Ingin Kumenangis Mengingatmu

September 22, 2014

Wahai yang punya 11 november dan 6 januari

Kuulangi lagi rindu yang tak bertepi ini

Membuat ledakan dalam hati

Orang yang Terpilih

Juli 23, 2014

Blog ini diupdate karena rasa syukur dapat kiriman buku dari mas Agus Mulyadi di Magelang.

Kalo Yang Maha Pemberi sudah berkeputusan bahwa anda akan dapat sesuatu, maka jadilah dia. Perantara pemberi boleh jadi dari atasan, relasi bisnis, teman, orang tua, adik/kakak, ipar, pak de/bu de, mantan bos/mantan pacar atau siapapun. Saya hari ini mendapat kiriman buku dari mas Agus Mulyadi sipemilik blog http://www.agusmulyadi.web.id.

Karena rajin berkunjung ke blog beliau dan juga sering meninggalkan komentar, ndilalah, saya termasuk salah seorang yang mendapatkan buku gratis. Buku ini adalah buku pertama mas Agus yang diterbitkan. Sebagai rasa syukurnya mas Agus memberikan 3 eksemplar buku kepada tiga orang yang paling banyak memberikan komentar di blognya. Selain saya, yang lainnya adalah Andy MSE dan Indri Lee.  Nah, karena belum sempat saya baca, saya tampilkan foto buku itu dulu.

cover halaman depan

cover halaman depan

ada tanda tangan mas Agus Mulyadi, tapi judul diatas kok BUKU NIKAH? hehe...

halaman pertama ada tanda tangan mas Agus Mulyadi, tapi judul diatas kok BUKU NIKAH? hehe…

cover halaman dalam

cover halaman dalam

cover halaman belakang

cover halaman belakang

 

Nah, karena buku ini nampaknya juga sudah dijual di toko buku seperti penampakan dalam posting ini, maka sebaiknya para pembaca segera bergegas ke toko buku besar setempat, mumpung masih baru, stok masih banyak dan belum diborong oleh orang-orang yang suka berbagi buku.

Isi buku ini dijamin bakal bikin anda fresh setelah membacanya lalu berha..ha..hi..hi.. Gak percaya? Lha, wong banyak posting di blog mas Agus Mulyadi yang sudah membuktikan itu. Padahal isi buku ini 40%  adalah artikel baru yang tidak ada di blog beliau. Tunggu apalagi, segeralah ke toko buku dan beli bukunya. Jangan berprilaku tak terpuji dengan membaca buku Jomblo Tapi Hafal Pancasila secara gratisan di toko buku, itu akan mengurangi penjualan hehe…

Terima kasih mas Agus Mulyadi, semoga segera dapat rabi :)

 

 

Nostalgia

Februari 22, 2012

Bagaimana rasanya mengunjungi tempat yang dulu pernah, bahkan sering kita lalui? Tentu punya nostalgia atau kenangan. Dan kenangan itu bisa jadi sentimental tersendiri bila kita melakukan napak tilas. Apalagi bila tempat itu dulu sering jadi tempat yang sering dilewati bersama dengan orang-orang terkasih.

Tiga setengah tahun secara terus-menerus bukanlah waktu yang lama, tapi juga bukan tempo yang sedikit untuk menghabiskan sebagian umur saya di kota Bogor. Sebelumnya saya juga sudah pernah selama delapan bulan bekerja di salah satu perumahan yang sekarang ada wahana hiburannya yang bernama The Jungle, tapi waktu itu berdiam di Citeureup, salah satu kecamatan dalam kabupaten Bogor. Selama jangka waktu itu banyak hal manis yang saya nikmati, tidak sedikit hal pahit yang juga saya alami. Kejadian manis akan jadi selalu dikenang, peristiwa pahit diambil hikmahnya dan dua-duanya terpatri dalam kenangan abadi dalam memori seorang Alris.

Nah, pagi ini 16 September 2011, saya sengaja melakukan napak tilas kecil-kecilan untuk mengenang secuil sejarah hidup yang saya lalui di kota Bogor. Mumpung ada kesempatan, pas lagi berada di kota Bogor dan ada kendaraan sepeda motor Honda SupraFit buatan 2007 yang setia menemani kemanapun saya bepergian selama dalam masa pengacara (pengangguran berbuat acara) ini. Begitulah rupanya kalau tukang bangunan lagi gak punya pekerjaan, bisa aja ngelayap suka-suka.

Keluar dari area kantor pemerintahan kotamadya  yang salah satu ruangannya yang cukup besar,  dipakai buat ruang siar dan ruang perangkat radio pemdakot setempat, Jalan Pajajaran sudah membentang. Saya ambil arah ke terminal bus Baranangsiang. Melewati Rumah Sakit Azra saya jadi sentimental dan hati jadi berteriak. Berteriak sejadi-jadinya, memori lama memanggil-manggil, lalu keluarlah kenangan menjelang kelahiran anak kedua saya. Pertengahan tahun 2007 sampai awal tahun 2008, rumah sakit ini adalah rujukan untuk pemeriksaan kehamilan yang kedua buat istri. Juga disinilah anak kedua saya, Rizki Nur Arina, dilahirkan. Terbayang ketika saya mengantarkan istri memeriksakan kehamilannya: antri mendaftar, menunggu di poli ibu hamil, menemani konsultasi dengan dokter kandungan dan antri lagi mengambil obat di apotik di rumah sakit itu. Terbayang juga kelakuan anak pertama saya, Ilma Nur Aulia, yang suka ngelayap dan tidak betah diam di ruang tunggu rumah sakit itu. Dia suka menengoki ruang tunggu bersama untuk beberapa poli yang tidak berada jauh dari ruang pendaftaran, karena di ruang tunggu itu banyak anak-anak seusianya yang ikut orang tuanya yang lagi menunggu panggilan untuk pemeriksaan dokter. Ilma suka sekali memalak ayahnya untuk dibelikan susu dan cemilan di  toko kecil yang ada disamping ruang apotik rumah sakit itu. Ah, anakku…

Lalu layar didepan mata saya memutar film ketika saya menunggui istri melahirkan anak kedua. Kami yang hanya berempat:  saya, istri, mertua dan anak saya tertua, -Ilma-, sabar menunggu datangya waktu melahirkan itu. Istri saya yang masuk ruang persalinan jam sembilan pagi, baru melahirkan  mendekati waktu magrib. Deg-degan menunggu apakah yang brojol anak laki atau anak perempuan akhirnya terjawab tanpa spekulasi, kepastian jenis kelaminnya bisa saya saksikan sendiri diruang persalinan itu. Saya yang ikut menunggui persalinan, ikut memegangi tangan istri ketika mengejan untuk mengeluarkan sibuah hati, membesarkan hatinya dengan penghiburan kata-kata, mengelap keringatnya, sesekali membelai rambutnya untuk sekedar memberikan rasa nyaman. Dan disitulah untuk kedua kalinya saya menyaksikan perjuangan antara hidup dan mati seorang anak manusia untuk melestarikan keturunannya yang hanya punya dua pilihan: hidup atau mati. Kalau sang ibu beruntung, jatah hidupnya di dunia belum habis, maka selamatlah dia. Sebaliknya yang terjadi maka tamatlah riwayatnya, tidaklah ada kesempatan sang anak untuk merasakan kasih sayang sang ibu, bahkan air susu pertamapun tidak dia rasakan. Disitu jugalah saya menyaksikan kebenaran insting seorang anak kecil. Sebelum kelahiran, saya bertanya kepada anak pertama saya, Ilma, apakah adiknya yang lahir nanti laki-laki atau perempuan. Tanpa ragu dia menjawab, bahwa adiknya adalah perempuan. Setelah perjuangan melelahkan dan menyakitkan akhirnya istri saya melahirkan anak kedua dan nyatalah dia seorang perempuan. Saya bersyukur anak saya lahir selamat ibunyapun dalam keadaan selamat. Setelah bayi saya dibersihkan perawat, saya memanggil anak tertua saya, Ilma, untuk masuk ke dalam kamar persalinan. Perawat memberikan bayi nan sehat yang cantik itu  kepada saya untuk digendong. Saya gendong, lalu memperlihatkan kepada kakaknya. Oh… alangkah gembiranya Ilma demi melihat bayi berkulit putih bersih itu, lalu dia meraba-raba tubuh sikecil dengan hati-hati. Kemudian bayi yang menggemaskan itu saya taruh di tempat tidur bayi dan saya kumandangkan azan untuk pertama kali diawal kehidupannya di dunia ini.

Sepeda motor saya melaju melewati Rumah Sakit Azra yang banyak kenangan itu. Secuil fragmen kehidupan saya tertinggal di rumah sakit itu dan akan terus abadi. Sampai di lampu merah pertigaan Jalan Pajajaran dengan Jalan Ahmad Sobana, -sebelum berganti nama Jalan Ahmad Sobana ini bernama Jalan Bangbarung Raya- saya berbelok ke kiri memasuki kawasan perumahan. Memasuki jalan membelah perumahan Tamara Duta kembali satu kejadian masa lalu melintas. Di pertigaan lampu merah saya pernah disemprit dan diberhentikan pak polisi karena membawa penumpang tanpa helm. Kalau saya, sih, memakai helm. Nah, sipenumpang ini lagi hamil delapan bulan dan diantara penumpang dan saya ada anak kecil berumur tiga tahun yang juga tidak pakai helm. Demi menghormati pak polisi saya meminggirkan sepeda motor yang saya piloti. Bertanyalah pak polisi kenapa penumpangnya tidak pakai helm. Saya jawab kalau kami terburu-buru, kejepit waktu pemeriksaan kandungan. Dokter yang akan memeriksa hanya punya waktu sampai jam sekian sementara kami yang datang dari arah perumahan Tamara Duta benar-benar sudah kasip sehingga tidak sempat mengambil helm. Pak polisi tidak menerima alasan saya. Maka bernegosiasilah saya dengan salah satu pak polisi yang menangkap saya, memohon pengertiannya, demi kemanusian mengantar ibu hamil dan bla..bla..bla.. lainnya. Akhirnya pak polisi melepaskan saya tidak kena tilang. Dengan mengucap terima kasih dan salam tempel saya menaiki sepeda motor kembali mengantarkan penumpang menuju Rumah Sakit Azra. Penumpang itu adalah anak dan istri saya. Sepeda motor itu masih setia mengantar saya sampai saat ini, lampu merah itu masih tetap ditempatnya masih menyala, pak polisinya bisa jadi sudah dipindahkan tugas, dan saya juga sudah melanglang buana ke beberapa tempat di bumi Indonesia. Saya dilanda kesepian dan kesedihan menatap lampu merah itu, ada yang hilang dalam hidup saya. Tapi lampu merah itu tak peduli…

Sepanjang jalan semi boulevard yang merupakan jalan utama yang membelah perumahan Tamara Duta itu saya lihat banyak bangunan komersial yang sudah didirikan. Dahulu di sepanjang jalan itu masih banyak rumah hunian, hanya sedikit bangunan yang berfungsi sebagai tempat usaha. Sekarang kebalikannya sedikit rumah tinggal, banyak rumah yang sudah dirubuhkan, lalu sebagai gantinya berdirilah ruko. Atau rumah yang dialih fungsikan menjadi tempat usaha, misal sebagai tempat makan, toko, tempat kongkow alias kafe, distro, klinik perawatan dan salon. Walau banyak bangunan yang mengorbankan pohon-pohon dipinggir jalan itu tetapi udara  jam setengah tujuh pagi itu tetap menghembuskan udara yang menyejukkan. Paru-paru saya dipasok udara bersih yang menyehatkan raga. Dalam hati saya berharap semoga Bogor tetap mempertahankan banyak pohon.

Sampai diujung Jalan Ahmad Sobana terdapat pertigaan, belok kiri jalan ke Warung Jambu, belok kanan jalan memasuki perumahan Indraprasta dan jalan tembus ke perumahan Vila Duta. Saya berbelok ke kanan memasuki Jalan Achmad Adnawijaya, dahulu jalan ini bernama Jalan Pandu Raya. Di Jalan Achmad Adnawijaya ini dulu ada sebuah rumah milik salah seorang personil band Ungu yang sering digunakan sebagai tempat kongkow anggota perkumpulan penggemar motor gede, sehingga sering saya dapati motor gede parkir di pinggir jalan depan rumah itu. Di rumah itu dulu juga kalau sore sampai malam berjualan makanan yang khas. Rumahnya dulu diberi nama Imah Hejo. Sekarang rumahnya masih bercat hijau tapi tidak berjualan lagi dan sewaktu saya lewat tidak ada motor gede yang parkir. Mungkin rumahnya sudah dijual personil band Ungu itu, sehingga anggota perkumpulan motor gede itu pindah markas. Begitulah pikiran saya tentang rumah itu.

Ada yang menggembirakan saya tentang Jalan Achmad Adnawijaya ini, banyak pohon tumbuh semakin besar di median jalan yang berbentuk bahu jalan ini. Walau didominasi pohon bintaro tak apalah, nampaknya pengembang perumahan ini ikut sadar akan pentingnya memelihara pepohonan sebagai pengurai udara beracun menjadi udara bersih, penyerap panas sinar matahari dan penahan air tanah. Seiring perkembangan penduduk dan kebutuhannya, orang juga jeli melihat kesempatan bisnis yang ada, maka berdirilah bangunan komersial untuk usaha atau rumah yang disulap jadi tempat usaha. Jalan Achmad Adnawijaya ini dulu sering saya lewati kalau mau menuju terminal Baranangsiang, Pasar Anyar, Pasar Ramayana, Pasar Bogor, Pasar Warung Jambu dan Botani Square kalau mau ke Jakarta memakai bus, ada keperluan logistik rumah tangga atau mengantar anak saya yang tertua berwisata ke mal terbesar di kota Bogor itu. Menyusuri jalan ini saya menyusuri masa lalu, kenangan tak bisa dienyahkan. Saya bergelut dengan emosi dan terpuruk dalam nostalgia masa lalu. Anak-anakku, sehat sejahteralah engkau hendaknya. Aamiin…

Saya meneruskan perjalanan berkendara sepeda motor sampai di jembatan yang melintasi jalan tol exit  kota Bogor. Saya berhenti sebentar di atas jembatan itu memandang terminal bus Baranangsiang yang ada di ujung jalan tol itu. Sebentar kemudian saya melanjutkan perjalanan memasuki Jalan Kol Achmad Sham. Nah, jalan di kampung Sawah ini dulu bernama jalan baru Vila Duta. Tidak banyak perubahan yang terjadi di lahan sebelah kiri jalan ini, masih banyak lahan kosong.  Sebelah kanan jalan perumahan Vila Duta masih berdiri megah. Saya memasuki perumahan Vila Duta dengan angan kapan saya memiliki rumah megah seperti yang banyak terdapat di perumahan ini. Saya suka perumahan ini karena masih banyak pohon, bersih, dan jalannya masih bagus, -walau  berlobang dibeberapa tempat.  Angan memiliki rumah di komplek perumahan ini telah membawa saya memasuki exit komplek. Saya mengambil jalan arah ke jalan utama yang membelah kota Bogor yang menuju Tajur. Di persimpangan bundaran Sukasari  saya lihat kemacetan sudah mulai menyesakkan kota Bogor. Dan dipersimpangan itu cerita nostalgia ini saya khatamkan.

terberkatilah engkau anakku

Kopi Ternikmat di Dunia

Desember 24, 2011

Saya mungkin sudah ribuan kali minum kopi (lebay dot kom), meskipun bukan seorang coffee addict. Sejak berumur enam tahun saya sudah menghirup dan menyedot cairan hitam pekat beraroma khas itu. Maklum sebagai petani yang salah satu usahanya adalah berkebun kopi, orang tua saya terutama ayah, adalah penikmat minuman kopi yang berhasil. Ya, berhasil setiap pagi membikin minuman kopi untuk dirinya sendiri kalau ibu saya lagi ngambek karena saban pagi harus menyediakan minuman kopi panas, minuman kesukaan suaminya. Berhasil  tiap pagi bangun subuh-subuh untuk menyalakan api di tungku, menjerang air sampai mendidih  dan membuat minuman kopi kalau dia lebih dulu bangun tidur daripada istrinya,-ya, iyalah ibu saya, karena selama hayat beliau dikandung badan saya gak pernah, tuh, punya ibu tiri. Berhasil menularkan kebiasaan minum kopi kepada tiga orang anak laki-laki, generasi penerus minum kopi selanjutnya.

Topografi daerah pedesaan dimana saya dilahirkan rupanya telah ikut berkontribusi melestarikan keturunan kami untuk menjadi peminum kopi dari generasi ke generasi. Daerah pegunungan dipagi hari memang berudara dingin, sehingga sangat cocok sekali bila menghangatkan badan dengan segelas minuman kopi dan menghirup asap rokok yang banyak mudharatnya itu. Sebelum melakukan aktifitas bertani meminum segelas kopi ini telah menjadi semacam tradisi dan ritual untuk mengisi perut dan menunda datangnya lapar lebih cepat. Sebagai bagian dari perbukitan Barisan yang memanjang sepanjang pulau Sumatera, tanah perbukitan di kampung saya, Muaralabuh, juga sangat cocok ditanam tanaman kopi. Sekitar tahun tujuh puluhan sampai tahun delapan puluhan kampung kami adalah salah satu penghasil kopi terbaik di Sumatera Barat. Jadi, ya, wajar saja kalau sebagian besar penduduknya peminum kopi. Lha, wong, penghasil kopi tentu yang jadi penikmat pertama enaknya hasil kebun kopi tentulah penduduk setempat. Tentu tesis ini akan berbeda kalau hal itu kita gunakan untuk pertambangan migas. Kalimatnya mungkin jadi begini: lha, wong, penghasil migas yang menikmati hasilnya tentu para pejabat terkait dan perusahaan multinasional situkang eksplorasi, dan produksi. Penduduk tempatan cukuplah sebagai penonton dan punya kebanggaan daerahnya masuk dalam peta dunia penghasil migas. Soal jadi penikmat seperti pekebun kopi lain cerita, coy…!!!     

Bagaimana dengan faktor keturunan? So, pasti sebagian besar penduduk pedesaan macam saya ini punya kebiasaan minum kopi turun-temurun. Tanah yang subur telah memanjakan tanaman kopi untuk tumbuh subur dan berbuah bagus. Karena punya tanaman kopi, setidaknya untuk kebutuhan sendiri, mereka, -para moyang saya- tidak perlu bersusah-susah blusukan ke Eropah untuk mendapatkan bubuk kopi. Cukup dengan mengolah hasil kebun sendiri, dan mereka sudah bisa mendapatkan bubuk kopi untuk kebutuhan keluarga. Begitulah yang saya lihat sendiri, ibu dari ayah saya alias nenek saya memang peminum kopi, ayah saya apalagi mungkin sudah kategori coffee addict. Macam minum obat saja ayah saya minum kopi, tiga kali sehari. Jadi kalau saya ikut jadi peminum kopi tidak ada kelainan, lha, wong dari sononya udah menurunkan gen pembawa sifat peminum kopi. Akan jadi lain kalau saya jadi peminum sereal, karena di kampung saya tidak ada tanaman sereal. Kalaupun saya minum sereal dipastikan itu sereal hasil impor dari negara jauh.

secangkir kopi nikmat

Sebagaimana ditulis di paragraf awal tulisan ini, saya minum kopi sejak berumur enam tahun. Setidaknya itulah yang saya ingat. Ketika kecil itu kebiasaan ayah saya yang minum kopi sebelum berangkat bertani rupanya menarik perhatian saya. Awalnya ayah saya tidak memberikan minuman kopi itu ke saya. Dengan mengatakan itu minuman obat, rasanya pahit. Kesan yang tertangkap diwaktu kecil ketika mendengar kata obat adalah rasanya pahit. Satu dua kali ayah saya memang berhasil membohongi saya untuk tidak ikut minum kopi ketika di pagi hari dia menikmati kopinya. Tapi lewat seminggu, karena ngototnya anak kecil, akhirnya ayah saya luluh juga. Diawali dengan mencicipi ujung sendok yang sudah dicelupkan ke gelas kopi, saya menikmati rasa minuman kopi pertama. Rasanya memang pahit, tapi ada terselip secercah rasa manis. Minum kopi perdana saya berakhir dengan kesan minuman kopi itu memang pahit dan tidak enak. Penilaian seorang bocah pasti. Saya penasaran, rasanya pahit tapi setiap pagi ayah rajin minum kopi. Suatu kali saya mencuri kesempatan minum kopi kepunyaan ayah tanpa di ketahuinya. Ndilalah, kok, kali ini rasa manisnya lebih dominan. Saya kepergok ibu ketika mau menikmati minuman kopi itu pada sendokan ke lima. Beliau cuma tersenyum dan bilang itu minuman ayah, anak kecil gak boleh minum banyak-banyak.

Puluhan tahun minum kopi apakah ada kelainan dengan ginjal anda? Sampai saat ini, puji syukur kepada Tuhan, seperasaan saya ginjal saya baik-baik saja. Berkemih saya sampai saat ini juga masih lancar-lancar aja, kecuali kalo lagi terserang sakit anyang-anyang karena meminum minuman panas dan dingin ber-es bersamaan dalam tempo yang tidak terlalu lama. Penyaring alami buatan Tuhan itu sampai saat ini masih bekerja normal menyaring minuman kopi dan minuman lainnya yang saya tenggak. Ginjal saya yang salah satu fungsinya menyaring zat-zat yang telah tidak terpakai (zat buangan atau sampah/limbah) yang merupakan sisa metabolisme tubuh nampaknya masih setia bekerja bagus. Sekali lagi saya bersyukur atas karunia Ilahi, ginjal bekerja tidak seperti mesin buatan manusia. Tidak terbayangkan bagi saya kalau ginjal harus service reguler setelah sekian lama bekerja, lalu overhaull setelah melewati sekian tahun operasi. Walau belum pernah general check-up maka saya berpikiran positif aja, ginjal saya baik-baik saja dan sehat.

Setiap orang mungkin punya kenangan paling berkesan saat minum kopi. Bisa jadi karena  racikan kopinya, tempat meminum kopi itu, karena sejarah warung kopi, karena lokasi daerah darimana kopi itu berasal atau bisa juga tersebab ada romantisme saat mendapatkan bojone atau ibunya anak-anak. Misal saat apel dulu ke rumah camer disuguhin kopi maknyus, atau si camer coffee addict sehingga kalo gak bawa bubuk kopi gak boleh ketemu si neng. Bermacam ceritalah bisa dikemukakan.     

Tempat yang bikin saya merasakan kopi terenak sedunia adalah sebuah kampung penyeberangan perahu klotok dipinggir sungai Kelampai, Ketapang. Saya tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan betapa nikmatnya kopi yang saya minum saat itu. Secangkir kopi dengan rasa manis yang tidak terlalu dalam, ditambah makanan kecil sepotong roti yang ada rasa manisnya sedikit. Kedua itu, minuman kopi dan sepotong roti, saya nikmati setelah menempuh perjalanan bersepeda motor selama dua jam ditengah terik panas matahari bumi khatulistiwa. Saya nikmati sambil membaca novel Bumi Manusia di warung berudara sepoi-sepoi di pinggir sungai. Rasa minuman kopi itu begitu nikmat mungkin karena rasa letih yang mendera tubuh saya, kerongkongan yang sudah kering kerontang, dan adanya hembusan angin sepoi-sepoi yang menyapu sekujur tubuh selama saya menikmati secangkir kopi. *foto saya dapat dari sini

Dimana Anda menikmati kopi ternikmat?

 

Malas

Desember 8, 2011

Saya  minta maaf buat pengunjung blog saya, setiap anda berkunjung memang tidak ada posting sampai saya publish tulisan ini, yang ketemu posting itu-itu melulu alias posting yang sudah uzur dimakan waktu. Memang tidak ada update  setahun lebih. Beberapa teman dunia maya mengingatkan saya untuk bikin posting baru. Apa daya semangat lagi redup, kemalasan memagut saya. Bikin catatan untuk bahan posting malas setengah hidup, menulis catatan kecil sekedar pemantik rasa cinta menulis lebih malas lagi. Apalagi menulis lebih panjang berbentuk satu karangan minta ampun malasnya. Gak tau kenapa super malas begini. Mungkin karena: tinggal di hutan; pekerjaan bertukang yang menguras tenaga; gak punya lepi kayak kaum menengah di perkotaan; pc kantor yang di password oleh sang komandan. Itulah yang mungkin membuat saya malas menulis. Eh bukan itu ding, bukan karena semua itu,bro. Yang dikemukakan tadi pasti  alasan seorang pemalas. Malas, ya, malas aja…

Tinggal di hutan bikin malas menulis? Justru sewaktu bekerja di hutan teman dunia maya saya ini banyak bikin posting. Bahkan dari kumpulan posting itu dia berhasil menjadikannya sebuah buku penghilang obat stress. Jadi gak ada alasan tinggal di hutan bikin malas menulis. Tinggal di hutan menjadikan malas menulis, itu hanya alasan bagi orang seperti saya yang memang belum mempunyai darah biru, eh salah, darah jiwa penulis. Sang penulis hebat Pramudya Ananta Toer mungkin menghasilkan Tetralogi Buru setelah bekerja rodi siang hari membabat hutan untuk membuat sawah, lalu waktu malam Beliau menulis novel-novel hebat yang mencerahkan itu. Tenaga terkuras disiang hari tidak membuat Beliau malas mengasah otak mencurahkan fikiran membuat tulisan diwaktu senggangnya. Jadi pekerjaan bertukang yang menguras tenaga ternyata tidak membuat malas menulis. Lagi ini hanya alasan pemalas.

Penulis hebat tahun 1800-an tidak mengenal pc, apalagi lepi. Mereka membuat tulisan pada lembaran kertas tulis. Ketika itu menulis paling canggihpun hanya memakai mesin ketik, tidak kenal mereka yang namanya computer. Toh, dengan peralatan yang ada saat itu mereka menghasilkan tulisan yang abadi. Tidak sedikit buah karya mereka merupakan tulisan terbaik sepanjang masa. Jadi tidak punya lepi atau pc bikin malas menulis? Ah, ini satu lagi alasan tidak perlu yang dikemukakan orang malas menulis.

Atau saya kehabisan ide buat membuat tulisan. Nah, ini satu lagi alasan yang tidak laku dan tidak logis yang dikemukan oleh sipemalas menulis. Ide datang dan dibiarkan pergi setiap saat. Apapun yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami bias jadi ide dan dikembangkan jadi bahan tulisan. Tidak perlu peristiwa yang dialami orang lain, kejadian yang dialami sendiri adalah sumber ide yang tak pernah kering. Misal, foto dibawah ini, adalah satu ide yang yang dapat dikembangkan menjadi tulisan.

hutan asli yang masih tersisa

Ini tentunya salah satu ide segar buat dijadikan bahan tulisan bagi orang yang biasa otaknya terlatih dan biasa menulis dalam otak, seperti dikatakan oleh uda Ersis Warmansya Abbas. Bagaimana hutan alami itu dipaksa bertransformasi jadi lahan kebun sawit seperti foto dibawah ini, barangkali ditangan seorang mahasiswa S3 bisa dijadikan bahan disertasi untuk menggondol gelar doktor.

hutan berubah jadi kebun sawit sejauh batas horizon

perlu kehati-hatian dan fokus kalau menaklukkan jalan ini

Salah satu bahan alam untuk membuat bangunan yang akan dibuat adalah pasir. Nah, cara penduduk tempatan mendapatkan pasir bisa menjadi bahan cerita untuk tulisan yang renyah.

menyedot pasir alam di sungai yang jernih alami

pasir kualitas nomor satu

Cerita mengenai kelompok rumah yang dibangun ditengah hamparan kebun sawit juga sangat memungkinkan untuk bahan tulisan yang memikat bagi otak terlatih menulis dan kreatif.

komplek perumahan ditengah kebun

rumah untuk pemetik buah, tukang pupuk dan sejenisnya. walau ditengah hutan tapi rumahnya bukan rss loh...

kalau anda setingkat grade..., maka rumah inilah nanti tempat tinggal anda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

mulus habis diperbaiki kalau gak hujan, tapi berdebu minta ampun...

Banyak sumber ide yang bisa dijadikan bahan tulisan yang selama ini saya sia-siakan dan berlalu begitu saja. Mudah-mudahan kali lain memori bisa dipanggil dan posting baru bisa mengalir lancar, selancar jalan layang non tol yang lagi dibangun dari Pasar Cipete Selatan ke Blok M, Jakarta.  *gak ada hubungan jalan layang ituh dengan posting ini kaleee…

catatan gak penting buat dhewe:
*ternyata draft posting ini sudah ngendon di blog ini sejak 22 September 2011, cuma gak di publish
*saya beberapa kali nyungsep di jalan berlumpur seperti foto diatas. sungguh terbukti saya tidak berbakat jadi pembalap sepeda motor, xixixi…

Terdamparku Disini

September 30, 2010

Disinilah aku sekarang, di pedalaman Ketapang. Sebuah kabupaten yang termasuk ke dalam wilayah Propinsi Kalimantan Barat. Kabupaten ini juga beribukota sama dengan nama kabupatennya, yaitu Ketapang.

Mengapa aku bisa sampai di Ketapang? Apakah aku dipindahkan tukang sulap, ilusionis, mentalis, hipnotis dan sejenisnya itu sehingga bisa berada di Ketapang? Atau ketika bermimpi aku berjalan bisa melewati segala rintangan, berjalan diatas air,  bisa terbang juga, tahu-tahu sampai di Ketapang? Kawan, semua itu tidak terjadi atas diriku. Kalau ilusionis, mentalis, hipnotis, tukang sulap dan sejenisnya itu bisa memindahkan orang antar pulau secara massal pemerintah tidak perlu pusing memikirkan segala macam moda transportasi massal yang terjangkau oleh daya beli rakyat. Pemerintah cukup mengadakan tukang sulap dan konco-konconya sebanyak-banyaknya. Hanya diperlukan usaha menyekolahkan rakyat untuk dibentuk jadi tenaga handal untuk jadi ilusionis, mentalis, hipnotis, tukang sulap yang nantinya bertugas sebagai alat mobilitas yang murah dan efektif. Bisa dipastikan biaya untuk menyekolahkan tukang sulap dan sejenisnya itu jauh lebih murah daripada biaya pembangunan infrastruktur transportasi. Tapi syukurlah pemindahan orang dan benda lainnya oleh seorang tukang sulap dan kaum sejenisnya hanya terjadi di acara televisi yang ditayangkan malam hari.

Ikhwal keberadaanku bisa sampai di Ketapang jelas melalui alat transportasi, tidak bisa bim salabim, abra kadabra, lalu secepat kilat -kilat yang mendahului datangnya petir itu- dalam hitungan detik diriku mencelat terbang melayang secara ajaib tanpa dilihat mata manusia dan tiba-tiba sampai di Ketapang. Tidak sesederhana dan semudah itu. Ada proses yang aku lalui secara kasat mata.

Kemiskinan sering membawa orang kepada hal-hal yang tidak baik. Itu sudah sering dikatakan para pensyarah agama. Para penganjur kebaikan yang tanpa mematok tarif itu, -semoga saja tetap begitu adanya- menganjurkan supaya memerangi kemiskinan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Kalau pemerintah jangan ditanya lagi, memanglah tugas pemerintah menghilangkan rakyat yang miskin. Eh, salah omong, maksudku pemerintah berkewajiban mengentaskan kemiskinan dari rakyatnya. Terkadang sering kemiskinanlah yang terlebih dahulu melenyapkan rakyat tidak berpunya dari muka bumi daripada usaha pemerintah. Misal, seorang penduduk meninggal dunia terkena sakit malaria karena tidak terobati. Dia tidak sanggup beli pil kina yang murah, murah versi yang punya uang tentu saja, tersebab kemiskinannya.

Kadang aku bertanya, biarlah itu jadi pertanyaan konyol, benarkah pemerintah berusaha melenyapkan kemiskinan? Sekian bulan menganggur tidak ada satupun  pegawai pemerintah yang menemuiku untuk sekedar bertanya mengapa aku menganggur. Bahkan Pak RTpun, kalau Beliau itu masih dianggap sebagai kepanjangan tangan pemerintah, tidak sudi menanyakan statusku apakah masih berstatus pegawai swasta sebagaimana aku dulu mengisi formulir untuk membuat KTP dan pada baris pekerjaan kuisi dengan kata pegawai swasta. Aku, orang udik ditengah kota, merasa dicuekin. Diabaikan kadang terasa sangat menyedihkan. Apalagi, ada aparat pemerintah, yang menawarkan solusi atas persoalan pengangguran yang saya hadapi. Tidak ada itu, kawan! Dari situasi seperti itu aku suka mengambil kesimpulan dini dan mungkin saja tidak benar, -suka-suka yang menilailah-,  pemerintah memang tidak ada urusan dengan aku sebagai pengangguran. Beda kalau aku ini pengusaha atau menduduki jabatan puncak suatu perusahaan bonafid  pasti ada perhatian pemerintah kepadaku. Lha, iya, pasti ada perhatian minimal tersangkut pajak yang harus kusetor kepada pemerintah. Aku adalah penduduk negeri, rakyat yang jadi pengangguran. Dan rupanya pemerintah tidak peduli denganku. Karena aku adalah adalah rakyat, maka pemerintah tidak peduli dengan aku tersebab pengangguran. Amboi..! Sungguh suatu konklusi yang prematur hasil olahan pemikiran yang dangkal tanpa data valid, hanya berdasar rasa putus asa seseorang tanpa pekerjaan. Kesimpulan ngawur ini tidak dianjurkan untuk diikuti.

Daripada meratapi kegelapan, nyalakanlah lilin untuk menerangi kegelapan itu. Demikianlah nasihat bijak yang sering kubaca di buku-buku motivasi dan self help. Aku mengartikannya daripada menyalahkan pihak lain, -pihak pertama yang pasti disalahkan oleh para penganggur pasti pemerintah- lebih baik berbuat untuk memecahkan masalah diri sendiri. Mengharapkan orang lain untuk memecahkan masalah diri sendiri adalah perbuatan langka yang jarang ditemui dijaman nafsi-nafsi ini. Orang lain sudah sibuk guna menyelesaikan problemnya sendiri, sehingga tidak punya waktu untuk menyelesaikan masalah orang lain. Tapi, kawan, untuk membuat masalah kita selesai memang melalui orang lain atas usaha kita sendiri. Tuhan pun akan membantu menyelesaikan masalah kita melalui perantara orang lain. Dan pertolongan Tuhan datang melalui silaturahmi. Artinya punya hubungan baik dengan sesama. Maka berderinglah teleponku disuatu hari.

“Halo..halo…,” suara seseorang dari seberang sana, suara yang sudah kukenal.

“Halooo…,” aku jawab dengan huruf O dibunyikan panjang untuk meyakinkan kalau dia mendengar suaraku.

“Gimana kabar, bos.”

“Baik, juragan.” jawabku

“Ngerjain proyek dimana sekarang?”

“Sudah hampir dua bulan ini nganggur,” aku menjawab dengan penekanan pada kata nganggur.

“Mau gak kerja di Kalimantan?”

“Asal cocok, kenapa tidak?”

“Saudara saya lagi cari Pelaksana untuk proyek infrastruktur kebun sawit di Ketapang.”

“Boleh, boleh… Aku minta nomor teleponnya, ya. Aku akan hubungi langsung saudara Pak Warno itu. Nanti kutanyakan bagaimana prosedurnya kepada dia,” kataku bersemangat macam anak kerbau yang baru ketemu induknya setelah disapih tiga hari. Gembira bukan kepalang.

“Namanya Mukhlas, ini nomor hpnya. Catat ya, nomornya: nol delapan satu dua, satu nol tiga enam, lima nol….(edited).”

“Ok, sudah kucatat. Suwun, yo. Kuhubungi dia secepatnya, abis ini aku SMS dulu dia untuk perkenalan.”

“Iya, semoga sukses,” kata teman saya itu. Setelah sedikit bercerita ngalor-ngidul kami mengakhiri percakapan itu dengan sebuah ucapan salam keselamatan cara agama yang saya yakini.

Usai pembicaraan pertelepon yang membahagiakan itu, aku berkirim SMS kepada saudara Mukhlas, isinya mengenalkan diri dan menanyakan kebenaran informasi dari saudara sepupunya. Hpku kembali berdering, dilayar kubaca nama Mukhlas.

“Halo, halo, ini mas Alris, ya?” suara Mukhlas dari seberang sana.

“Ya, saya sendiri.”

Rupanya Mukhlas sudah mendapat sedikit informasi mengenai pengalaman kerjaku dari saudara sepupunya. Juga  profil tentang aku sudah diceritakan seperlunya oleh saudara sepupunya itu.

“Gimana, emang minat mau kerja di Kalimantan?”

“Kalau cocok kenapa tidak?” jawabku

“Saya butuh Pelaksana dan dua orang Logistik proyek. Kalau mas Alris minat, bikin surat lamaran lengkap antar langsung ke PT….(edited) alamatnya di Jl. Hayam Wuruk no….(edited), Harmoni, Jakarta.”

“Oke, mas. Aku bikin lamaran lengkap itu. Nanti hari rabu kuantar ke alamat yang disebutkan tadi. Terima kasih, lho, sudah kasih info ke aku.”

“Nanti kalau ada yang tanya, bilang rekomendasi dari Mukhlas, Site Manajer yang di Ketapang. Kalau bisa ketemu Pak…(edited) sekalian. Itu direktur operasionalnya,” Mukhlas menjelaskan.

“Ok, mas, siap,” jawabku. Kegembiraan terpancar di wajahku secerah sinar matahari menjelang sore Jakarta saat itu.

Setelah berbasa-basi dan saling mengucapkan sukses, pembicaraan indah itu aku akhiri dengan ucapan salam khas yang berlaku umum versi agama yang aku anut.

Esoknya aku menyiapkan persyaratan yang dibutuhkan untuk sebuah lamaran pekerjaan. Membuat surat lamaran kerja; curriculum vitae bin riwayat hidup; memfotokopi ijazah, surat pengalaman kerja, KTP, SIM C; membuat pas foto ukuran 4×6 cm. Bahkan NPWP pun saya buatkan hardcopy-nya,-rasanya tidak afdhol hidup kalau berdiam di negeri gemah ripah loh jinawi tidak punya NPWP, bayar pajak itu lain persoalan. Setelah semua syarat untuk sebuah lamaran pekerjaan lengkap, seluruh berkas itu kumasukkan ke amplop berwarna coklat yang bertali diujungnya. Besok hari akan saya antarkan lamaran itu ke perusahaan kontraktor yang diinformasikan oleh sdr. Mukhlas.

Rabu, 7 Juni 2010, -Kawan, aku ingat persis tanggalnya- hari itu sekitar jam sembilan pagi dengan keyakinan tinggi dan rasa optimis meluap aku berangkat dari tempat kumenginap di Depok. Dengan konsentrasi terpusat pada jalan raya yang dilalui aku melaju pakai sepeda motor buatan Jepang menuju kantor perusahaan kontraktor yang akan kulamar itu. Dibutuhkan waktu dua jam dari Depok sampai ke daerah Harmoni, Jakarta dimana lokasi perusahaan itu berada. Setelah menemui pegawai front office, menyampaikan maksud kedatanganku, aku disuruh oleh pegawai itu menghadap Bapak J yang berada di lantai dua kantor itu. Aku naik ke lantai dua, masuk ruangan Bapak J langsung diterima yang bersangkutan. Aku serahkan berkas surat lamaran. Dibaca Beliau, lalu:

“Sudah lama kenal sama Mukhlas?”

“Baru, Pak,” kataku.

“Saudara sepupunya temanan sama aku, kami  pernah bekerja dalam satu proyek yang sama,” aku menambahkan. Setelah sedikit bicara pengenalan diriku, Bapak J memberitahukan, bahwa wawancara berikutnya seminggu lagi, masalah teknis, akan dilakukan oleh Bapak A. Aih.., kata wawancara selalu bikin aku dagdigdug.  Basa-basi ala kadarnya, lalu aku mohon diri dari ruangan Bapak J dan segera pulang.

Seminggu kemudian aku kembali menyambangi kantor perusahaan, bertemu dengan Bapak A. Setelah berkenalan, Bapak A membaca cvku dan mulai bertanya atas pengalaman kerja yang tertulis di cv itu. Aku memberikan penjelasan singkat, tidak bertele-tele, jelas dan langsung kepada apa yang dimaksud oleh yang tertulis dalam cv itu. Beliau cukup puas mendengar penjelasanku. Atau mungkin dia punya waktu pendek sehingga sengaja menunjukkan raut muka puas, mana taulah awak!

Bapak A berkata, “Semua penjelasan tadi perlu pembuktian dilapangan. Bisa saja cv dibuat sebagus mungkin, tapi kalau tak cakap dalam bekerja? Manalah laku.” Aku mengamini sabda Beliau dengan takzim. Lalu Bapak A memberikan tantangan untuk berangkat ke lapangan dalam waktu dekat. Lapangan adalah penamaan lain dari proyek yang sedang dikerjakan biasanya berada jauh dari kantor. Aku terima tantangan itu dengan syarat hari raya lebaran idul fitri aku dipulangkan ke Jakarta transportasi ditanggung perusahaan. Lalu aku minta dievaluasi  setelah lebaran. Kalau kinerjaku memuaskan perusahaan, silahkan dikirim lagi ke proyek. Jika performace aku tidak memberikan kontribusi positif buat perusahaan kontrak kerja antara aku dan perusahaan tidak usah dilanjutkan. Beliau setuju dengan permintaanku itu. Aku kembali disuruh menghadap Bapak J tiga hari setelah wawancara itu.

Sesuai dengan yang dijanjikan Bapak A supaya menghadap lagi ke Bapak J, maka tiga hari kemudian aku bertemu lagi dengan Bapak J. Pembicaraan dengan Bapak J berlangsung tidak terlalu lama, sekitar setengah jam. Beliau cuma menjelaskan hak yang saya terima sebagai karyawan, contact person, jalur komunikasi dalam proyek dan kapan aku diberangkatkan ke lokasi proyek di Kalimantan. Pada saat itu aku minta draft kontrak kerja dengan  perusahaan. Setelah item-item kontrak disetujui, pada saat itu juga kontrak kerja langsung aku tandatangani. Tiga hari setelah penandatangan kontrak kerja, aku diberangkatkan ke  lokasi proyek yang berada, nun jauh, di pedalaman Ketapang, Kalimantan Barat. Kenapa nun jauh? Dusun terdekat dari proyek, yaitu dusun masyarakat Dayak setempat, berjarak 10 kilometer. Kalau mau ke ibukota kabupaten, Ketapang, maka harus berkendara motor selama lebih kurang delapan jam, -kalau cuaca baik- dengan sekali menyeberangi sungai dengan perahu klotok. Angkutan umum hanya ada dalam mimpi. Bahwa mimpimu akan jadi kenyataan, yaitu ada jalan negara dengan perkerasan yang memadai, tunggulah waktu 10 atau lima belas tahun lagi. Itupun Anda belum keburu dipanggil ke alam lain oleh Sang Khalik. Proyeknya berada di tengah kebun sawit milik salah satu konglomerat negeri ini.

Dimulailah pengabdian, penghambaan diri tepatnya, untuk orang lain jilid berikutnya dalam hidupku. Inilah keadaan benci tapi butuh.
Tulisan ini ada copy paste-nya disini.

catatan lebay:
Atas kebaikan Site Manajer Proyek aku bisa mengetik dan posting tulisan ini. Terima kasih IndosatM2.
Aku posting tulisan ini dengan diiringi lagu Nikita by Elton John. Ingatanku melayang ke anak-anakku, airmataku meleleh. Cengengkah..?


Daripada Gak di-Update

September 9, 2010

Naa.. lama nian blog Alris tidak diupdate, ya. Memang begitulah kenyataannya, kawan. Ibarat mau makan besar, ini Alris beri dulu makanan pembuka. Nanti menyusul posting tentang kemana aja selama ini Alris  “nyungsep dan tenggelam.”  Sementara ini foto-foto dulu,ya. Satunya foto narsis salah satu my angel: motivator ulung nomor satu sedunia.

Kalau hujan beginilah jalan yang kami lalui setiap hari jika mau pergi dan pulang kerja. Keluh-kesah tidak berlaku disini, kawan!

Inilah salah satu motivatorku, penyemangatku, untuk berbuat terbaik dalam menjalankan "siksaan menyenangkan" itu. Tak cukup kata untuk mengungkapkannya.

Dan tahukah anda senjata yang  bisa mengalahkan malaysia kalau kita berperang melawan mereka? Abra kadabra… ini dia:

Tidak perlu repot-repot kita berperang untuk melumpuhkan negeri jiran yang sering mengklaim produk budaya Indonesia sebagai milik mereka dan sering melecehkan negara kita, cukup ekspor sebanyak-banyaknya barang ini ke negara mereka.

Nah, kalau yang foto terakhir itu didapat dari situs kaskus.us. Copy paste dari posting ini ada disinan.

Bodong

Juli 14, 2010

Istilah bodong biasa dikaitkan dengan suatu barang yang tidak dilengkapi dengan surat-menyurat yang sah.  Suatu barang dikatakan bodong lazimnya tidak diminati oleh pembeli yang waras. Kalaupun ada yang nekad membeli barang bodong pasti niatnya membeli barang itu untuk mengambil suatu keuntungan.

Bagaimana status seseorang yang menduduki suatu jabatan yang teramat penting di negeri ini tanpa dilengkapi landasan hukum yang sah? Apakah dia berhak menduduki dan menyandang predikat jabatannya itu? Menurut pendapat pribadi saya, yang bukan sarjana hukum, kalau orang menduduki suatu jabatan tanpa landasan hukum yang jelas,  maka dia tidak sah menduduki jabatan itu. Mendapat sebutan jabatannya saja tidak berhak apalagi mengaku-ngaku sebagai sebagai pejabatnya. Kalau begitu ya, bolehlah disebut bodong, atau kalau tidak abu-abu. Tidak mungkin jabatan suatu institusi negara harus disamakan dengan dunia preman yang berlandaskan ucapan sang bos. Asal sudah keluar perintah lisan sang bos maka sianak buah resmi menyandang jabatan yang diperintahkan sang bos. Bakalan tidak ada yang berani membantah, apalagi mempertanyakan hasil fit and proper test segala. Dunia preman, coy!

Kalau untuk menduduki jabatan institusi negara tentuk tidak harus disamakan dengan organisasi preman. Tidak harus begitu bukan? Harus punya tata tertib, punya standar tertentu dan yang penting ada payung hukumnya. Kalau cuma perintah lisan, lalu seseorang bisa menduduki jabatan tertentu,  bisa kacau negara.  Lha, negara tidak ada aturan, pasti kacau. Nanti banyak orang mengaku-ngaku pejabat dan menduduki jabatan tertentu tanpa ada aturan main, hanya berdasarkan perintah lisan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pernyataan Yusril Ihza Mahendra, yang mempersoalkan keabsahan jabatan Hendarman Supandji sebagai jaksa agung menarik untuk disimak dan dicermati. Bagi saya pribadi ini menyangkut dengan satu kata: BODONG.

Sebagaimana diketahui Yusril Ihza Mahendra bukanlah sarjana teknik lalu memangku jabatan dibidang hukum. Diketahui orang banyak kalau dia adalah guru besar hukum tata negara. Untuk sampai ke tingkat mendapatkan predikat guru besar hukum tata negara tentu dia sudah melalui pendidikan dan memenuhi persyarat yang ditentukan oleh institusi yang memberikan gelar dia sebagai guru besar. Kalau anda tidak percaya omongan saya, tanya saja lembaga ini mengenai benar apa tidak Yusril Ihza Mahendra guru besar hukum tata negara.

Menyangkut kredibilitas jabatan yang diemban oleh Hendarman Supandji, bahkan ketua Mahkamah Konstitusi , Mahfud MD, mengakui jabatan itu memang bermasalah terkait dengan administrasi hukum. “Ada problem hukum dalam jabatan Pak Hendarman. Kalau menurut UU Kejaksaan, Jaksa Agung itu adalah jaksa karir, maka Pak Hendarman harus sudah pensiun karena usia,” kata Mahfud MD sebagaimana dimuat korat Berita Kota, 3 Juli 2010. “Menurut UU Kementerian, Jaksa Agung itu pejabat setingkat menteri, seperti Kapolri dan Panglima TNI. Memang, jabatan setingkat menteri itu tidak ada pensiun. Masalahnya kalau Hendarman Supandji, sebagai Jaksa Agung diangkat seperti menteri , harus diangkat lagi dengan SK pengangkatan dalam kabinet,” ungkap Mahfud MD. Nah, kawan, seorang Ketua Mahkamah Konstitusi saja sudah mengakui ada problem dalam jabatan yang diemban oleh Jaksa Agung sekarang.

Mahkamah Konstitusi bukanlah lembaga main-main. Lembaga ini berhak dan berwenang membatalkan hukum yang dibuat oleh lembaga legislatif lain. Sudah banyak aturan hukum berbentuk perda isinya ngawur yang dibatalkan oleh lembaga terhormat ini. Semoga nanti keputusan yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi terkait uji materi pasal 19 dan pasal 22 UU Kejaksaan yang diajukan Yusril Ihza Mahendra dapat memberikan pencerahan kepada kita yang buta akan mengartikan pasal itu. Sekadar diketahui, mantan Menteri Hukum dan HAM itu mengajukan uji materi pasal 19 dan 22 UU Kejaksaan dihubungkan dengan Pasal 1 dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945 sebagaimana tertuang dalam Keppres 187/M tahun 2004; Kepres 31/P tahun 2007; dan Kepres 83/P tahun 2009.

Ada dasar hukumnya yang dijadikan landasan untuk mengatakan bahwa Hendarman Supandji adalah sah sebagai Jaksa Agung, sebagaimana yang sering dikatakan oleh Menteri Sekretaris Kabinet, Sudi Silalahi. Beliau mengatakan landasannya adalah UU Kementerian Negara. Saya tidak menemukan satupun kata Kejaksaan dalam UU Kementerian Negara itu. Saya yakin tidak ada kesalahan menyalin oleh Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Negara RI, Wisnu Setiawan. Saya sudah membaca undang-undang itu sebelum tulisan ini saya posting.  Disini saya buatkan link undang-undang yang dimaksud, tinggal anda klik ini.

Tulisan ini tidak bermaksud untuk memihak kepada Yusril Ihza Mahendra tersangkut dia ditetapkan sebagai tersangka kasus sisminbakum. Tidak ada untung atau ruginya bagi saya dia dijadikan tersangka. Dia dihukum, saya tidak rugi, dia bebas murni saya juga tidak beruntung. Begitupun dengan Hendarman Supandji, dia sah sebagai Jaksa Agung saya tidak untung, apalagi dia tidak sah sebagai Jaksa Agung saya juga tidak rugi. Tulisan ini hanya ekspresi dari olah pikir, ternyata saya bisa juga bikin tulisan walau tidak ada mood. Nunggu mood kapan jadinya tulisan, sampai datang lebaran kuda juga tidak bakalan ada tulisan baru di blog saya ini, hehehe…

Para blogger, selamat menulis. Kalau mau menulis jangan tunggu mood, menulis, ya, tulis saja. Semoga anda semua nanti bisa menghasilkan tulisan hebat seperti novelis yang saya kagumi ini, Andrea Hirata. Btw, saya belum bisa beli novel terbaru Andrea Hirata karena memang belum ada dana buat membelinya. Maklum profesi pengacara (pengangguran banyak acara) ternyata banyak mendatangkan mudarat daripada manfaatnya. Ada yang mau nyumbang novel itu? Saya tunggu dengan tangan terbuka dan hati cerah, secerah pagi ini menyambut Jakarta.

Love

Juli 5, 2010

cinta itu…
bagaikan anak panah yang siap menancap kemana arah yang ia tuju…
kuat,erat, dan tak akan mampu berkarat
cinta itu…
tak sepaham dengan logika.
cinta itu…
tak mampu melihat perbedaan
cinta itu…
tak mempunyai MATA
tapiiii!!!!!!!!
kita harus mempunyai MATA HATI, agar kita bisa melihat seberapa dalam ia mencintai kita…

Dari membuka file seorang teman saya temukan puisi diatas. Menurut saya cukup menarik, maka posting.


Sudah Terpenuhi

Juni 30, 2010

Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Tuhan yang maha segalanya. Setelah melalui masa penantian panjang (belasan tahun) akhirnya saudara kita, YUSRIAL, penderita lumpuh kaki sudah mendapatkan apa yang diimpikannya selama ini, yaitu sebuah kursi roda.  Terima kasih kepada semua penyumbang, semoga bantuan yang diberikan akan dijadikan amal ibadah berlipat ganda oleh NYA. Sisa bantuan yang tersisa akan diberikan kepada yang berhak. Sekali lagi terima kasih semua.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 92 pengikut lainnya.