk seorang teman yang suka mengkritik tidak pada tempatnya. “Emangnya kalo mau mengkritik harus ada tempatnya, ya,” protes suara dari dalam diri saya.
Oke, ok kita tinggalkan soal make a wish dan kritik-mengkritik. Bagi saya tanggal sembilan bulan sembilan di tahun dua ribu sembilan ini, saya telah menjalani ibadah puasa bulan romadhon hari yang ke sembilan belas. Karena hitungan puasa saya mengikuti cara pemerintah c.q. departemen agama, maka sudah lebih separoh bulan latihan dan training iman ini saya jalani.
Seharus kalo sudah selesai training keimanan selama sebulan, keluarnya harusnya dengan performance diri yang maknyus. Harapan saya, sih, emang begitu. Cuma waktulah nanti yang akan membuktikannya.
Nah, bagaimana tanggal sembilan bulan sembilan tahun dua ribu sembilan ente?
catatan : Diperlukan waktu seminggu lebih untuk bisa tulisan ini dapat dibaca oleh saudara-saudara sekalian diseluruh penjuru bumi. Sungguh rupanya internet sudah jadi barang mewah bagi saya saat ini. Ibaratnya kata lagu bang Rhoma : kalau sudah tiada baru terasa…
Ditulis dalam Uncategorized | 4 Komentar »