Alris, Bukan Pedagang Asongan

Suatu sore yang mendung di atas bus antar kota antar propinsi (bus akap) non AC yang terisi penuh pas bangku selepas daerah Kopo, ujung tol Jakarta – Cikampek.

“Tahu, tahu… Tahu sumedang, tahu enak, masih panas, mas. Gratis, gratis… Cengeknya gratis, gak usah bayar dikasih cuma-cuma. Tahu mas, tahu kang. Bapak, tahu, tahu… Oh, sabar, bu. Nanti juga kebelakang. Beli berapa, mba, lima? Oh, tiga siip. Bismillah, panglaris…”

Hah, Alris ganti profesi jadi penjual tahu sumedang? Jualan di atas bus akap? Sejak kapan? Apakah abis di phk langsung ganti kuadran… Ho..hooo, gak usah bingung saudara-saudara. Itu hanya salah satu penawaran dagangan yang dibawakan oleh salah seorang pedagang asongan tahu di atas bus akap non AC beberapa hari lalu. –pedagang asongan selanjutnya disebut pedagang aja biar lebih singkat dan agak kedengaran bergengsi, kalo disebut asongan kayaknya yang terbayang kejar-kejaran antara satpol PP dengan pedagang asongan di perempatan lampu merah kota Jakarta, padahal ini lokasinya berada di Kabupaten Karawang– Kejadiaanya memang melibatkan saya sebagai salah satu penumpang bus tersebut. Lho, kok ikut terlibat, jadi ikut jualan dong diatas bus. Nggak, nggaklah, saya hanya penikmat tahu sumedang itu setelah beli dua kantong plastik kecil untuk pengganjal perut yang sudah keroncongan. Walau perut keroncongan, tapi saat itu gak ada orkes pengiringnya. Jadi perut saya doang yang berbunyi jreng, jreng, jreng… sebelum mendapatkan penghenti sementara, yaitu tahu sumedang.

Masih ada beberapa pedagang lain yang beroperasi menawarkan dagangannya di atas bus akap itu. Saya hitung semua ada lima pedagang yaitu : dua pedagang tahu, satu pedagang minuman, satu pedagang rokok dan satu pedagang telur. Yang berjualan tahu selain dagangan utamanya tahu, ada juga buras. Pedagang minuman menawarkan air minum dikemas dalam botol, minuman kaleng berupa minuman suplemen dan beberapa minuman penambah cairan tubuh yang banyak diiklankan di tv itu. Pedagang rokok menawarkan beraneka rokok dengan berbagai macam merek. Sementara pedagang telur hanya menjual telur asin dan telur ayam ras yang sudah direbus. Jadi bagi yang belum sempat makan waktu mau berangkat, bus ini adalah warung berjalan kecil-kecilan sesaat yang menyediakan cemilan dan minuman untuk sekedar penghambat rasa lapar dan haus. Bagi pedagang itu, penumpang bus adalah calon pembeli potensial yang sangat diharapkan untuk mengeluarkan dompet, ambil duit di dalamnya dan dibelikan barang jualan mereka. Jadilah transaksi bisnis dalam bus akap itu sebagai simbiosis mutualisme. Pedagang laris jualannya dan dapat duit cash bin tunai *gak mungkin ngutang dan gak bakalan diberi pedagang, suer* sementara penumpang bus dapat makan dan minum gak usah nunggu sampai bus berhenti ditempat tujuan.

Ditengah bus penuh penumpang , dengan lima pedagang dan barang dagangannya otomatis lorong tengah bus hampir terisi penuh. Cuma menyediakan sedikit ruang antar pedagang dan barang dagangannya. Bagi yang baru naik bus akap dan tidak terbiasa dengan kondisi itu dijamin akan puyeng dengan penawaran, bujukan dan teriakan para pedagang. Anda mungkin baru mulai ngantuk dan akan menikmati tidur, tiba-tiba suasana berubah kayak pasar kaget pinggir jalan. Dipastikan mata Anda yang tadinya mulai meredup kayak boghlam lima watt yang sudah lama kepakai akan langsung terang benderang dan terang terus kayak iklan produsen boghlam. Yang tadinya Anda udah ambil ancang-ancang untuk mimpi bertemu dan berasyik masyuk dengan Sarah Azhari & saudari-saudarinya atau Dewi Persik dijamin tiba-tiba yang terjadi adalah nightmare. Bagi yang berhati sempit dan mudah emosian dipastikan akan akan mengutuk dengan sekeras-kerasnya dalam hati melihat situasi yang terjadi tiba-tiba itu.

Untungnya rata-rata penumpang bus adalah adalah rakyat dengan kasta rendah, eh salah, yang saya maksud adalah rakyat jelata. Kaum proletar –ini juga anggap istilah gak jelas– yang sudah terbiasa dengan kondisi yang serba berbagi. Berbagi dengan keadaan yang datang tanpa direncanakan. Kayak itu tadi, pas keluar pintu tol Jakarta – Cikampek sudah naik lima pedagang yang mengacak-acak ketenangan mereka dalam melamun, setengah tidur, tidur nyenyak dan sebagian ada yang asyik ngobrol ngalor-ngidul. Begitu para pedagang turun di Pasar Sukamandi naik lagi musisi jalanan yang membawa alat musik standar : gitar dan gendang terbuat dari potongan pipa PVC ditutup plastik kaku. Sampai di daerah Pasar Ciasem musisi jalanan turun, selanjutnya yang beraksi adalah dua orang pengamen karaoke-an dengan mendendangkan lagu-lagu tarling, musik khas pantura. Suara sicewek cukup enak didengar telinga *bagi yang suka musik tarling* sementara pasangannya seorang cowok bertugas sebagai operator tape recorder dan pembawa loudspeaker.

Keadaan ini akan terus berulang setiap ada perhentian bus: pedagang, musisi jalanan, pemusik karaoke atau sebaliknya sampai bus akap berhenti ditempat tujuan. Kadang malah terjadi double aksi, musisi jalanan mendendangkan lagu yang lagi top diiringi pedagang menawarkan barang dagangannya. Dan selama ini tidak ada protes verbal yang keluar dari para penumpang tentang keberadaan para pencari nafkah informal ini. Knek dan sopir bus akap juga enjoy-enjoy aja dengan kehadiran mereka. Rakyat jelata yang proletar ini juga rela berbagi, diganggu kesenangannya.

Pernah saya bertanya ke seorang bapak berumur lebih kurang 60 tahun, “Pak, merasa terganggu gak dengan pedagang asongan dan pengamen yang sering naik-turun bus?” Dengan tenang bapak itu menjawab, “Mereka juga cari nafkah, nak. Sebagai penumpang bus Bapak bersyukur masih bisa membeli dagangan mereka,” jawabnya. Beliau melanjutkan, “Kalau pengen nyaman, ya, naik bus AC atau kendaraan sendiri.” Dari jawabannya, saya berkesimpulan bahwa sang Bapak adalah orang yang sudah banyak makan asam & garam kehidupan dan orang yang bijaksana ikhlas berbagi. Sementara saya…..

Apa moral dari cerita diatas? Silahkan Anda simpulkan sendiri-sendiri. Setiap orang tidak akan sama dalam memberikan konklusi atas cerita yang sederhana itu. Kapalo samo itam pandapek balain-lain *bahasa langit yang artinya bisa Anda cari di kamus bahasa daerah Minangkabau*

Ok, selamat berakhir pekan dan have a nice trip. Eh, ini masih hari kamis, ya. (dasar pengangguran setiap hari dirasakannya sebagai hari libur…)

21 Tanggapan to “Alris, Bukan Pedagang Asongan”

  1. Syams Ideris Says:

    Ah, sayang bukan saya yang di dalam bis, kalau ya pasti saya beli beberapa bungkus tahu sumedang yang terkenal gurih itu. Maklum di Kalsel yang ada cuma di bjm saja.

    @ Syams Ideris
    Nanti kalo saya jadi pengusaha, kita bikin di tahu sumedang di tempat Pak Syams. (peluang usaha, nih)

  2. Wempi Says:

    asal tertib en sopan, hihihi…

    @ Wempi
    Asal jangan main paksa beli heheh…

  3. edratna Says:

    Kalau kita lagi tak stres, justru keseharian seperti itu bisa dinikmati kan? Malah bisa dipakai sebagai ide tulisan.

    @ edratna
    Betul, bu Enny. Yang penting dinikmati aja.

  4. omiyan Says:

    saling berbagi dan saling pengertian itu yang utama ….. tapi saya terkadang tidak merasakan saling pengertian ketika dalam bis…..terutama tatkala kantuk ga trtahan tiba2 pengamen dengan suara yang pas2an dengan sengaja depan kita bernyanyi tanpa ritme yang jelas

    @ omiyan
    Saya kalo ngantuk tidur blas, mas.

  5. itikkecil Says:

    gak masalah sih, kalau ada pedagang asongan ataupun pengamen.. asal jangan maksa…

    @ itikkecil
    Kalo maksa namanya ngerampok, dong.

  6. Itmam Aulia Says:

    salam,,,
    sorry ganggu…😀 ada award buat kmu di http://itmam.wordpress.com/2009/01/15/special-award/
    garap dulu PR nya ya… makasih😉

    @ Itmam Aulia
    Ok, nanti kita garap.

  7. hanhan Says:

    Wah sama mas, saya tiap pergi ke daerah juga merasakan hal yang sama itu masih mending cuma 5 pedagang, jika ditambah pedagang jeruk dan pedagang bolpoint + tissue jadi tambah penuh kan hehehehe……..

    Ya betul mas mereka hanya sekedar mencari nafkah yang penting kan halal, mungkin memang kondisi saat ini yang membuat mereka terpaksa berjualan di bus akap tersebut….

    @ hanhan
    Iya, mas emang kondisinya lagi susah begini mesti banyak sabar.

  8. ndars Says:

    wah kayaknya si akang pemerhati pedagang asongan dalam bus. ampe apal jumlah tukang dagangnya hehehehehehe..
    udah pernah nyoba naek bus LURAGUNG jurusan kuningan?? coba deh kang, itu lebih nightmare. segala macem tukng dagang ada, ampe sempit tuh bis
    makasih kang udah mampir di blog saya

    @ ndars
    Saya udah beberapa kali naik bus yang akang maksud. Kayaknya kalo sering-sering naik bus itu harus ikut asuransi tambahan, karena sopir busnya asal ada sedikit kesempatan pasti langsung mendahului, gak peduli apa dari sebelah kiri apa kanan.

  9. starbozz Says:

    Hi friend.. Nice post.. Visit my blog and post your comments.. I have added you to my blog roll.. Hope you too will do the same.. Take care… Keep in touch mate!!!

    @ starbozz
    Thank you…

  10. budi Says:

    untuk pedagang asongan, kehadirannya memang kerap dinantikan. apalagi jika perjalanan cukup jauh. tapi untuk pengamen kadang ada kesan kasihan, jengkel, takut, salut bahkan kadang membangkitkan kenangan lama

    @ budi
    Enjoy aja, mas. Kenangan lama? Sedih apa gembira.

  11. Oemar Bakrie Says:

    Saya salut sama orang-orang yg terus berusaha dan sabar seperti mereka yg bekerja di sektor informal itu. Hanya kadang-kadang saya pernah nemui yg kurang sabar. Kalau pas kebetulan nggak ada yg beli karena berbagai sebab (nggak punya duit atau yg dijual tidak kita butuhkan) ada yg ngomel-ngomel. Meski tidak langsung ditujukan ke kita para penumpang tapi kita tahu kalau dia ternyata kurang sabar …
    Salam.

    @ Oemar Bakrie
    Iya, Pak Hendra. Saya juga pernah nemui yang kayak gitu.

  12. Moh Hamdani Says:

    terima kasih dah lewat di blog saya.
    wah mas alris ini kemajuannya cepet banget.
    belum lama bikin blog, tulisannya dah penuh.

    selamat mas, tujuan kita ngeblog ya untuk menceritakan apasaja yang kita rasakan dan pikirkan. kadang direspon baik, kadang tidak, tapi diterima aja.

    bahkan suatu saat nanti pasangan kita, anak 2 dan keluarga kita akan tahu sendiri kelakuan kita. yang kadang susah untuk disampaikan ke mereka secara langsung .

    anyway selamat dan terus berkreasi

    wassalam

    @ Moh Hamdani
    Saya lagi belajar, Cak Ham.
    Tujuan saya menulis emang salah satunya apa yang disebutkan itu. Mana tau nanti bisa bikin novel dan bisa meledak kayak novelnya Andrea Hirata😀

  13. Agustian Says:

    Terkadang saya justru merindukan suasana bis spt itu yg biasa saya tumpangi tatkala mudik sekeluarga dari bandung ke daerah kadipaten…
    Ya, mereka juga sedang mengais rezeki, salut juga saya kepada mereka…

    salam silaturahmi..
    agustian

    @ Agustian
    Mari naik bus rame-rame, tinggalkan mobil pribadi😀

  14. Kawaii Ayu Says:

    Apapun pekerjaannya yang penting halal….
    O iya mas, kawaii ayu paling suka makan tahu sumedang lho…kalo di jatinangor dulu paling seneng beli tahu sumedang…tapi sekarang kawaii ayu tinggal di bali, jadi gak bisa beli tahu sumedang deh….jadi kepengen nih….

    @ Kawaii Ayu
    Iya, halal lan toyibah. Nanti kalo aku ke Bali, tak bawaain. Asal ntar saya ditraktir, hehehe..

  15. jiwakelana Says:

    Tahu gak mas, aq juga suka tahu, pha lagi makannya sambil dgr lagu hanya ingin kau tahu. Entar aq kemari lagi ya.., mas tahu gak tu? Hehehe..

    @ jiwakelana
    Tahu, mas.

  16. nenyok Says:

    Salam
    Hmm. Bis ekonomi tanpa mereka serasa sayur tanpa garam🙂

    @ nenyok

    Betul, asal jangan kebanyakan garam, gak enak.

  17. anina Says:

    hai,,, thanks for dropping by,
    salam kenal juga😉

    @ anina
    Sama2, mba.

  18. bayusmart Says:

    Amiiiin, terimakasih atas komentnya. oh pernah ke kalua? ketempat keluarga yah? kapan-kapan berkunjung juga kak di amuntai hehe
    http://bayusmart.wordpress.com
    YM:bayu_yd

    @ bayusmart
    Aku gak punya keluarga disana. Pengen sih ke Amuntai, pengen makan bebeknya.

  19. kaeru Says:

    hehehehe…
    ceritanya seru…dibuat novel aja bang,
    siiip deh

    @ kaeru
    Iya, nanti kita bikin novel.

  20. syaiful Says:

    salam kenal aja ya. anda ini kelihatannya ti jawa barat alias Bandung ya. kelihatan dari posting blognya. Abdi oge kapungkur pernah tinggal di Bandung, ayena abdi tinggal di Pekanbaru. salam ya untuk bloger bandung dan ulah poho kunjungi juga blog abdi. nuhun

    @ syaiful
    wakakaka….(ngakak sambil guling-guling)
    Tebakan Pak Syaiful 100% salah. Kalo istri saya emang dari Jawa Barat. Ambo barasa dari Muarolabuah, Solok Selatan, Sum-Bar.

  21. kweklina Says:

    bangun…ngakak guling-guling…udahin…hehehe
    rezeki dan kesempatan setiap orang, berbeda…itulah fenomena yang berwarna…

    @ kweklina
    Oh, baru tau fenomena berwarna, wakakaka…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: