Archive for Januari, 2021

Tak Pintar Tentang Uang

Januari 12, 2021

Adakah Anda diajarkan sejak kecil ilmu untuk mencari dan mengelola uang? Sangat jarang orang tua melakukan hal itu. Sejak kecil kita sudah dicekoki bagaimana untuk berprestasi di sekolah. Selalu ditekankan untuk rajin belajar, menguasai pelajaran dengan baik, berprestasi di sekolah dan harapannya jadi juara kelas. Punya nilai rapor dan nilai kelulusan yang tinggi sehingga mudah masuk sekolah favourite. Kuliah di universitas bergengsi. Harus punya indeks prestasi komulatif diatas angka tertentu sehingga mudah cari kerja. Sekolah hanya berorientasi untuk mencari kerja. Zaman dulu malah sekolah itu tujuannya untuk menjadikan anak mudah jadi pegawai negeri sipil (pns) sehingga hidup punya kedudukan, punya penghasilan tetap, punya wibawa dalam masyarakat, dan kalau sudah tua ada uang pensiun.

Itu pola pikir orang tua ketika saya mulai masuk sekolah dasar, diteruskan ke sekolah lanjutan tingkat pertama, lanjut ke sekolah lanjutan tingkat atas dan kuliah di perguruan tinggi. Tak terbersit dalam wawasan orang tua saya untuk mendidik anaknya jadi wiraswasta, atau profesi lainnya yang punya penghasilan dan gengsi melebihi pns. Walaupun bercita-cita jadi dokter, toh, dokter nantinya kerja di rumah sakit pemerintah yang notabene status kepegawaiannya jadi pegawai negeri; cita-cita jadi insinyur nantinya bekerja di kantor dinas pekerjaan umum juga jadi pegawai negeri; punya impian jadi guru jelas statusnya nanti pns; kerja di kantor bupati itu pikiran orang tua saya anaknya pasti jadi pns. Sekolah pelayaran menurut Bapak saya kalau lulus nanti dari sana kerja swasta karena kapal-kapal besar yang berlayar di laut luas itu milik orang luar negeri. Terutama dimiliki oleh bangsa Belanda kata Beliau.

Itulah mengapa setelah lulus sekolah, atau lulus kuliah tujuan utama seorang fresh graduate zaman baheula adalah mencari kerja. Mungkin hanya satu dalam 10.000 lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang mantap memilih jadi usahawan untuk menjadi mata pencahariannya, sandaran hidupnya dimasa depan.  Bila sejak sedari kecil sudah dituang paksa dengan pemikiran yang aman alias menjadi pns, sungguh sulit untuk menjadi fighter sebagai seorang wiraswasta. Pemikiran saya sudah dicetak sejak dini untuk menjadi ambtenar. Bapak dan ibu saya tidak salah. Mungkin beliau melihat dizamannya pns itu hidup terjamin walaupun dengan gaji yang pas-pasan.

Alhasil ketika anaknya lulus sekolah/kuliah gagap menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan persepsi yang dibangun orang tua. Dunia yang terbentang setelah lulus kuliah ternyata tidak tidak menawarkan jalan mulus seperti impian orang tua. Selama ini ternyata hanya seperti membangun fatamorgana.

Zaman saya sudah lewat untuk bercita-cita jadi pns. Sekarang saatnya mewariskan semangat wiraswasta ke anak. Bagaimana caranya?

Menurut beberapa referensi yang saya baca, sebaiknya mengenalkan uang kepada anak dimulai sejak dini. Cara terbaik memahami segala sesuatu adalah dengan belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Itu bisa dimulai dengan mengajak anak terlibat langsung dalam kegiatan harian yang yang berhubungan dengan uang. Misal, ibu-ibu setiap pagi membeli kebutuhan dapur. Membeli ikan, daging, sayur-sayuran dan bumbu pada pedagang keliling. Ini salah satu momen untuk mengenalkan arti uang kepada anak. Kenalkan, ajak anak untuk menawar dagangan Bapak-Bapak pedagang keliling. Jika anak berhasil menawar lebih rendah dari yang ditawarkan sipedagang, berikan uang kelebihan itu kepada dengan perjanjian harus ditabung.

Lain kali ajak anak untuk menjual sesuatu. Tetapkan harga barang itu. Bila si anak berhasil menjual dengan harga lebih tinggi dari harga yang kita tetapkan, kelebihannya berikan pada anak. Ingatkan bahwa uang itu  hasil usaha si anak. Dan sebaiknya ditabung. Bila langkah kecil ini dilakukan dengan konsisten akan memberikan dampak baik dikemudian hari. Kita sudah memberikan investasi ilmu melalui praktek kepada anak berupa kemampuan membeli, menjual dan menabung. Bayangkan jika hal ini dilakukan sejak anak berumur lima tahun, misalnya, sampai dia tamat sekolah menengah. Kemampuan ini akan jadi ilmu yang didapat si anak secara blessing in disguise. Ini jadi modal dasar dan kita telah menanamkan intuisi pedagang. Cara seperti ini sering diajarkan orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang kelontong kepada anak anak mereka. Jadi kalau anak anaknya berhasil dikemudian hari jadi pedagang sukses yang lebih berjaya dari orang tuanya, itu karena orang tua telah menanam bibit sejak dini. 

Bagaimana dengan bidang lainnya. Pada umur 12 tahun seorang bapak memberikan satu ekor sapi betina pada anaknya. Sapi akan menjadi milik si anak jika tidak dijual sampai dia lulus sekolah menengah atas. Sapi betina itu dipelihara dengan baik oleh si anak. Satu setengah tahun setelah dihibahkan kepadanya sapi itu beranak. Si anak makin tekun memelihara. Terbayang baginya jumlah sapi akan bertambah. Bapaknya memberikan motivasi. Anakan sapi itu nanti akan jadi modal si anak kalau mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Enam tahun setelah sapi dihibahkan jumlahnya menjadi tiga ekor: satu induk, dua anaknya. Sang Bapak telah menanamkan roh jiwa memperbanyak investasi kepada si anak. Ini juga cara jitu untuk anak melek uang sejak dini.  

Banyak cara sederhana untuk mengajar anak melek uang sejak dini. Baik cara mendapatkannya, mengelola maupun mengembangkannya. Di zaman internet ini apapun bisa kita dapatkan secara gratis. Bagi saya sendiri memang tidak ada pelajaran yang diajarkan orang tua secara khusus sejak dini untuk melek uang. Setelah dewasa barulah belajar sendiri cara mencari uang dan cara menyimpannya. Cara mengembangkan uang? Tidak pernah sama sekali saya belajar secara khusus. Bahkan mana liabilitas, mana investasi baru saya mengerti dalam beberapa tahun ini. Sedih sekali.

Tidak ada yang terlambat. pendiri ayam goreng KFC, Colonel Sanders baru memulai usaha ayam gorengnya saat usia 60 tahun. Sebagaimana kita tahu saat ini KFC merajai ayam goreng cepat saji di seluruh dunia. Jadi untuk belajar pintar tentang uang bisa kapan saja. Yang penting segera aksi. Sekarang juga.

  • Pada posting ini juga saya sediakan buku gratis, berupa novel klasik, “Tenggelamnya Kapal van der Wijck,”  karangan Buya Hamka.

********************************************************

Yang mendapat buku gratis berjudul, “The Richest Man in Babylon”  untuk posting What the Next. Yes, Move On, adalah: 

Untuk kepentingan pengiriman buku, mohon dikirim alamat lengkap ke: alris587@gmail.com

What the Next. Yes, Move On

Januari 3, 2021

Dulu aku mulai menulis lagi karena ada hal yang harus aku ketahui. Harus didalami dan dimengerti. Karena memang lagi butuh bidang itu untuk dipahami. Itu tentang tulisan ini. Lalu setelah tulisan itu ada satu tulisan lagi. Tentang jogging di perbatasan Indonesia dan Malaysia. Itulah tulisan terakhir aku di blog ini. Bertarikh 22 November 2018. Wadidaw….. lama nian aku tak menulis di blog ini. Dua tahun satu bulan 11 hari. Hiks. Blog aku mati suri selama itu. Kemana saja seorang Alris selama itu?

Lalu kalau saat ini aku menulis kembali pasti ada trigger yang membuat tulisan ini di awal tahun 2021. Menurut J. Haryadi ada 11 alasan orang menulis. Mungkin salah satu alasan itu yang membuat aku menulis lagi di awal tahun ini. Yaitu, menghilangkan stress. Saya ingin melampiaskan perasaan senang dan sedih aku ke dalam tulisan. Ketika sedang dilanda masalah kita dapat menuangkan perasaan ke dalam tulisan. Apalagi sedang dilanda masalah berat, yang tidak mungkin diungkapkan ke orang yang paling dipercaya sekalipun. Kalau dipendam, ditelan sendiri bisa menambah sress. Orang stress berkelebihan bisa menimbulkan pemikiran bermacam-macam. Orang patah hati berkelebihanpun bisa menimbulkan pemikiran negatif beragam-ragam. Menulis adalah salah satu bentuk pelarian positif untuk orang stress dan orang patah hati yang masih berfikiran sehat. Menulis adalah terapi.

Ada alasan lain kenapa aku harus menulis lagi. Ya, aku pengen move on. Move on dari kemalasan menulis. Move on dari persoalan hidup yang melanda. Aku pernah ditimpa prahara, pernah ditikam cinta, pernah dilemparkan badai. Tapi aku tetap berdiri. Begitulah kata Iwan Fals dalam lagunya Nyanyian Jiwa. Dan aku harus berdiri menatap masa depan dengan semangat dan berfikiran positif.  Husnuzon kepada takdir Tuhan, Allah Swt. Allâhumma anta rabbî

Masa lalu adalah kenangan. Masa sekarang adalah kenyataan. Masa depan adalah misteri. Masa lalu tak akan mungkin datang kembali. Baik dan buruk masa lalu sudah terjadi dan tak bisa dirubah. Pahit dan manis masa lalu jadikan sebagai pelajaran untuk merencanakan masa depan. Masa sekarang adalah saatnya untuk dinikmati. Jangan karena memikirkan masa lalu kita tak bisa menikmati saat ini. Sambil menjalani hidup saat sekarang kita rencanakan planning untuk masa depan. Masa kini adalah masa yang paling penting. Karena perencanaan dan tindakan masa kini akan menentukan mau jadi apa, mau seperti apa di masa depan. Jika saat ini berjuang, berusaha, bekerja keras, – dan sebagai umat beragama tentu berdoa menyerahkan hasil kerja keras kepada Tuhan yang maha segalanya. Untuk membuka pintu misteri masa depan itu saat sekarang inilah kita buat kuncinya. Semoga masa depan semuanya cerah, berjaya, gilang-gemilang.

Selamat mengenang masa lalu, menikmati masa kini dan membuat rencana untuk masa depan. Minimal dibuat planning untuk tahun 2021. Planning tahun ini sudah selesai direncanakan, ditulis, ditandatangani dan tempelkan dimana mudah untuk dilihat. Lakukan evaluasi terhadap planning tahunan secara berkala.

aku suka desain stasiun LRT ini. LRT salah satu moda transportasi yang diandalkan di masa depan.

Tersedia buku gratis berjudul, “The Richest Man in Babylon” bagi beberapa orang yang memberikan komentar untuk tulisan ini.


%d blogger menyukai ini: