Ngemplang

Tanggal 8 Oktober 2008 kemaren saya membayar pajak sepeda motor (PKB) di Samsat kota Bogor. Sebagai orang yang pertama kali mengurus pembayaran pajak secara langsung, tentu perlu bertanya sana-sini. Dimulai dari nanyain lokasi gedung pembayaran untuk pajak sepeda motor sama tukang parkir, setelah di dalam gedung tanya lagi sama pegawai Samsat loket untuk pengurusan pajak sepeda motor. Sampai di loket pengurusan tidak terjadi antrian. Dimulai dari konter pendaftaran diminta STNK asli dan KTP asli lalu sama petugasnya dikasih form pendaftaran. Setelah form pendaftaran diisi diserahkan ke petugas penetapan dengan dilampirkan STNK asli, hard copy STNK, KTP asli dan hard copy KTP. Petugas penetapan pajak menghitung besaran nilai pajak yang akan dikenakan kepada wajib pajak plus dendanya kalau pembayaran pajak sudah melewati batas jatuh tempo. Dari petugas penetapan pajak dilanjutkan ke kasir, yang mengantar berkas dari penetapan pajak ke kasir adalah pegawai Samsat. Menunggu beberapa lama, lebih kurang 15 menit, lalu nama saya dipanggil petugas kasir. Petugas memberitahukan berapa nilai pajak yang mesti saya bayar. Setelah pembayaran dilakukan di kasir sesuai nilai nominal yang tetapkan, petugas kasir memberikan secarik kertas bertuliskan nilai nominal dan dicap lunas. Kertas ini dibawa ke konter pengambilan SNTK, menuggu lagi beberapa menit. Setelah 10 menit nama saya dipanggil, ke meja konter pengambilan lalu petugas menyerahkan STNK asli yang baru dan KTP asli. Hanya dalam waktu 35 menit selesai sudah pengurusan pembayaran pajak sepeda motor saya. Terima kasih Samsat kota Bogor, pelayanan anda cukup memuaskan, tidak memungut tambahan biaya macam-macam dan tidak ada calo (yang saya alami). Salute buat kepala kantor Samsat, para petugas dan walikota Bogor.

Nah, saya ingin berbagi dengan para pembaca postingan ini.
Dalam penetapan pajak sepeda motor, saya dikenakan sanksi administrasi sebesar Rp. 53.500,- (lima puluh tiga ribu lima ratus rupiah). Sedangkan pokok pajak yang mesti saya bayar adalah sebesar Rp. 160.000,- (seratus enam puluh ribu rupiah). Jadi besarnya nilai sanksi administrasi adalah sebesar 33,44% dari nilai pokok pajak. Kalau dilihat prosentase sanksi administrasi nilainya cukup besar, sepertiga terhadap nilai pokok pajak. Sanksi administrasi ini dikenakan karena eksekusi pembayaran pajak sepeda motor saya sudah melewati batas jatuh tempo. Jatuh tempo pembayaran pajak sepeda motor saya tanggal 28 Februari 2008, jadi sudah melewati batas waktu jatuh tempo tujuh bulan satu minggu. Lalu apakah saya protes, gak ikhlas dan merasa terpaksa membayar pajak beserta dendanya? Tidak sama sekali, saya ikhlas dan ridho, kok. Pada akhirnya toh uang pajak itu dikembalikan ke kita dalam bentuk pembangunan dalam berbagai bidang, salah satunya adalah yang setiap hari saya gunakan yaitu jalan raya. Yang saya tidak ikhlas adalah penggunaan uang pajak itu digunakan untuk hal-hal yang tidak pantas dan melukai rasa keadilan.

Saya membaca koran harian Kompas terbitan 10 Oktober 2008. Di halaman sepuluh koran tersebut tertulis berita dengan judul KRISIS KEUANGAN Bos AIG Bermewah-mewah dengan Dana Talangan. Dilaporkan bahwa bos AIG mengeluarkan duit 440.000 dollar AS atau sekitar Rp. 4,23 miliar untuk kumpul di St Regis, tempat peristirahatan di selatan Los Angeles, California. Mereka berkumpul sambil menikmati spa, berpesta, dan menjajal lapangan golf. Tak ada kesan bahwa AIG sedang di terpa krisis. Mereka melakukan itu sehari setelah pemerintah AS memberikan dana talangan sebesar 85 miliar dollar AS. Apa lalu kakek/nenek, bapak /ibu, saudara/saudari kakak/adik pembaca blog ini protes ke saya. Lho, itukan terjadi di Amrik sana? Apa hubungannya dengan pajak sepeda motor yang saya bayar? Nah, itu dia hubungannya dengan postingan ini. Bukankah dana talangan yang diberikan pemerintah AS kepada AIG berasal dari pajak yang dipungut dari rakyat AS. Lalu setelah dana talangan mereka terima malah digunakan, walaupun cuma “sedikit”, untuk hal yang tidak pantas dan sangat jelas melukai rasa keadilan. Kata sedikit sengaja saya tulis dalam tanda kutip untuk bisa anda nilai sendiri. Anda yang patuh bayar pajak tentu dengan niat pajak itu bisa digunakan untuk kesejahteraan rakyat, bukan untuk membiayai perusahaan swasta atau korporasi yang salah urus dan korup. Kalaupun digunakan untuk menolong perusahaan swasta yang collapse tentu masih berharap uang itu kembali utuh minimal utang pokoknya kalau tidak sekalian dengan bunga dan dendanya. Kalau tidak kembali utuh jangankan dengan bunga dan dendanya bahkan cuma 20% dari utangnya, itu namanya ngemplang. Lha, kalau bayar pajak lalu digunakan pemerintah untuk membiayai korporasi bobrok yang ngemplang, bagaimana menurut sampeyan?

Memang ada perusahaan atau korporasi yang ngemplang di negeri tercinta ini? Ho.ho..ho… kemana aja, mas. Banyak, artinya lebih dari satu. Dizaman krisis ekonomi malah perusahaan dan korporasi bobrok, korup dan salah urus yang ngemplang itu diberi dana talangan oleh pemerintah. Dana talangan itu berasal dari pajak yang anda bayar. Lalu setelah memakan waktu lama dan berlarut-larut dalam mencari solusi yang didalangi oleh IMF untuk mengembalikan utang pokok, bunga dan dendanya kepada Negara, pemerintah yang baik hati memberikan surat bebas utang dan bebas penuntutan alias Release and Discharge (R&D) kepada sipemilik perusahaan yang kampret ini, setelah sipemilik perusahaan menyerahkan asset yang dimilikinya. Berapa nilai asset yang harus diserahkan, cukup 20% – 30% dari utang. Kenapa cuma 20% – 30% dari nilai utang? Karena menurut pemerintah yang berkuasa dan IMF sebagai dalangnya, recovery rate 20% dianggap sudah wajar ketika dalam kondisi krisis. Dan tahukah anda ternyata asset yang diserahkan itu nilai real-nya lebih kecil dari hitungan-hitungan konsultan yang disewa untuk menilai. Lho, wong sudah dimark-up sesuai pesanan. Benarkah para pengemplang itu menyerahkan assetnya ke pemerintah. Ternyata tidak, begitu surat penyerahan asset ditandatangani, oleh pemerintah asset itu diserahkan kembali ke pengemplang untuk dikelola. Bahkan waktu R&D ini mau ditandatangani, mereka para pengemplang itu, disambut karpet merah karena dianggap koperatif.
Gila, utang seratus dibayar dengan perusahaan yang nilainya hanya 20 dan diberikan surat bebas utang dan bebas penuntutan. Kata Pak Kwik Kian Gie aneh, pelanggaran pidana bisa ditiadakan oleh perjanjian perdata dan yang diminta dari pengemplang hanya itikatd baik. Itu (itikad baik) sih gampang. Para pengemplang mengerutkan dahi sambil pura-pura nangis menyerahkan semua perusahaan yang sudah digerogoti bertahun-tahun. Sudah ngemplang, foya-foya, invest besar-besaran di luar negeri dari duit ngemplang akhirnya dikasih surat bebas utang dan bebas penuntutan. Ueeenak tenan… Lha iya lah ,masa iya dong duren aja dibelah gak dibedong, wakakaka…

catatan : supaya lebih seru, deg-degan, gregetan dan mungkin anda bisa dendam & marah baca buku Pikiran yang Terkorupsi karya Kwik Kian Gie. Kalau saya sih enjoy aja abis baca buku itu🙂

5 Tanggapan to “Ngemplang”

  1. Syamsuddin Ideris Says:

    Parahhhh juga nih….
    Berarti pengemplang dana rakyat di negeri ini sama saja dong dengan rampok…..
    Tapi malah di hormati dan disambut dengan karpet merah oleh pemerintah kita…hiks..hiks..hiks..Maling ayam saja babak belur dipukuli padahal nominal yang diambilnya cuma buat makan sehari.

  2. dyahsuminar Says:

    Memang …sama dengan saya, rasanya gak iklas dengan penggunaan pajak di negeri ini. lha wong kebutuhan dasar masyarakat kurang mampu masih banyak…kok yang dibangun untuk yang lain lain…Soale mereka jarang seperti kita…hari hari bersama mereka yang kurang mampu…yang butuh sehat, butuh sekolah, butuh rumahnya layak huni,butuh air bersih, butuh MCK umum, butuh sanitasi yang baik…halaaah…Ibu kok ngelantur

  3. alrisblog Says:

    —> Syamsuddin Ideris
    Mereka bukan hanya kaya tapi juga cerdik, Pak Guru. Banyak orang pintar yang mereka “akali” dan dibeli. Ternyata orang pintar kalah sama orang cerdik.Bicara cerdik jadi ingat cerita waktu kecil mengenai kancil.🙂

    —> Bu Dyah
    Semoga perjuangan bu Dyah dalam mewujudkan program yang baik dan mulia itu mendapat sokongan dari banyak pihak dan sukses, amiiin.

  4. yulism Says:

    Percumah mas Marah dan Dendam dengan orang seperti itu. Membuat sakit psycologis, lebih baik kita mencurahkan semua fikiran berusaha berbuat yang terbaik untuk diri sendiri dan orang terkasih secara jujur dan tidak merugikan orang lain. thanks

  5. marshmallow Says:

    kironyo indak njenengan doh, yo? manggia uda se lah wak.

    saya pikir, pemerintah mau dikibuli begini tentunya bukan karena bodoh, tapi ada keuntungan (pribadi) juga kan, da?
    wah, membaca pos ini saya jadi mengerti lobi-lobi tingkat tinggi yang selama ini seolah-olah rumit dinalar.
    terima kasih, da alris.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: