Alrisblog

tiada henti belajar

PHK akibat Krisis Mortgage

Baiklah dimulai dari berita yang saya kutip dari situs Detik dot com sebagai berikut, “Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Depnakertrans) telah mendapatkan laporan resmi sejumlah tenaga kerja yang akan dirumahkan oleh beberapa perusahaan diseluruh Indonesia. Setidaknya terdapat 13.000 karyawan bakal mengalami nasib mengganggur sementara karena akan dirumahkan di perusahaan mereka bekerja. Hal ini disampaikan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Erman Soerparno di Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (20/11/2008)”.

Saya menjadi prihatin dan miris membaca berita tersebut. Ingatan saya melayang ke tahun 1998 ketika krisis moneter melanda sebagian kawasan dunia termasuk Indonesia tercinta negera kita. Beberapa saat setelah krisis menerpa Indonesia jutaan karyawan perusahaan terkena perampingan karyawan alias pemutusan hubungan kerja alias phk. Waktu itu beruntung saya tidak kena phk karena diselamatkan oleh keadaan dimana saat itu saya bekerja sebagai supervisor pekerjaan sipil pembangunan suatu proyek yaitu pembangunan pabrik pemintalan benang (spinning mill) milik salah satu konglomerat dizaman Suharto (sampai sekarang sih anak-cucunya konglomerat tersebut masih konglomerat). Saya yang bekerja di lapangan tidak di phk karena memang dibutuhkan untuk terus-menerus mengawasi pekerjaan yang sedang berlangsung, walaupun irama pekerjaan yang dulu sebelum krismon melanda ibarat lari marathon setelah krismon menjadi jalan santai. Proyek yang seharusnya diselesaikan dalam waktu enam bulan molor seperti gelang karet kerendam minyak tanah menjadi satu setengah tahun. Teman-teman saya yang tidak memegang job atau proyek yang lagi ditangani di-hold oleh owner dengan sangat terpaksa di PHK oleh perusahaan. Lha, iyalah nggak mungkin perusahaan menggaji orang nganggur. Kalau nganggurnya gak kelamaan mungkin masih ada kebijakan perusahaan untuk mempertahankan, tapi waktu itu semua serba kelabu, tidak jelas sampai kapan masa krismon akan berakhir. Lagian perusahaan kan orientasinya profit, bukan badan amal. Masa bikin perusahaan untuk nirlaba. Adakah badan usaha yang tidak berorientasi profit? Harusnya ada, yaitu koperasi. Tapi ketua koperasi zaman sekarang juga harus melek hukum yang berhubugan dengan bisnis kalau tidak bisa masuk hotel…hotel prodeo. Gak percaya? Simak dong berita yang lagi hangat belakangan ini, mantan ketua koperasi di Dephumkam dijebloskan ke tahanan oleh KPK. Lucu ya, orang hukum bisa jadi terhukum walaupun saat tulisan ini dibuat statusnya masih tersangka.

Sekarang krisis kembali menghampiri negeri kita. Penyebab krisis kali ini bukan moneter seperti tahun 1998. Biangnya adalah macetnya kredit kepemilikan rumah (Subprime mortgage) di Amrik sana. Heran, KPR di Amerika yang macet seantero dunia ikut kena getahnya. Rupanya dunia memang semakin kecil. Ibarat pohon Amerika adalah pohon yang sangat besar, raksasa yang rakus, sehingga apapun yang terjadi dengan pohon itu akan berpengaruh terhadap lingkunganya. Untuk memenuhi kebutuhannya pohon itu mendatangkan segala macam dari segenap penjuru dunia, sebagai contoh garment didatangkan dari China & kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia; minyak dia sedot dari Timur Tengah. Dengan adanya kebutuhan mengimport dari negara lain maka bergairahlah perekenomian di negara-negara yang selama ini jadi penghasil komoditas kebutuhan si raksasa. Akibat krisis yang terjadi di tubuh sang pemakan rakus itu, maka efek dominonya akan dirasakan dimana-mana.

Di tempat saya bekerja sekarang efek itu sudah dirasakan, proyek yang sedang dilaksanakan yang berasal dari salah satu operator telekomunikasi yang sahamnya tidak dimiliki pemerintah sudah di-hold. Tenaga supervisi lapangan sudah ditarik ke kantor. Kalau pekerjaan di-hold kelamaan tentu akan membawa akibat tidak sehat bagi perusahaan yang ujung-ujungnya tentu saja phk bagi karyawan. Sebagaimana ditulis diatas perusahaan orientasinya profit bukan badan amal. Jadi krisis kali ini bagi karyawan seperti saya sama saja dengan krismon tahun 1998 lalu, ujung-ujungnya…anda sudah tau jawabannya. Kalau anda pegawai negeri tentu tidak akan pusing, lha wong dijamin pemerintah. Belum ada sejarahnya di negeri ini pegawai negeri di phk gara-gara krisis.

Bagaimana kalau hantu yang menakutkan itu, phk, menimpa keluarga anda? Bisa menimpa suami sebagai kepala keluarga dan pemain tunggal dalam mencari nafkah, istri yang bekerja sementara suaminya jadi pengasuh anak di rumah, anak sebagai tulang punggung keluarga, atau suami istri sekaligus boyongan yang kena phk. Yang jelas tidak seorangpun menginginkan hal itu terjadi. Bahkan bermimpi aja mungkin gak ada yang mau. Kecuali phk-nya enak kayak pegawai BPPN dulu, begitu kena phk bisa buka usaha dari duit pesangon atau cari kerja lagi di unit usaha yang dikelola BPPN. Kalo phk ala BBPN dulu pasti banyak yang mengajukan diri abis enak sih, dapat duit banyak dan bisa kerja lagi. Kalau anda kena phk gak usah bingung, atau kirim sms ke nomor-nomor aneh untuk menanyakan nasib. Pede aja lagi, yang penting anda wajib hukumnya berfikir rasional, ikhtiar alias kerja keras, manfaatkan jaringan pertemanan yang sudah terbentuk selama ini dan bagi yang beragama berdo’a-lah meminta kepada Tuhan Yang Maha Pemurah.

Perlu diingat anda jangan kalap, karena krisis ini terjadi akibat kalapnya perusahaan mortgage dengan memberikan ratusan kredit sektor perumahan berisiko tinggi kepada orang-orang dengan keuangan yang payah. Jangan pergi ke dukun, lha wong dukun sendiri gak bisa bikin dirinya kaya. Kalau anda seorang yang punya keahlian tertentu mungkin itu bisa jadi modal dalam menjemput rezeki. Anda punya intuisi sebagai seorang pedagang, begitu kena phk saatnya membuktikan dan mengasah kemampuan. Jadi jangan lupa banyak jalan menuju Roma. Ingatlah kata Alexander Graham Bell, “Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka”. Gak salah juga meyakini apa yang dikatakan oleh salah satu tokoh dalam novel Andrea Hirata, “Bermimpilah! Maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu…” Mulai dari sekarang saatnya untuk memelihara mimpi. Suatu waktu anda akan mewujudkannya.

Bagaimana menurut sampeyan? (sorry, Pak Ersis kalimat trade mark postingannya saya bajak)

November 23, 2008 Ditulis oleh alrisblog | Uncategorized | | & Komentar