Tak Pintar Tentang Uang

Adakah Anda diajarkan sejak kecil ilmu untuk mencari dan mengelola uang? Sangat jarang orang tua melakukan hal itu. Sejak kecil kita sudah dicekoki bagaimana untuk berprestasi di sekolah. Selalu ditekankan untuk rajin belajar, menguasai pelajaran dengan baik, berprestasi di sekolah dan harapannya jadi juara kelas. Punya nilai rapor dan nilai kelulusan yang tinggi sehingga mudah masuk sekolah favourite. Kuliah di universitas bergengsi. Harus punya indeks prestasi komulatif diatas angka tertentu sehingga mudah cari kerja. Sekolah hanya berorientasi untuk mencari kerja. Zaman dulu malah sekolah itu tujuannya untuk menjadikan anak mudah jadi pegawai negeri sipil (pns) sehingga hidup punya kedudukan, punya penghasilan tetap, punya wibawa dalam masyarakat, dan kalau sudah tua ada uang pensiun.

Itu pola pikir orang tua ketika saya mulai masuk sekolah dasar, diteruskan ke sekolah lanjutan tingkat pertama, lanjut ke sekolah lanjutan tingkat atas dan kuliah di perguruan tinggi. Tak terbersit dalam wawasan orang tua saya untuk mendidik anaknya jadi wiraswasta, atau profesi lainnya yang punya penghasilan dan gengsi melebihi pns. Walaupun bercita-cita jadi dokter, toh, dokter nantinya kerja di rumah sakit pemerintah yang notabene status kepegawaiannya jadi pegawai negeri; cita-cita jadi insinyur nantinya bekerja di kantor dinas pekerjaan umum juga jadi pegawai negeri; punya impian jadi guru jelas statusnya nanti pns; kerja di kantor bupati itu pikiran orang tua saya anaknya pasti jadi pns. Sekolah pelayaran menurut Bapak saya kalau lulus nanti dari sana kerja swasta karena kapal-kapal besar yang berlayar di laut luas itu milik orang luar negeri. Terutama dimiliki oleh bangsa Belanda kata Beliau.

Itulah mengapa setelah lulus sekolah, atau lulus kuliah tujuan utama seorang fresh graduate zaman baheula adalah mencari kerja. Mungkin hanya satu dalam 10.000 lulusan sekolah atau perguruan tinggi yang mantap memilih jadi usahawan untuk menjadi mata pencahariannya, sandaran hidupnya dimasa depan.  Bila sejak sedari kecil sudah dituang paksa dengan pemikiran yang aman alias menjadi pns, sungguh sulit untuk menjadi fighter sebagai seorang wiraswasta. Pemikiran saya sudah dicetak sejak dini untuk menjadi ambtenar. Bapak dan ibu saya tidak salah. Mungkin beliau melihat dizamannya pns itu hidup terjamin walaupun dengan gaji yang pas-pasan.

Alhasil ketika anaknya lulus sekolah/kuliah gagap menghadapi kenyataan hidup yang tidak sesuai dengan persepsi yang dibangun orang tua. Dunia yang terbentang setelah lulus kuliah ternyata tidak tidak menawarkan jalan mulus seperti impian orang tua. Selama ini ternyata hanya seperti membangun fatamorgana.

Zaman saya sudah lewat untuk bercita-cita jadi pns. Sekarang saatnya mewariskan semangat wiraswasta ke anak. Bagaimana caranya?

Menurut beberapa referensi yang saya baca, sebaiknya mengenalkan uang kepada anak dimulai sejak dini. Cara terbaik memahami segala sesuatu adalah dengan belajar langsung dari pengalaman sehari-hari. Itu bisa dimulai dengan mengajak anak terlibat langsung dalam kegiatan harian yang yang berhubungan dengan uang. Misal, ibu-ibu setiap pagi membeli kebutuhan dapur. Membeli ikan, daging, sayur-sayuran dan bumbu pada pedagang keliling. Ini salah satu momen untuk mengenalkan arti uang kepada anak. Kenalkan, ajak anak untuk menawar dagangan Bapak-Bapak pedagang keliling. Jika anak berhasil menawar lebih rendah dari yang ditawarkan sipedagang, berikan uang kelebihan itu kepada dengan perjanjian harus ditabung.

Lain kali ajak anak untuk menjual sesuatu. Tetapkan harga barang itu. Bila si anak berhasil menjual dengan harga lebih tinggi dari harga yang kita tetapkan, kelebihannya berikan pada anak. Ingatkan bahwa uang itu  hasil usaha si anak. Dan sebaiknya ditabung. Bila langkah kecil ini dilakukan dengan konsisten akan memberikan dampak baik dikemudian hari. Kita sudah memberikan investasi ilmu melalui praktek kepada anak berupa kemampuan membeli, menjual dan menabung. Bayangkan jika hal ini dilakukan sejak anak berumur lima tahun, misalnya, sampai dia tamat sekolah menengah. Kemampuan ini akan jadi ilmu yang didapat si anak secara blessing in disguise. Ini jadi modal dasar dan kita telah menanamkan intuisi pedagang. Cara seperti ini sering diajarkan orang tuanya yang berprofesi sebagai pedagang kelontong kepada anak anak mereka. Jadi kalau anak anaknya berhasil dikemudian hari jadi pedagang sukses yang lebih berjaya dari orang tuanya, itu karena orang tua telah menanam bibit sejak dini. 

Bagaimana dengan bidang lainnya. Pada umur 12 tahun seorang bapak memberikan satu ekor sapi betina pada anaknya. Sapi akan menjadi milik si anak jika tidak dijual sampai dia lulus sekolah menengah atas. Sapi betina itu dipelihara dengan baik oleh si anak. Satu setengah tahun setelah dihibahkan kepadanya sapi itu beranak. Si anak makin tekun memelihara. Terbayang baginya jumlah sapi akan bertambah. Bapaknya memberikan motivasi. Anakan sapi itu nanti akan jadi modal si anak kalau mau melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Enam tahun setelah sapi dihibahkan jumlahnya menjadi tiga ekor: satu induk, dua anaknya. Sang Bapak telah menanamkan roh jiwa memperbanyak investasi kepada si anak. Ini juga cara jitu untuk anak melek uang sejak dini.  

Banyak cara sederhana untuk mengajar anak melek uang sejak dini. Baik cara mendapatkannya, mengelola maupun mengembangkannya. Di zaman internet ini apapun bisa kita dapatkan secara gratis. Bagi saya sendiri memang tidak ada pelajaran yang diajarkan orang tua secara khusus sejak dini untuk melek uang. Setelah dewasa barulah belajar sendiri cara mencari uang dan cara menyimpannya. Cara mengembangkan uang? Tidak pernah sama sekali saya belajar secara khusus. Bahkan mana liabilitas, mana investasi baru saya mengerti dalam beberapa tahun ini. Sedih sekali.

Tidak ada yang terlambat. pendiri ayam goreng KFC, Colonel Sanders baru memulai usaha ayam gorengnya saat usia 60 tahun. Sebagaimana kita tahu saat ini KFC merajai ayam goreng cepat saji di seluruh dunia. Jadi untuk belajar pintar tentang uang bisa kapan saja. Yang penting segera aksi. Sekarang juga.

  • Pada posting ini juga saya sediakan buku gratis, berupa novel klasik, “Tenggelamnya Kapal van der Wijck,”  karangan Buya Hamka.

********************************************************

Yang mendapat buku gratis berjudul, “The Richest Man in Babylon”  untuk posting What the Next. Yes, Move On, adalah: 

Untuk kepentingan pengiriman buku, mohon dikirim alamat lengkap ke: alris587@gmail.com

4 Tanggapan to “Tak Pintar Tentang Uang”

  1. Rudi G. Aswan Says:

    Saya ingat pas kecil ya sama sekali enggak mendapat pelajaran seputar keuangan, apalagi wirausaha. Maklumlah di desa anak-anak diproyeksikan jadi pegawai kantoran, lebih-lebih jadi PNS itu sungguh bergengsi dan dimuliakan. Walhasil, saya sempat gagap menghadapi hidup saat dewasa karena selama sekolah selalu dituntut bagus soal prestasi akademik saja. Syukurlah saat kuliah teman-teman mulai beragam dan sadar bahwa kuliah sebenarnya cara lain mengenali kekuatan, tambah pengalaman, dan cari peluang sesuai potensi. Sisanya ya apa yang ada sekarang deh saya jalani.
    Kalau untuk anak-anak, kebetulan mereka suka menggambar dan beberapa kali dapat hadiah baik uang ataupun barang dari lomba. Mereka tabung dan jadi paham cari uang bisa beragam dan ternyata ga gampang. Jadi mereka menghargai setiap recehan yang kami miliki. Saya sendiri bukan ahli soal keuangan apalagi ekonomi, bisnis kopi ya masih terhenti, jadi cuma bisa saling menyemangati aja, Da!

    @ Rudi G. Aswan
    Sebagian bahan posting ini memang pengalaman saya sendiri, Kang Rudi. Sejak kecil saya diplot supaya jadi pns. Bersekolah juga dipacu untuk berprestasi secara akademik. Setelah lulus kuliah ternyata kenyataan tak sebagus impian. Saya minta maaf ke ortu karena harapannya tak terpenuhi.

    Sangat penting menurut saya untuk menanamkan semangat menghargai uang sejak dini. Ditanamkan semangat cari uang dan menabungnya.
    Sekarang saatnya menyemangati anak-anak untuk berani punya jiwa wirausaha.

    Tentang bisnis memang harus punya jiwa pejuang sejati, tak gampang menyerah. Saya baca kisah para pemenang, maksudnya orang-orang sukses. Mereka sering gagal disatu bisnis lalu beralih ke bisnis lain. Kejadian itu bukan cuma sekali, tapi berulang. Saya yakin Kang Rudi nanti akan ketemu bidang usaha yang akan memberikan kejayaan. Terus berusaha. Never give up.

  2. maipura Says:

    saya juga tidak terlalu pintar tentang uang, apalagi mengelola uang. saya tahu kita harus mempersiapkan dana untuk masa depan. tapi buta soal bisnis. jadi ya masih klasik aja. ditabung. 🙂

    untuk pembelajaran keuangan kepada anak-anak, saya belum bisa komentar, soalnya belum punya bocah.. heheh

    @ maipura
    Ayo mulai berani mengambil resiko dengan membangun usaha. Jatuh bangun itu hal biasa. Yang penting setiap kali jatuh harus bangun lagi. Jumlah bangkitnya harus dua kali lipat dari jatuhnya, pasti berhasil.

    Ayo segera nikah membangun rumah tangga.

  3. Alvi Alevi Says:

    Sebenarnya blogger itu wiraswasta juga bukan sih kalau memang tujuannya untuk mencari uang?

    @ Alvi Alevi
    Saya pikir termasuk wiraswasta, kalau memang dia menjadikan profesi blogger sebagai mata pencahariannya.

  4. Yudhi Hendro Says:

    Saya juga sedang menekuni bisnis bang di usia 49 thn. Mencoba bisnis setelah 20 thn jd karyawan swasta. Niat saya ingin lebih manfaat buat banyak orang dan terinspirasi hadits nabi Muhammad , bahwa 9 dari 10 Ponti rezeki ada di perniagaan.

    @ Yudhi Hendro
    Mantab, mas Yudhi. Saya doakan usahanya lancar dan berjaya. Memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat banyak.
    Saya investasi di ternak. Belum berani ambil resiko lebih besar, hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: