Laut Indonesia Memang Kaya, Tapi Ekspor Hasil Lautnya Peringkat Bawah

whatsapp-image-2016-11-23-at-18-54-16Teman mancing saya dapat strike ikan layaran di teluk sebelah pltu Waay, Ambon

Garis pantai Indonesia 54.716 kilometer, terpanjang kedua di dunia setelah Kanada. Dengan laut yang begitu luas produksi hasil kelautan dan perikanan Indonesia mencapai 13 juta ton per tahun. China mencapai 50 juta ton per tahun (sumber disana).

Kalau kita merujuk kepada angka yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang, -misal disini– hal ekspor ikan terbesar di dunia, kita merasa miris. Indonesia adalah penghasil ikan terbesar di dunia setelah China. Tapi dalam hal ekspor Indonesia ada di urutan ke 12 dunia, dan urutan nomor 5 di Asean.

Lalu darimana negara Asean lain, macam Thailand, mendapatkan ikan untuk di ekspor, sehingga ekspor ikannya mengalahkan negara kita? Selain dari laut mereka sendiri, ternyata mereka mengeruknya dari laut Indonesia yang begitu luas. Gak percaya? Kalo saya percaya. Karena kita akan mudah menjumpai begitu banyak para pelaut asing seperti dari Thailand, Taiwan dan negara lainnya yang melabuhkan kapalnya di Teluk Ambon untuk diisi ikan. Ada yang mereka tangkap sendiri, tentunya setelah mengantongi perizinan dari pihak berwenang, ada juga dibeli dari pelaut lokal.

Kenapa negara dengan laut tak seluas laut Indonesia bisa jadi pengekspor ikan mengalahkan Indonesia. Thailand itu contohnya. Menurut saya selain mereka memakai teknologi penangkapan ikan lebih maju dari kita, mereka juga mau berusaha lebih keras. Saking kerasnya usaha mereka sampai memasuki perairan laut Indonesia yang banyak ikannya. Bisa jadi juga negara mensubsidi nelayannya dengan bermacam subsidi, misal subsidi bahan bahan bakar untuk kapal penangkap ikan. Atau negara menyediakan kredit murah untuk para nelayannya.

Terlepas dari bermacam kendala yang ada di negara Indonesia tercinta, untuk memajukan dan mendukung ekspor komoditi perikanan diperlukan kerjasama yang baik antara nelayan, penambak, pengusaha dan pemerintah. Pemerintah tidak hanya sebagai regulator tapi juga harus berusaha keras memberikan kemudahan kepada nelayan dalam negeri dalam bentuk perizinan, memberikan kredit murah, menyediakan infrastruktur memadai dan membangun pelabuhan perikanan yang dilengkapi sarana pendukung yang layak. Pelabuhan yang layak misal tersedianya cold storage, listrik yang stabil dan sarana bongkar muat.

Tulisan ini pendek ini lahir dari hasil obrolan ngalor-ngidul dengan security proyek yang punya pengalaman melaut menangkap ikan belasan tahun dengan kapal dari Thailand, Taiwan dan China.

*******************************************************

Posting lalu yang mendapatkan buku gratis dari saya adalah: adelinatampubolon.com dan omnduut.com. Silahkan kirim alamat lengkap dan nomor hp untuk keperluan pengiriman buku sampai tanggal 5 Desember 2016. Lewat dari tanggal itu maka hadiah buku saya alihkan ke orang lain.

*******************************************************

22 Tanggapan to “Laut Indonesia Memang Kaya, Tapi Ekspor Hasil Lautnya Peringkat Bawah”

  1. dani Says:

    Ah memang mas, infrastructure di negara kita sendiri masih memprihatinkan di luar berbagai masalah lainnya untuk industri perikanan bisa berkembang bagus. Hiks…

    @ dani
    Iya, mas Dani. Semoga terobosan yang dilakukan pemerintah sekarang memperbanyak infrastruktur diluar pulau Jawa semakin memajukan dan meratakan pembangunan, sehingga meningkatkan kesejahteraan rakyat.

  2. ysalma Says:

    Woow, ikannya besar amat, Semoga keinginan dari tulisan pendek ini pihak terkait ada yang tersentuh hatinya.

    @ ysalma
    Semoga hendaknya begitu, uni ysalma.

  3. fahrizinfa Says:

    Kadang saya juga suka heran kenapa dengan kondisi geografis yang jelas- jelas sangat kaya dibandingkan negara lain, tapi kondisi perekonomian indonesia masih jauh sekali dibanding negara lain… Masih banyak hal yang harus dibenahi pemerintah ya..

    @ fahrizinfa
    Orang mengurusnya tidak cakap dan tidak jujur sehingga dengan sumber daya alam berlimpah sekalipun tetap perekonomian tak banyak majunya.

  4. mfadel Says:

    Foto ikannya sensasional banget (y)
    Setuju sama mas. Tetapi saya rasa faktor teknologi dan infrastruktur tetap jadi penyebab nomor satu. Kebanyakan nelayan kita masih melaut mencari ikan dengan cara tradisional. Kalau ternaknya mungkin tidak sekuno nelayan. Mohon maaf, ini hanya pandangan amatir mas hehe

    Mas bilang juga produksi kelautan kita nomor 2 di dunia. Apa mungkin ekspor kita yang minim juga dikarenakan kebutuhan dalam negeri yang besar?

    @ mfadel
    Produksi yang banyak itu dilakukan oleh nelayan asing yang beroperasi di laut Indonesia.
    Konsumsi masyarakat Indonesia terhadap ikan hanya 35 kilogram g per kapita/tahun. Bandingkan dengan Jepang yang mencapai 60 kilogram per kapita/tahun dan Malaysia sebesar 50 kilogram per kapita/tahun.

  5. Rissaid Says:

    Wii mantap kaliu 😱😱😱😱😱😱😱

    @ Rissaid
    Yoiiii… keren teman saya bisa menaklukkan ikan gede.

  6. Timothy W Pawiro Says:

    Wah, berarti kita mesti lebih tegas dengan batas negara kita yang ada di perairan, ya?

    @ Timothy W Pawiro
    Iya betul, kudu berani tangkap dan tenggelamkan kapal nelayan asing tanpa ijin yang menangkap ikan di laut Indonesia.

  7. winnymarlina Says:

    Kebanyakan di impor juga yg kualitas bagus bahkan perusahaan asing banyak yang ngolah sih kak sedih jadinya

    @ winnymarlina
    Iya, Win. Ikan ditangkap di laut Indonesia diolah diluar negeri.

  8. ganganjanuar Says:

    “Itu, mereka yang ngeruk ikan dari laut Indonesia, TENGGELAMKAN!”, ujar Bu Susi.

    @ ganganjanuar
    Bu Susi emang top markotop dah…

  9. shiq4 Says:

    Wow itu foto ikanya gede sekali. Nggak nyangka bisa segede itu. Btw apa bisa dimakan pak ikan seperti itu?

    @ shiq4
    Ikan layaran enak, kok. Maknyus dagingnya dimasak kuah kuning.

  10. adelinatampubolon Says:

    kalau aku lihat sich sekarang kebijakan pemerintah sudah mulai mengarah kesana yach mas. sehingga hasil kekayaan negeri ini dinikmati oleh masyarakat sendiri bukan oleh orang luar.

    @ adelinatampubolon
    Kementrian dibawah Ibu Susi banyak dipuji sama nelayan, karena tindakannya yang pro rakyat nelayan kecil. Pembangunan infrastruktur diluar pulau Jawa juga suatu kebijakan yang cakep, mantap.

  11. Gara Says:

    Yang saya nggak habis pikir itu kok ada ya daerah yang mengizinkan kapal asing masuk dan mengambil ikan dari perairannya. Berapa pun besar royalti yang diberi pihak asing itu menurut saya tidak akan sepadan dengan sumber daya yang dikeruk. Kalau belum mampu mengolah sendiri, baik dibiarkan dulu sebagai cadangan. Kelak ketika sarana dan prasarana perikanan di daerah itu berkembang bagus dengan banyaknya pembangunan dewasa ini, bukankah itu artinya ada cadangan ikan berlebih untuk daerah itu juga? Menurut saya demikian Mas, hehe. Yah masih banyak yang perlu dibenahi.

    @ Gara
    Royalti yang masuk ke kantong pribadi pejabat pemberi ijinnya mungkin lebih besar,🙂 Orang lemah iman dan lemah pemahaman berbagi untuk kesejahteraan bersama kalau jadi pejabat biasanya cuma memikir buat diri dan keluarganya. Dan itu banyak. Buktinya banyak pejabat tertangkap tangan terlibat kasus korupsi.

  12. ekahei Says:

    Aku ngebayangi salah satu daerah di pesisir pantai di Indonesia bisa jadi kota pelabuhan terbesar se Asean dengan ribuan ikan segar — dan negara luar mengimpor ikan dari kita. Semoga suatu hari nanti …

    @ ekahei
    Semoga impian itu juga impian banyak orang dan pemerintahan tentunya.

  13. Duraja435 Says:

    Mencermati masalah ini, kita boleh mengatakan bahwa pasti ada yg tak beres dalam pengelolaan sumber daya negeri ini. Smg dgn sentilan artikel ini bisa menyentuh hati dan pikiran para penyelenggara negera kita, itu !

    @ Duraja435
    Semoga hendaknya begitu.

  14. Keke Naima Says:

    Insfrastruktur di negara kita maish juga jadi masalah, ya. Semoga ke depannya semakin baik, deh

    @ Keke Naima
    Masalah terbesar memang keterbatasan di infrastruktur. Semoga masa yang akan datang infrastrukturnya memadai.

  15. Inklocita Says:

    Betul sekali. Bukan cuma itu, negeri kita yg didominasi oleh lautan menjadikan modal besar utk industri kemaritiman kita, tapi entah mengapa industri maritim kita sangat tertinggal jauh oleh negera tetangga. Mudah mudahan Indonesia yg kaya ini dapat segera bangkit dari tidur nyenyaknya.

    @ Inklocita
    Kita berharap begitu. Kekayaan yang begitu besar bisa didayagunakan untuk kemakmuran rakyat.

  16. Senja Kelana Says:

    Suka mancing saya.

    @ Senja Kelana
    Yuk mancing ke Ambon.

  17. zaenudin Says:

    prihatin ya mas, saya sebagai pecinta ikan sangat kecewa.. hehe
    semoga saja semakin banyak orang Indonesia yang bisa menikmati hasil laut di negara sendiri.

    @ zaenudin
    Makan ikan laut bagus buat kesehatan.

  18. Desi Namora Says:

    sedih bacanya, smoga makin banyak yg care dgn kondisi saat ini

    @ Desi Namora
    Kita yang melek dikit sedih. Tapi yang dapat untung dari mengeruk hasil laut dengan cara ilegal bergembira.

  19. andyhardiyanti Says:

    Itu ikannya gede banget. Baru kali ini nih lihat ikan segede itu o.O

    Sedih sih emang ya mas kalau udah baca berita kayak gini😦

    oh iya, Saya dulu pernah tinggal di Ambon, enak-enak emang seafood di sana…gak kalah sama di Makassar.

    @ andyhardiyanti
    Di Ambon masih melimpah ikan besar dan enak. Sedihnya pihak asing yang lebih banyak menikmati.
    Ayo berkunjung nostalgia ke Ambon.

  20. dedy Says:

    Orang Indonesia lebih suka doa bersama berbodong-bondong ke Jakarta daraipada ngurusin laut dengan segala kekayaannya😦

    @ dedy
    Itulah salah satu kelebihan orang Indonesia,sangat sensitif hal keyakinan. Tapi sangat kebal dan masa bodoh hal kekayaannya dikeruk pihak asing.

  21. Hendro Nurkholis Says:

    Makanya Bu Susi sering marah2 ya. Sama dg minyak, cadangan do Indonesia itu byk, tp dikuasai asing semua, kt terpaksa ngimpor, miris.

  22. brizki Says:

    sepertinya memang membutuhkan waktu, industri hasil laut harus dibenahi dari hulu ke hilir. setidaknya menteri sudah menaruh perhatian untuk ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: