Archive for Februari 21st, 2021

Aku Bukan Lilin

Februari 21, 2021

Filosofi lama mengatakan, jadilah seperti lilin. Mengorban diri sendiri untuk menerangi sekitarnya. Bagaikan pahlawan. Sinarmu membuat sekitar terang. Sinar yang membuat hangat sekitarmu. Sinar yang menerangi berbagai sudut ruangan. Indah bukan? Menyenangkan pihak lain tapi mengorbankan diri sendiri.

Bagi aku hal itu tidak akan pernah dilakukan. Aku tidak akan melalukan sesuatu hal untuk orang lain yang membuat diri aku sendiri menjadi hancur. Aku bukan martir. Setelah menjalani fase hidup yang panjang, pengalaman mengajarkan utamakanlah diri anda sebelum mempertimbangkan pikiran, saran dan kehendak orang lain. Andalah yang yang menjalani hidup untuk diri sendiri, bukan orang lain. Bukan orang tuamu, bukan anakmu, bukan saudaramu. Apalagi hanya orang lain diluar keluarga inti.

Kesannya ego aku dominan. Betul, bagi penilaian pihak luar di luar diriku. Benar untuk diriku sendiri. Kalau anda bepergian dengan pesawat terbang, sebelum take-off pramugari dan awak kabin memperagakan demo keamanan. Salah satu yang dipesankan waktu demo keamanan itu adalah selamatkan diri anda sendiri dulu sebelum menyelamatkan orang lain. Anda tidak akan bisa membantu dan menyelamatkan orang lain kalau diri anda sendiri tidak selamat. Pesannya jelas, yang pertama adalah diri kita sendiri dulu. Bagaimana anda akan membahagiakan orang lain di luar diri anda kalau diri anda sendiri tidak bahagia? Hidup ini singkat. Hidup yang singkat ini apakah mau diisi dan dijalani hanya untuk menyenangkan orang lain? Bagiku, no way. Lha, kok ini mau menurutkan orang lain demi menyenangkan orang lain? Pikiranmu lan akal warasmu nang endi, kowe waras?

Setiap individu adalah pribadi yang merdeka. Itu sudah sunatullah. Hukum alam. Berlaku bagi setiap pribadi yang dilahirkan ke dunia. Begitu dia keluar dari perut ibunya pribadi yang merdeka itu sudah diberikan bersamaan dengan kelahirannya. Kemerdekaan individu adalah given. Dia bukan taken. Kalau ada yang mengintervensi anda dalam hal pemikiran, pilihan hidup, apalagai sampai kepada tingkat pengambilan keputusan, kasihan sekali hidup anda. Aku prihatin dan sangat kasihan. Anda tidak punya kebebasan. Kemerdekaan anda dirampas. Orang lain mengatur hidup anda terlalu jauh. Anda hanya menjadi “Pak Turut” bagi orang lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti kata Pak Turut adalah orang yang selalu mengikut apa saja yang dikatakan (dilakukan dan sebagainya) orang lain. Dan itu tak boleh dibiarkan. Kalau sampai pada tingkat mengambil keputusan anda diintervensi orang lain, yakinlah hasil akhirnya anda akan mendapatkan penyesalan. Penyesalan datang tidak akan lama setelah anda menjalani apa yang anda putuskan karena intervensi orang lain. Anda harus berani melawan rasa takut membuat orang lain kecewa. Berani melawan rasa gak enakan sama orang lain.

Kita harus belajar supaya tidak takut memberikan alasan yang tidak detail ke orang lain. Biasanya orang lain selalu bertanya detail, kenapa? Pada momen seperti ini anda harus punya “mantra” versi diri sendiri. Misalnya ditanya kenapa kamu harus mengakhiri hubungan ini? Misalnya anda jawab, “saya sudah tidak nyaman, saya merasa stress dan sedih berkepanjangan karena setelah saya jalani ternyata ini bukan yang saya inginkan.” Cukup jawaban anda segitu. Stop untuk memberikan penjelasan dan alasan. Stop sampai disitu. Nggak usah capek-capek untuk memberikan alasan lain lagi.

Kalau ada pihak lain yang kecewa karena keputusan yang anda buat, itu adalah tanggungjawab dia untuk mengatur perasaan dan mengelola perasaannya sendiri. Anda selalu punya pilihan.

Setiap keputusan ada konsekuensinya. Karena ada konsekuensi itu, maka sebelum mengambil keputusan itu perlu dipikirkan matang. Mengambil keputusan tidak boleh dalam keadaan gembira. Dalam keadaan sedih. Dalam keadaan emosi. Dalam keadaan jiwa yang terluka. Dalam keadaan batin tertekan. Dalam keadaan pikiran kalut. Dalam keadaan hati tak seimbang. Keputusan diambil menuruti kata hati dan pikiran realistis. Prinsipnya adalah diri sendiri is first. Jangan meletakkan kepentingan orang lain diatas kepentingan diri sendiri. Jangan takut membuat orang lain kecewa untuk membela diri sendiri. Jangan selalu berpikir untuk menyenangkan orang lain tapi mengesampingkan diri sendiri.

Hidup itu bukan melulu soal menyenangkan dan mementingkan orang lain saja. Karena dirimu juga seorang manusia yang perlu dihargai.

Jadi masih mau jadi lilin yang diri sendiri hancur demi orang lain?


%d blogger menyukai ini: