Under Value atau Over Value

Saya baru saja dapat pencerahan yang sangat tidak ternilai dari membaca satu postingan yang di tulis oleh Bp. Fajar S. Pramono, seorang bankir, praktisi di salah satu bank plat merah, pengarang buku Rahasia Sukses Ngutang di Bank. Hal menyangkut dengan potensi diri kita masing-masing.

Saya coba untuk berbagi dengan pembaca blog ini, sekedar untuk saling mengingatkan betapa tidak terbatasnya value diri kita. Saya coba sajikan *eh, ini wisata kuliner apa mau cerita?* dengan cara saya. Saya akan kutipkan pembicaraan bankir itu dan temannya dengan seorang penulis buku terkenal, yaitu Bp. Thomas Sugiarto (penulis buku Your Great Success Starts from Now!). Jadi cerita dan tanyajawab dibawah ini adalah kutipan dari postingan beliau yang sudah saya kurangi/tambah, acak-acak dan permak. *Pak Fajar, saya mohon ijin untuk menyebarkan nilai pencerahan dan kesadaran yang terkandung dalam tulisannya.

“Kalau Bapak punya asset –ruko, katakanlah– senilai 1 milyar rupiah, berapa bisa Bapak dapatkan dari sana? Semisal, dengan disewakan?” tanya Pak Thomas.

“Minimal 50 juta. Bisa sampai 100 juta per tahun,” jawab Pak Fajar

“Ok. Kalau di bawah 50 juta, berarti itu under value atau over value?”
Under value!” jawab Pak Fajar mantap.
“Ok. Kita tetapkan, 50 juta ya?” kata Pak Thomas.

Lalu Pak Thomas berkisah, “Kemarin di Rumah Sakit Gleneagles, saya bertemu dengan orang kaya yang sedang berobat ginjal. Ginjalnya yang satu tak berfungsi. Pak Fajar atau Pak Budi ada berencana menjual ginjalnya?”

Pak Fajar dan Pak Budi terkejut, saling melirik, dan sejurus kemudian mereka menggeleng bersama.
“Dia siap bayar 1 milyar, Pak!” kata Pak Thomas lagi.
Mereka tetap menggeleng.
“Dua milyar?” beliau bertanya lagi.
Pak Fajar dan Pak Budi tetap keukeuh. Tetap menggeleng. “Lima milyar, Pak! Itu harga maksimal yang dia sanggupi. Bagaimana?” Pak Thomas terus bertanya. Dan mereka tetap menggeleng.

“Ya udah. Nggak papa. Lalu, Pak, di rumah sakit yang lain saya juga ketemu dengan seorang penderita kanker hati. Ia sedang butuh hati untuk transplantasi. Anda berminat menjual hati Anda?” tanya Pak Thomas lagi.
Pertanyaan Pak Thomas yang sama mengejutkannya dengan pertanyaan sebelumnya itu, tetap mereka jawab dengan gelengan kepala. Tanpa suara.

“Dia juga sanggup membayar 5 milyar, Pak!” lanjutnya.
Mereka terus saja menggeleng. Bahkan kali ini Pak Fajar menyahut, “Berapapun tak akan saya jual, Pak!”

Pak Thomas tersenyum. Sambil mengangkat kedua bahu dan tangannya, beliau berujar. “Berapa sesungguhnya harga kita?”

“Saya baru menyebut dua asset yang ada di tubuh kita, dan nilainya sudah mencapai 10 milyar. Itu pun belum mau Anda lepaskan. Saya belum bicara asset yang lain. Mata? Hidung? Telinga? Jantung? Mau dihargai berapa?” kalimat tanya terus mengalir dari bibir Pak Thomas.

Melihat mereka semakin diam, beliau mencoba menyimpulkan apa sesungguhnya yang mau beliau sampaikan.

“Nah, kalau dengan asset yang hanya 1 milyar saja kita berani mentargetkan ‘pemasukan’ sebesar 50 juta pertahun, berapa target yang bisa kita raih dengan nilai asset yang jauh lebih besar yang ada di tubuh kita ini?”

Tatapan mata Pak Thomas menyapa mata mereka berdua.
“Lima puluh juta dari ruko, itulah value yang kita harapkan. Itulah target ‘nilai’ dari asset ruko kita.”

Mereka diam semakin dalam. Kepala semakin tertunduk, dan seolah terhipnotis (istilah dari Pak Budi), mata mereka tak kuasa melawan sorot mata Pak Thomas.

“Gimana? Over value, atau under value?” pertanyaan yang menohok tadi, ditegaskan kembali. Frekuensi anggukan kepala mereka semakin tinggi, sampai akhirnya keluar pengakuan dari mulut mereka berdua. “Under value, Pak…,” kata mereka lirih.

“Tahu yang saya maksudkan?” tanyanya kemudian, setelah hening beberapa saat.

Mengamini anggukan kepala mereka berikutnya, Pak Thomas melanjutkan. “Potensi kita sesungguhnya luar biasa. Sangat besar. Tinggal kita, mau memberdayakan seluruh aset ini, atau cukup puas dengan kondisi yang sekarang ini ada pada kita?” kesimpulan bernada tanya kembali keluar dari bibir Pak Thomas.

Pak Fajar, tulisan Anda sungguh membuat saya merasa konyol, bodoh dan semakin tersadarkan. Seperti kata Bapak, selama ini saya seringkali merasa terpuaskan, walaupun itu sangat jauh dari sukses. Padahal semua itu masih jauh dari apa yang seharusnya bisa diperoleh. Selesai membaca tulisan yang nyamleng itu, keyakinan akan potensi diri menjadi sangat terasa, dan menerbitkan optimisme baru secara tiba-tiba. Masya Allah, Subhanallah! Saya tersadarkan dan…speechless , pak. Betapa saya selama ini sepenuhnya tidak menyadari, memberdayakan dan mensyukuri asset yang saya punya pemberian Allah swt itu

32 Tanggapan to “Under Value atau Over Value”

  1. kahfinyster Says:

    uhh,,kalo jual hati ngga deh,,
    hati penting banget,,hhe,,
    eh, pertamax,,

    @ kahfinyster
    Jangan sampai jual hati, mas. Kecuali kalo kepepet, hehehehe…
    Saya juga heran, padahal tulisan ini lagi saya edit, kok mas bisa masuk pertama. Berarti pas pertama kali saya terbitkan langsung dibaca, ya.

  2. rocknoida Says:

    aga ga ngerti gw ris😆

    @ rocknoida
    Baca aja sesering mungkin, mas. Ntar juga paham…..🙂

  3. yodama Says:

    jadi semakin mensyukuri apa yang telah diberikan-Nya. Sehat itu memang mahal!

    emang ciptaan-Nya tentunya jauh lebih bagus en lebih berharga dibanding buatan makhluk-Nya, manusia.

    Meskipun saat ini manusia telah berusaha membuat robot. Tapi tetap yg namanya manusia jauh melebih robot-robot yang telah dibuat oleh manusia itu sendiri.

    @ yodama
    Betul, mas.

  4. ersis Says:

    Kuncinya … Betapa saya selama ini sepenuhnya tidak menyadari, memberdayakan dan mensyukuri asset yang saya punya pemberian Allah swt itu

    @ ersis
    Iyo, da. Salamo ko awak terlalu banyak mangaluah…
    *tapi mangaharokkan kiriman laptop bekas nan dipakai uda, laptop kantua alah ditariak. Kan awak kanai phk, hehehe…*

  5. endar Says:

    sungguh saya baru menyadari bahwa ternyata asset pemberian Allah SWT tak ternilai harganya. lalu kenapa saya masih sering mengeluh dan kadang lupa bersyukur. tanya kenapa?

    @ endar
    Iya, kenapa ya. Cari jawabannya…

  6. Kahono Says:

    Cerita yg menarik, bikin kita sadar betapa agung dan tak ternilai karuniaNya, salam kenal

    @ Kahono

    Iya, mas. Bikin kita supaya lebih memberdayakan karunia-Nya.
    Salam…

  7. ichanx Says:

    emmm.. kalo gw malah nangkepnya… emmm… omongan pak fajar adalah standar omongan orang investasi dan sebangsanya.. pikirannya hanya lari ke duit, duit, dan duit… masalah asset tubuh kita hanya jadi pelengkap pendukung pendapat dia mengenai pentingnya kita berinvestasi… hehe

    @ ichanx
    Jangan ditangkep, chanx. Gak ada yang jatuh/lari, kok, hehehe…
    Karena yang menulis seorang bankir, dan ichanx juga mantan bankir sesa(a)t, jadi wajar kalo pendapat loe begitu. Coba, kalo yang menulis seorang bandit, preman pasar, akademisi atau ulama pasti punya sudut pandang yang beda, tul gak. Bukankah, “Kapalo samo itam pandapek balain-lain?” *silahkan cari di google translate arti pepatah itu dipastikan tidak ada*

  8. indra1082 Says:

    Subhanallah………

    @ indra1082
    Bikin kita banyak bersyukur.

  9. Wempi Says:

    Pencerahan bermanfaat dari sudut pandang uang.😀

    @ Wempi
    Juga untuk kesadaran diri, supaya lebih banyak bersyukur.

  10. pitshu Says:

    waduh… kalo bisa sih! jangan sampe menjual apa yang udah dikasih Tuhan sih! hihihihi… pinter2 cari duit, menabung dan mengelola keuangan lebih baik kale yah!!
    *menggunakan uang yang kita miliki dengan bijak*

    @ pitshu
    Betul. Berhematlah memakai duit.

  11. konohanasakuya Says:

    hehehehe, tengkyudah dateng ke blog qu,
    btw, tumpengannya nasi kuning apa nasi goreng?
    hihihihi..
    btw, 5 milyar mah kurang, enakan 10 M, hahahaha

    @ konohanasakuya
    Tumpengannya terserah yang bikin aja. Enakan bermilyar-milyar, hehehe…

  12. anderwedz Says:

    Bener…
    tapi lebih baik artikel na tadi dikasih Link na Pak fajar S. Purnomo Mas…
    biar lebih afdol gitu…
    ^_^

    @ anderwedz
    Saya belum tau cara ngelink blog beliau ke tulisan ini. Maklum, baru belajar, masih katrok, ndeso abis….

  13. lianisalsabila Says:

    salam…

    @ lianisalsabila
    Salam lagi….

  14. sunarnosahlan Says:

    asal jangan dijadikan komersialisasi organ tubuh.
    dari sisi patutnya bersyukur mantap

    @ sunarnosahlan
    Di India malah udah lama dikomersialkan, mas.
    Iya, harus banyak bersyukur nih.

  15. hilal achmad Says:

    wah wah wah🙂 so nice , benar .. diri kita ini tidak ternilai harganya .. betapa murahnya Tuhan pada kita, harus kita syukuri

    @ hilal achmad
    Betul, mas. Tuhan amat pemurah, kita aja yang jarang bersyukur. *saya apalagi… :)*

  16. noto Says:

    Pandai-pandai aja bersyukur mas

    @ noto
    Ok…

  17. geRrilyawan Says:

    kunjungan balik mas…salam kenal.
    wahh…ini baru bacaan baru…
    sudut pandangnya saya baru liat nih. kita punya potensi yang sangat besar. cuma kurang dilihat. cocok nih buat ber-entrepeneur ria…

    @ geRrilyawan
    Ok, hidup entrepeneur…jayalah

  18. Haris Suryanegara Says:

    Terimakasih banyak kepada Pak Fajar atas pencerahannya, dan kepada Mas Alris yang telah membantu menyampaikan ulang pesan-pesan penting yang terkandung. Sebelumnya juga saya memang telah membaca dan mendengar kisah-kisah semacam ini, dan inti serta tujuannya tetap sama.😀

    Aha, saya ada sedikit cerita. Saya teringat dengan tawaran dari sebuah perusahaan asuransi jiwa untuk mengikuti program mereka. Untuk mengikuti program tersebut, salah satu syaratnya adalah membayar premi sejumlah Rp.75.000,- pertahun. Jadi misalnya ‘terjadi apa-apa’ dengan sang nasabah, mereka siap membayar Rp.10.000.000,- kepada seorang (mungkin istilahnya semacam ahli waris) yang sebelumnya telah ditunjuk oleh nasabah tersebut.😆

    @ Haris Suryanegara
    Asuransi buat pendidikan bagus, lho. Pada prinsipnya asuransi bagus.

  19. syaiful Says:

    Assalamualaikum Wr. Wbr.
    Blognya bagus. terima kasih atas kunjungannya. salam ukhuwah dari Pekanbaru

    @ syaiful

    Waalaikumsalam ww, semoga selalu ada ukhuwah sesama

  20. tutinonka Says:

    Pencerahan yang membuat kita bersyukur atas karunia Tuhan, tapi sebenarnya kurang tepat kalau dibandingkan dengan investasi toko. Investasi uang 1 milyar memiliki nilai riil, yang bisa kita kelola dan kita manfaatkan rupiah demi rupiah, sementara anggota tubuh kita bukan hal yang bisa secara nyata kita kelola secara ekonomi.

    @ tutinonka

    Investasi toko cuma amsal aja saya kira

  21. manggis Says:

    Hmmm..sangat encourage buatku!
    Jadi semangat lagi…biar oon-an tapi ternyata bisa cari duit juga aku….he…he…he….
    Syukur…syukur…!

    @ manggis
    Oon kan menurut orang lain. Yang penting kita gak merugikan orang lain…

  22. isfiya Says:

    Wah… masss pencerahan banget deh ilmunya buat saya….
    Selama ini saya juga kurang menghargai asset yang saya miliki… Salam kenal mass….

    @ isfiya
    Sama, mba. Salam kenal…

  23. INDAHREPHI Says:

    apapun itu,kita harus mensyukuri sekecil apapun nikmat yang Allah berikan, dan menggali dan manfaatkan potensi yang kita miliki seluas2nya utk penghidupan yang lebih baik.
    dgn kunci, jangan takabur..jangan kikir… jangan lupa dimana itu semua bersumber🙂

    @ INDAHREPHI
    Betul, betul…..

  24. omiyan Says:

    selama ini kita selalu menilai sesuatu dengan materi, padahal masih banyak hal lainnya

    @ omiyan
    Betul, mas. Sering kita menilai secara materi aja.

  25. Gusti Dana Says:

    Tulisannya sangat mencerahkan dan membangkitkan semangat:-)…
    Makasih Mas…;-)

    @ Gusti Dana
    Terima kasih, mas. Saya lagi belajar nulis.

  26. Gusti Dana Says:

    Saya lupa…dimana bisa beli bukunya pak Thomas?

    @ Gusti Dana

    Beli buku, ya, di toko buku mas, jangan di los sayur, wakakaka…

  27. syaiful Says:

    Assalamualaikum Wr. Wbr.

    saya jadi sering berkunjung ke blog anda. saya tergiur dengan Duriannya kelihatannya lezat sekali. boleh minta bibitnya yah

    @ syaiful
    Waalaikumsalam ww,
    Silahkan Pak Syaiful sesering mungkin berkunjung. Mana tau nanti ada pembagian durian hehehe…
    Itu bukan buah durian, pak. Kalau di Kalimantan Selatan/Tengah namanya Pempakin, jika di Kalimantan Timur namanya buah lei.

  28. lescaboma Says:

    hhhmmm…., pak thomas yang cerdas…😀

    thank GOD we’re priceless ya…😀

    blognya aku link juga yaaa….😀

    @ lescaboma
    Ok, sama-sama link

  29. Hejis Says:

    Ya kata kuncinya bersyukur. Bila terus-terusan kita gak puas terhadap apa yang ada, maka kebahagiaan akan menjauh dari kita.

    @ Hejis
    Betul, mas. Ayo, perbanyaklah bersyukur.

  30. Opreker’s Blog Says:

    […] 2. Alrisblog’s […]

    @ Opreker’s Blog
    maksudnya?

  31. omoshiroi Says:

    kisah yg mencerahrahkan..
    menyadarkn saia bahwa Tuhan itu Maha Pemurah, manusia itu sudah memiliki modal yg sangat besar hanya tinggal bgmn kita berusaha dan memanfaatkan modal tsb dg sbaik-baikny..
    tangkiu sdh mau berbagi,,
    btw, kalok di film Dirty Pretty Things, cangkok2 bgitu dihargai dg paspor palsu..
    dan ini ditujukan pada para imigran gelap..
    jd mrka dimanpaatin gtu deh,,

    @ omoshiroi
    Saya belum nonton film itu.

  32. melody Says:

    wah,,so inspiring!!

    thx buat Pak Fajar S. Pramono,Pak Thomas Sugiarto, dan Alris..:D

    yang mengingatkan saya dan kita semua untukk terus bersyukur atas apa yang telah diberikan kepada kita..

    dan bahwa kita ini berharga…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: