Mengapa Mereka Sukses
“Saya tidak gagal, tetapi menemukan 9994 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan yang gagal.”
Itulah kalimat yang diucapkan oleh Thomas Alfa Edison, ketika ditanya, bagaimana ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal. Penemu bola lampu dan pendiri perusahaan kelas dunia, General Electric ini telah membuktikan ucapan, ketabahan, semangat dan tekadnya yang tidak pernah mengenal kata menyerah dan kemampuan bangkit kembali untuk kesekian kalinya setelah gagal. Kegigihan Thomas Alfa Edison telah dibuktikan dengan kegemilangannya memberi kita penerangan diwaktu gelap dengan cahaya listrik. Terbayangkan malam tanpa penerangan dari yang namanya boghlam dan sejenisnya itu, setan gentayangan dimana-mana dan pake acara penampakan segala, hihihi…
So, berapa kali saya gagal tidak jadi soal. Kata Valentino Dinsi dalam bukunya “Jangan Mau Seumur Hidup Jadi Orang Gajian,” yang penting kemampuan untuk bangkit kembali setiap kali jatuh. Katanya seseorang yang mampu bangkit kembali setelah jatuh, tidak akan putus asa. Menyedihkan jika ada orang yang baru dua kali gagal memilih untuk menetap ditempat kegagalannya. Dan ketahuilah alris, bahwa begitu banyak orang yang berhasil membuat temuan mengagumkan adalah karena kegigihan dan bangkit kembali setelah terjatuh. Charles Goodyear yang tekun membuahkan ban yang memungkinkan kendaraan melaju kencang dan kecepatan mobil balap F1 setara pesawat jet. Ketabahan Wright bersaudara berhasil menciptakan pesawat terbang yang bisa membuat penyanyi Elton John sarapan pagi di Paris dan makan siang di New York. Bethoven mengisi dunia dengan musik yang inspiratif dan bahkan musik ciptaan dia bisa dijadikan salah satu terapi untuk kesehatan. Ketegaran Helen Keller memberikan harapan kepada semua orang cacat.Ternyata kesuksesan itu butuh passion dan persistence. Itu sudah dibuktikan oleh Bp. Alfi Hendri pemilik http://tandike.com yang selama empat tahun merugi. Pak Alfi bisa bertahan dan akhirnya berjaya dengan menjadi distributor resmi 14 merk outdoor equipment dan safety equipment dari berbagai negara karena punya passion dan persistence. Dan dalam masa krisis ini Beliau sudah mendapatkan sebuah mobil Hummer dari bonus yang diberikan oleh perusahaan prinsipal di mana dia menjadi agen tunggal produk tersebut di Indonesia. Really, really smart. Bonus mobil itu menurut saya hanyalah salah satu buah gairah dan kegigihan dia berbisnis. Jangan lihat puncak gunung es keberhasilannya, tapi perlu saya pelajari dan ambil hikmahnya : sukses itu butuh proses.
Tanpa kegigihan, ketabahan dan semangat pantang menyerah penemu mobil tidak akan mungkin saya bisa pergi-pulang ke Karawang dalam waktu hitungan jam. Kalo tidak ada temuan jenius dari Gottlieb Wilhelm Daimler dan Carl Friedrich Benz sampai beberapa ratus tahun bahkan bisa jadi sampai hari ini mungkin kita masih menggunakan angkutan pedati, -seperti foto yang saya ambil tiga tahun lalu di daerah Binuang, Kalimantan Selatan- untuk mobiliasasi barang dan orang. Tentu makan waktu berjam-jam, bahkan bisa dalam hitungan hari menempuh perjalanan pergi pulang untuk jarak puluhan kilometer.

Dengan penemuan yang hebat jarak Jakarta – Karawang dengan menggunakan bus bisa saya tempuh kurang dari satu jam. Berkat kegigihan seorang penemu mesin ATM, telepon selular dan teknologi telekomunikasi saya bahkan bisa mencheck saldo tabungan disalah bank plat merah sambil beol di wc umum di depan UKI Cawang beberapa hari yang lalu. Berkat semangat tidak kenal kata menyerah, bangkit lagi, bangkit lagi dan bangkit lagi akhirnya para penemu menuai kesuksesan. Banyak orang juga sukses bukan sebagai penemu, tapi memberikan hal yang berbeda atas temuan orang lain. Bangsa Jepang begitu sangat pandai memberikan nilai tambah pada sebuah mobil. Jadilah mereka menguasai pasaran mobil dunia, padahal mereka bukan bangsa penemu mobil. Kata Pak Tridjoko di blognya ada adagium “ilmu ditemukan di Eropa, dikembangkan di Amerika, dibuat produknya di Jepang, dan dipakai oleh orang Indonesia.” Jadi kalau adagium itu benar, konsekuensi logisnya Eropa hanya menemukan teori saja, tapi yang membuatnya menjadi “competitive advantage” orang Amerika, tapi orang Eropa dan Amerika kalah karena in the end of the day yang membuat dan menjual produknya ke pasaran adalah orang Jepang. Maka sebagaimana yang kita lihat hari ini bangsa Jepang menuai keberhasilan secara ekonomi dengan ketekunan dan kegigihan mereka.
Posting kali ini sebenarnya adalah untuk membangkitkan kembali semangat untuk bangkit lagi. Sebagai seorang unemployment saya sering dilanda idleness. Untuk melawan kemalasan mungkin tiap orang punya tips dan cara sendiri untuk melakukannya. Kalo cara saya salah satunya dengan membaca buku, sharing menimba ilmu dengan orang yang sudah berhasil, juga kalo sempat ke warnet browsing internet liat situs-situs yang asyik. Asyik bukan pornografi, lho. Karena sekarang semakin canggih warnet untuk melindungi konsumennya dari pengaruh negatif porno dengan memblok situs-situs porno, salut. Blusukan kemana aja yang bisa menimbulkan passion juga sangat bermanfaat, bisa ke pasar, ,mengunjungi sentra produksi, ke mall -kalo yang ini sudah jarang banget dilakukan- dan tempat lainnya yang bermanfaat. Asal jangan ke lapangan sepakbola yang lagi ada caleg kampanye, kalo itu mah cuma dapat hiburan nyanyi dangdut dan janji-janji caleg yang belum tentu dia ingat apalagi ditepati kalo dia terpilih jadi anggota dewan legislatif.
Kalo baru sekali dua kali gagal dan gak berani bangkit lagi, saya merasa begitu cemen setelah membuat posting ini. So, what gitu lho. Ayo bangkit Alris, semangat. Ingat anak dan istri-mu juga tidak akan nolak kalo diberi bonus mobil Mercy seri C 230 Avantgarde AMG. *sambil membayangkan nyetir mobil Mercy di jalan tol jagorawi menuju Puncak, wekekeke…*
-
Arsip
- Desember 2009 (3)
- November 2009 (1)
- Oktober 2009 (2)
- September 2009 (1)
- Agustus 2009 (2)
- Juli 2009 (1)
- April 2009 (1)
- Maret 2009 (2)
- Februari 2009 (4)
- Januari 2009 (8)
- Desember 2008 (6)
- November 2008 (4)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS