Pit-Stop

Lomba balap jet darat baru saja berlalu, seperti yang telah diketahui bersama akhirnya Lewis Hamilton keluar sebagai kampiun setelah melalui perjuangan yang berat sejak awal musim dan melewati saat yang menegangkan di seri terakhir di Brazil. Ada satu tahap dalam lomba yang sangat menentukan berhasil tidaknya seseorang dalam menjuarai satu seri. Bagian itu apa yang disebut sebagai pit-stop. Dalam kehidupan ini ternyata juga sangat diperlukan pit-stop untuk menentukan keberhasilan. Berikut saya ambilkan tulisan Jamil Azzaini dari bukunya “Buku Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia”

“Pit-Stop” Kehidupan

Sekali waktu tontonlah sampai tuntas adu balap mobil Formula Satu di televisi. Semua pembalap berlomba memenangkan pertandingan, memacu mobil sekencang-kencangnya. Ternyata, hal terpenting dalam strategi untuk memenangkan perlombaan adalah pit-stop, masuk ke jalur atau kawasan tempat mobil akan disegarkan kembali dengan menambah bahan bakar dan mengganti bannya yang sudah terkikis. Di pit-stop pula biasanya strategi balap diperhitungkan. Memasukkan mobil ke pit-stop dalam waktu yang tepat bisa memperbaiki atau menentukan posisi dalam balapan.

Dalam kehidupan sehari-hari, pit-stop dapat mewujud dalam berbagai bentuk. Misalnya, mengikuti pelatihan atau pencerahan, membaca buku yang mencerahkan, salat lima waktu bagi yang beragama Islam, berdoa dengan penuh kesungguhan, beristirahat makan siang, atau bercengkerama dengan sahabat dan keluarga. Pit-stop membantu kita meraih kehidupan yang utuh.

Banyak orang yang kelihatannya bekerja begitu keras untuk meraih kesuksesan hidup. Yang banyak terjadi adalah justru mereka bagai kelelawar tak mampu melihat. Mereka terlalu sibuk dan tak mampu melihat kehebatan dan polah tingkah buah hati mereka yang lucu. Mereka tak tahu betapa dalam cinta dan perhatian pendamping hidup yang mereka miliki kepada mereka. Mereka juga tak menyadari begitu banyak inspirasi kehidupan baru sebenarnya sudah tersedia di sekitar mereka. Bahkan, terkadang mereka tak menyadari dan tak tahu siapa diri mereka sendiri. Mereka begitu sibuk sehingga tak mampu memahami makna sesungguhnya dari kehidupan ini.

Bila kita terlalu sibuk, kita lupa untuk menikmati hidup. Kita melakukan banyak kegiatan namun kita lupa apa yang kita lakukan dan untuk apa kita melakukannya. Kita hanya melakukannya tapi tanpa hati. Kita hanya melakukannya, tapi tanpa visi. Kita melakukannya, tapi tanpa jiwa. Walau kita sibuk, hidup kita kering dan gersang.

Saatnya kita melakukan pit-stop. Renungkanlah untuk apa kita hidup? Mau kemana setelah kehidupan ini berakhir? Sudah berapa lama usia perkawinan kita? Lalu, hal terbaik apa yang pernah kita berikan kepada pasangan hidup kita? Luangkanlah sejenak waktu (pit-stop) untuk mendengarkan celoteh dan cerita anak kita dengan penuh perhatian. Antarkan dan dampingi mereka ke tempat yang mereka amat senangi. Berperilakulah seolah-olah kita adalah teman sepermainan buah hati kita. Kunjungilah orangtua kita, berceritalah tentang pengalaman bahagia kita bersama mereka dulu. Tanyailah masa kanak-kanak kita yang membuat mereka bahagia. Minta izinlah untuk tidur di atas pangkuan mereka. Mohonlah agar tangan mereka yang telah keriput membelai dan mengusap wajah kita. Kecuplah tangan yang dulu pernah memandikan dan menimang kita.

Begitu pula, kunjungilah para sahabat, guru sekolah, maupun guru kehidupan kita. Datangi pula orang-orang yang berjasa dalam hidup kita. Kunjungi tetangga, dan jangan lupa kunjungi dan tengoklah rumah ibadah yang juga merindukan kehadiran kita.

Lakukanlah pit-stop agar hidup kita semakin bermakna. Pit-stop menjadikan hidup kita lebih hidup.

7 Tanggapan to “Pit-Stop”

  1. Syamsuddin Ideris Says:

    Yap..benar sekali Uda Alris, kita harus rajin merefresh mesin kehidupan kita di pit stop. Standarnya sih 5 kali sehari. Tapi kalau mau menanambah dengan pitstop yang “sunat” malah akan lebih dicintai Sang Pencipta mesin kehidupan.

  2. dyahsuminar Says:

    Setujuuu..pencerahan yang sangat bermanfaat. Rata rata kehidupan sekarang demikian,sibuk,kerja keras,repot nggak sempat silaturahmi….tahu2 tidak mengerti untuk apa semuanya.terimakasih tulisannya bermanfaat

  3. Denmasrul Says:

    Nice posting.. saya kadang ngelakuin hal-hal seperti itu.. tapi kadang nggak krasa kalau manfaatnya besar buat kehidupan ini..🙂

  4. marshmallow Says:

    tulisan yang benar-benar menggugah, da.
    memang saat mata kita sedang tetutup oleh kesibukan kerja, rasanya tak ada hal lain yang pantas diperhatikan selain itu. padahal secara fisiologis tubuh kita juga perlu istirahat, otak kita perlu penyegaran, jiwa kita perlu dimanja, dan orang-orang terdekat perlu perhatian kita.

  5. Oemar Bakrie Says:

    Analogi yg sangat mengena dan patut kita renungkan agar hidup tidak sekedar rutinitas tanpa makna. Salam kenal Uda Alris, terima kasih sudah berkunjung ke blog saya.

  6. 1nd1r4 Says:

    Analogi yang menarik dan bisa direnungkan untuk segera dipraktekkan dalam kehidupan kita🙂

  7. kajiankomunikasi Says:

    “Pit-stop kehidupan”! Istilah cerdas. Saya salut orang yang mampu mengambil pelajaran dari suatu peristiwa secara filosofis. Dialah manusia pembelajar sejati, uda Alris. Salam hangat dan terima kasih telah tukar tambah link:mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: