EMAK

Ketika dikejar waktu untuk berangkat kerja disatu proyek renovasi kantor di Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta. Salah satu alternative moda angkutan yang memberikan waktu tempuh lebih cepat adalah menggunakan kereta api, KRL reguler. Asal tidak ada halangan yang disebabkan oleh human error maupun force majeur waktu tempuh masih lebih cepat jika dibandingkan menggunakan kendaraan bus umum atau sepeda motor sebagai biker.

Menunggu kedatangan kereta api di stasiun Bogor, berdiri di peron bagian ujung yang tidak begitu banyak antrian penumpangnya.
“Mak, lapar mak…” seorang anak laki kecil, berumur sekitar delapan tahun. Rambut coklat kumal dan pakaian lusuhnya hampir mengelabui mataku untuk sekejap melihat tubuhnya yang sedikit kurus, juga mata cekungnya.
“Lapar?… nih cari makan dulu, baru bisa makan…” hardik sang ibu sambil melemparkan sebuah alat musik terbuat dari potongan papan yang bagian ujungnya diberi tiga tutup botol minuman teh dipakukan (kencrengan), yang biasa dipakai para pengamen jalanan.

Saya jadi ingat masa sekolah dulu. Zaman ketika saya sekolah SLTA dan kuliah di ibukota propinsi di satu propinsi di Sumatera. Setiap pulang dari desa Emak selalu memaksaku untuk membawa sayuran seperti cabe, bawang merah, terong, kacang tanah, kentang disamping ransum wajib berupa beras, minyak goreng dan kelapa sebelum kembali ke kota. Emak selalu khawatir saya kehabisan persediaan untuk makan sebelum kiriman ransum wajib bulan berikutnya datang. Tapi, tidak jarang saya katakan sama Emak kalau saya malu membawa begitu banyak bahan makanan. Kayak orang mau pergi masuk hutan mencari kayu cendana, yang bisa pergi berhari-hari tanpa ada jaminan akan mendapatkan hasil. Lha, saya inikan tujuannya ke kota. “Saya kan laki-laki Mak, hanya anak perempuan yang membawa persediaan sebanyak ini. Lagipula…”
“Ah sudahlah bawa saja. Disuruh bawa saja susah, apalagi disuruh mencari…,” sela Emak tanpa bisa kubantah lagi.

Tepat setengah jam menanti kereta api yang ditunggupun datang. Berebut para penumpang masuk ke dalam kereta untuk mendapatkan bangku tempat duduk. Berhenti di Stasiun Pasar Minggu ikut berdesakan turun dari kereta supaya tidak terlambat, karena waktu turun yang begitu cepat, lebih kurang 20 detik. Duduk sejenak dibangku panjang yang disediakan deket tukang cendol untuk istirahat setelah dalam perjalanan dari Bogor tidak dapat bangku duduk, berdiri sepanjang perjalanan.

“Mak, kok dari kemarin makannya nasi tempe melulu. Sesekali beli ayam dong, Toto kan pengen makan ayam…”
“Oalah To, orang susah kok pengen makan ayam, bapakmu cuma tukang pungut sampah. Masih syukur ada yang bisa kita makan,” ujar sang ibu sambil menyuapi anaknya yang lain. Juga dengan nasi plus tempe.
Saya menarik nafas panjang. Kemudian bayangan saat makan kemaren -disalah satu rumah makan masakan padang- ketika dijamu salah satu subcont melintas. Betapa banyak lauk-pauk yang terhidang untuk disantap. Tapi yang dihabiskan sedikit, kebanyakan cuma dicomot sebagian dan sisanya sudah pasti jadi makanan sisa, kemungkinan akan terbuang percuma masuk tong sampah. Entah berapa banyak lagi makanan yang terbuang sia-sia karena prilaku makan yang tidak baik dan boros ini. Saya jadi ingat kebiasaan yang ditanamkan Emak, kalau makan harus dihabiskan tidak boleh bersisa satu butir nasi-pun. Untuk mendapat satu butir nasi, kata Mak harus menunggu selama empat bulan dan pengorbanan lainnya. Mengambil nasi tidak boleh banyak sekaligus, secukupnya. Kalau kurang silahkan nambah lagi. Tidak boleh makan terlalu kenyang, tidak baik untuk kesehatan dan kalau kekenyangan bikin ngantuk pesan Mak. Orang kekenyangan otaknya gak bisa diajak mikir.

Tok, tok, tok… suara pintu kamar kos diketuk dari luar.
“Assalamualaikum…,” suara salam diucapkan dengan intonasi datar. Dari nada bunyi suaranya saya dapat mengenal suara itu. Itu pasti suara uda Iwan, kakak sepupu satu nenek. Jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Masih pagi untuk ukuran bagi sebagian penghuni warga kota Padang. Gerangan apa sepagi ini uda Iwan datang ke tempat kos. Kalau tidak penting-penting amat tidak mungkin dia berkunjung. Pintu kamar kos saya buka.
“Waalaikumsalam, eh da Wan. Ada apa, da. Tumben pagi-pagi nongol ke tempat kos,” jawab saya sambil mengucek-ucek mata berusaha menghilangkan rasa kantuk karena tidur kemalaman.
“Al, berkemaslah bawa pakaian, kita pulang kampung,” jawab uda Iwan.
Saat uda Iwan mengatakan berkemas dan bawa pakaian ingatan melayang kepada Emak. Selintas wajahnya menghapiri. Terbayang penyakit yang diderita beliau, sakit jantung dan darah tinggi. Hati mengatakan Emak sudah…
“Al harus tabah, ya. Semalam jam 04.00 Emak telah telah dipanggil menghadap Allah swt,” uda Iwan berkata sambil memegang pundak saya. Dunia serasa runtuh.
Hanya air mata yang mengalir membasahi pipi sepanjang perjalanan menuju kampung halaman Muaralabuh.

31 Tanggapan to “EMAK”

  1. marshmallow Says:

    kenangan akan orang tercinta memang selalu membuat perasaan haru. sungguh besar pengorbanan ibunda hingga anak-anak beliau menjadi orang berhasil seperti sekarang.

    doa saya buat beliau, da alris. insya Allah lapang kuburnya, dan dimudahkan jalannya menuju surga yang abadi. amin.

    @ marshmallow
    “ribuan kilo jalan yang tempuh, lewati rintangan demi aku anakmu”
    Syair lagu Iwan Fals itu salah satu yang selalu mengingatkan saya akan emak. Jasa emak tidak akan pernah terbalas, ya.
    Emak saya meninggal belasan tahun lalu. Terima kasih doa-nya.

  2. telmark Says:

    beberapa dtk yg lalu, saya ngasih komen di blog-nya cy, ttg postingnya dgn masalah yg sama. (dia ttg anaknya).

    Seorang Ibu, mau tak mau menjadi orng terdekat dgn kita sbg anaknya. kalau Ibu anda sdmkian rupa bisa mengajari sang anak, spy tdk membuang makanan, spy tdk kelaparan, or dsb-nya, and pny Ibu yg patut dikenang.

    ingat, utk dikenang. tdk utk terus diratapi. karena Ibu anda sdh bahagia disana. kalau kita menangis, berarti kita iba diri. merasa sedih, karena kitalah yg ditinggalkannya.

    Ujian ini, bila kita lulus, kita akan mendapatkan hadiahnya kelak. percayalah itu.. so, wk up!
    Someday, saya yg membutuhkan hiburan dan teguran ini. karena semua orang pasti akan mengalaminya. thanks utk kunjungannya, my friend.

    @ telmark
    Saat itu saya tangisi karena belum sempat buat membahagiakan beliau. Saya tidak akan meratap, mengirimkan doa adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan saat ini. Terima kasih juga sudah mampir, kawan.

  3. Rossa Says:

    sesungguhnya, semua nya pasti akan kembali kepada-Nya..
    turut berduka cita ya..
    aku merinding membacanya.
    hiks*
    jadi kangen emak..
    semoga arwah nya di terima di sisi-Nya dan mendapat tempat yang terbaik disana.
    amiiin..

    @ Rossa
    Selagi masih ada emak berbaktilah. Amin

  4. Syamsuddin Ideris Says:

    Cobaan terberat adalah jika kita kehilangan orang yang paling kita cintai. Tapi kenyataan itu memang harus dan akan datang seiring berjalannya waktu.
    Kita kembalikan saja kepada hakekat hidup ini. Semuanya adalah kepunyaan yang di atas. Jika dia ingin mengambil tentu saja tidak ada yang bisa mencegahnya. JIka sudah begitu maka hati akan tenang menghadapi kehilangan seberat apapun.

    @ Syamsuddin Ideris
    Kata firman Tuhan setiap yang bernyawa akan mati. Kita berharap khusnul khotimah.

  5. han han Says:

    walaupun kita telah kehilangan orang yang sangat kita sayangi namun orang tersebut akan tetap tinggal di hati kita untuk selamanya… semoga amal ibadahnya di terima disisiNya… amin.

    @ han han
    Amin

  6. randualamsyah Says:

    Salam.
    Apalah yang bisa saya ucapkan di atmosfir sedih disini?

    @ randualamsyah
    Sepenggal kenangan sekian belas tahun lalu. Tidak ada kesedihan yang mendalam, cukup di jalani aja.

  7. marsudiyanto Says:

    Tak ada yang lebih besar perhatian & pengorbanan seseorang pada kita, selain perhatian & pengorbanan seorang emak.
    Ikut berdoa semoga Ibunda Mas Arlis mendapat tempat yang layak disisi Allah SWT.

    @ marsudyanto
    Kasih ibu sepanjang jalan, tak pernah putus. Amin.

  8. riumanjisen007 Says:

    terima kasih mas alris, salam kenal juga dari riumanjisen..

    @ riumanjisen007
    Sama mas, udah mampir ke blog saya.

  9. Sassie Kirana Says:

    Sie bisa mengerti perasaan kamu..
    Karena sie juga mengalaminya
    http://www.sachzqirana.wordpress.com/2008/11/18/good-bye-mom-sie-love-u-sie-miss-u/
    Tetap semangat ya ^^v

    @Sassie Kirana
    Saya pikir perasaan yang sama ketika mengalami peristiwa kehilangan orang tersayang. Ini kejadian yang sudah lama, belasan tahun lalu.
    Semangat, semangat, semangat…

  10. Itmam Aulia Says:

    Ibu adalah orang yang paling deket dihati, kasih sayang dan cintanya selalu menyertai langkah anak2nya yang mau berusaha dan bekerja keras. Semoga segala kasih dan cintanya dibalas oleh sang Maha Pengasih dan Penyayang!!

    @Itmam Aulia
    Amin. Aulia, nama anda mengingatkan saya akan seseorang.

  11. Deddy Says:

    Badarai aia mato mambaconyo Da….rancak blog nyo, salam dr ambo rang pasisia..

    @ Deddy
    biasonyo urang pasisia labiah pandai mambuek ayia mato badarai. ambo suko kaba nan disampaikan rabab.

  12. uvi07 Says:

    assalamu’alaikum, syukron jazeelan atas silaturahminya…
    semogha Allah berikan kita kemampuan tuk slalu menapaki jalan yang Allah ridloi…amien
    afwan akhi, aku ga tau hwarus aku taruh mana koment ku ini…
    walhamdulillah

    @ uvi7
    Waalaikumsalam ww,
    Komentarnya tarok disini juga gak apa-apa

  13. bayu200687 Says:

    saya pernah mendapat nasehat utk sebuah acara pesta…
    “Terima Kasih utk Tidak Menyia-nyiakan Makanan”

    Ibu…seperti udara, kasih yg engkau berikan… (Bayu Fals):mrgreen:

    @ bayu200687
    Tidak menyia-nyiakan makanan nasehat yang bagus.

  14. boyin Says:

    turut berduka cita Bang Alris, semua memang sudah ada waktunya.Ibu bagai wakil Tuhan di dunia ini, kasihnya tak terbatas.

    @ boyin
    Terima kasih mas Boyin. Ini kejadian sudah lama, almarhum Emak saya wafat sekian belas tahun lalu.

  15. tridjoko Says:

    Biasanya Ibu dan Bapak kita meninggalkan dunia fana ini di saat kita anak-anaknya belum mapan benar ekonominya jadi belum bisa bantu-bantu beliau membangun rumah atau beli makanan yang enak. Eh..gilirannya kita sudah punya kemampuan, orangtua kita sudah tiada…
    Tapi dalam hati saya bersyukur orangtua saya diberi umur yang cukup saja. Ayah meninggal usia 56, dan ibu meninggal pada usia 61. Di kantor saya sering dengar pengumuman lewat pengeras suara kalau bapak atau ibu peneliti ini atau itu meninggal dunia pada umur 87 tahun, 92 tahun dan sebagainya… Dalam hati saya berpikir, semakin panjang usia orangtua kita mungkin kita semakin menderita karena harus memelihara beliau. Hal yang sulit jika kita tinggal dan bekerja di lain kota yang jauh dengan kota tempat tinggal orangtua…

    @ Pak Tridjoko
    Almarhum Emak saya meninggal malah waktu saya masih kuliah. Betul sekali pak, orang tua saya meninggal ketika anak-anaknya belum mapan secara ekonomi. Ketika Emak wafat malah belum ada anaknya yang “mentas”. Ketika Bapak saya menghadap Ilahi Robbi, Allah swt, anak-anaknya sudah nikah semua, tapi ya itu tadi belum ada yang mapan. Kalo memelihara orang tua jangan menderita dong pak, dibawa enjoy aja.

  16. s H a Says:

    Aku kangen Ibu

    @ sHa
    Mumpung masih ada puas-puasin dan senang-senangin ibunya.

  17. suhadinet Says:

    Saya sangat dekat dengan ibu saya. Ah, tulisan ini membuat saya sedih, berbagai penyakit diderita beliau, Al. Ups, sori…

    @ suhadinet
    Menurut yang lazim berlaku memang anak laki deketnya sama Ibu. Saya ikut simpati dengan ibu mas Suhadi, semoga penyakitnya sembuh, amin.

  18. Abdee Says:

    Jadi pingin pulang….untuk ketemu ibu.

    @ Abdee
    Temuin dong…

  19. Bang Aswi Says:

    Emak … bagaimanapun adalah segalanya bagi seorang anak. Hiks!

    @ Bang Aswi
    Bagi ibu anak adalah juga segalanya.

  20. wempi Says:

    kalo wempi lebih dekat sama mendiang nenek dari pada emak, hihihi

    @ wempi
    Nenek Wempi mungkin fungsinya sama dengan emak kali ya.

  21. gajah_pesing Says:

    innalillahi wa innailaihi wa rojiun

    @ gajah_pesing
    Segala sesuatu akan kembali pada-Nya.

  22. Hejis Says:

    Kendatipun sejak umur 1 tahun tidak pernah merasakan kasih sayang emak, saya bisa menyelami perasaan orang2 yang punya emak. Emak, emak… semoga engkau semua mendapatkan tempat yang nyaman di alam sana, termasuk emaknya mas Alris ini.

    @ Hejis
    Saya beruntung, ya mas Hejis. Saya sejak kecil diasuh, dibesarkan dalam kasih sayang yang mencukupi. Sayangnya saya belum sempat sedikit berbakti kepada Emak. Semoga Tuhan memberikan yang terbaik buat orang pilihan itu.

  23. doelsoehono Says:

    salam …bagaimana keadaanya .apapun danya yang namanya ibu ya tetap Ibu yang wajib diHormati ,di sayangi karena saya semanjak mengenal kat sudah di ajari untuk menghormati orang tua dan kagak boleh berani itulah pelajaran yang sangat berarti buat saya sampai sekarang ini ….

    sesungguhnya kita semua antri untuk menghadap kepadaNya ..
    semua yang datang hanyaaaaaaalah untuk pergi . Salam

    @ doelsoehono
    Emak bagi saya tetaplah the best. Kata orang jawa bukankah hidup di dunia ini hanya “ngombe”?

  24. Anang Says:

    kangen ibukuuuuu.. doa selalu tercurah untukmu

    @ Anang
    Ya, doa salah satu obat kangen.

  25. Jahidklw Says:

    Semua yang ada dimuka bumi adalah milik Allah, dan tentunya kepadaNYA pula akan kembali,kita harus rela di relakan segala yang pernah ada…. semua akan ada hikmah dibalik itu.

    Beruntung kita masih bisa punya kesempatan untuk mendo’akan siapapun yang berjasa dengan kita, mudah-mudahan bahagia di akherat.

    Salam kenal dan hangat selalu

    @ Jahidklw
    Pasti banyak hikmah. Ya, semoga bahagia orang-orang yang berjasa termasuk guru misalnya. Salam kenal lagi.

  26. Rian Xavier Says:

    Jadi inget masa lalu. Salam kenal.🙂

    @ Rian Xavier
    Masa lalu kenangan. Salam kenal kembali, mas.

  27. kumiz Says:

    turut berduka cita…
    segala perbuatan yang beliau lakukan kepada kita memang tidak setara dengan apa yang kita perbuat kepada beliau…
    semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya…
    aminnn…
    kunjungan balik…😀

    @ kumiz
    Saya pikir tidak akan pernah terbalas. Amin.

  28. khofia Says:

    saya patut bersyukur, emak saya selalu menyiapkan saya makan ketika saya lapar, bukan menyuruh saya mencari sendiri. berkaca dari apa yang dialami si anak, saya coba untuk introspeksi diri, dan mensyukuri apa yang sudah saya miliki. sedikit atau banyak itu adalah jatah rejeki yang harus kita syukuri

    @ khofia
    Lebih banyaklah bersyukur. Setiap detik adalah bersyukur.

  29. selvy Says:

    Salam kenal sblumnya, makasih buat kunjungannya ke blog saya. Memang ibu adalah berkah dari Tuhan yang paling berharga buat kita yah, Mas. Turut berduka cita, smoga beliau diterima di sisi-Nya.

    Saya sampai nitikan air mata, ingat sama ibu saya yang walaupun masih ada tapi sangat sulit saya temui karna pekerjaan yang memisahkan saya ribuan kilometer dari beliau… >.<

    @ selvy
    Terima kasih, Selvy. Jauh dimata deket dihati, semoga.

  30. Blog Cantik Says:

    Keajaiban perempuan, media kelahiran dan pendidikan..!
    Warisan terbesar perempuan, sebuah peradaban…!

  31. Irda Says:

    Saya tahu bagaimana rasanya kehilangan orang tua seperti ada bagian yg hilang dlm diri kita, apalagi jika kita jauh jaraknya dr mereka. Semoga kita, anak2 yg ditinggalkan selalu ingat utk mendoakannya amiien. Salam kenal juga ya !

    @ Irda
    Amiiin. Salam kenal lagi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: